Rabu, 01 Mei 2013

KRISIS KEUANGAN



Pengenalan
Informasi adanya suatu peristiwa tertentu dapat mempengaruhi masyarakat dalam bersikap. Pada prinsipnya, suatu informasi yang membawa kabar baik (good news) akan membuat seseorang lebih rasional, sebaliknya informasi yang membawa kabar buruk (bad news) akan memicu irasional, karena hilangnya ketenangan. Krisis keuangan tidak bisa dihilangkan potensinya, tetapi hanya bisa ditekan, sedangkan kepanikan hanya akan memperparah keadaan. Aktivitas suatu sector perekonomian tidak terlepas dari sector-sektor perekonomian lainnya, sehingga kebijakan yang berkaitan langsung dengan sector tersebut akan berimbas pada perekonomian secara makro (Setyawan, 2006).

Instanbilitas dan krisis
Fluktiasi merupakan hal yang biasa dan tidak perlu ditakuti. Masalahnya, fluktuasi yang tajam menimbulkan kepanikan dan akan memicu ketidak rasionalan (mulai mengandalkan naluri) dalam berfikir dan menghadapi  suatu hal yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya instabilitas. Ketidakstabilan yang tidak bisa dikendalikan lagi merupakan pemicu krisis.

Pepatah lama mengatakan jika sistem keuangan semakin besar, maka resiko terjadinya krisis juga semakin besar. Hal itu dikarena sistem kuangan merupakan media tranmisi yang efektif untuk melahirkan gejilak dan krisis. Dalam bab sebelumnya telah disinggung bahwa sistem keuangan merupakan jantung perekonomian suatu negara, dan perekonomian merupakan darah serta makanan dan minuman suatu negara, maka ketika jantung tersebut terinfeksi maka sendi0sendi lainnya akan terkena efeknya secara signifikan. 

Mengapa banyak perusahaan besar colaps pada tahun 1999? Krisis keuangan ditandai dengan depresiasi nilai tukar yang tajam. Menurut (Forbes, 2002) suatu negara mengalami krisis jika nilai tikar terdepresiasi sebesar 10% terhadap US$ . hal tersebut hanyalah sebagai alarm yang membuat para stake holder berhati-hati dan antisipasi, terutama otoritas.  Sejarah telah membuktikan bahwa yang pertama kali diserang oleh krisis adalah nilai tukar.  (Kamunshg dkk, 1998) mengatakan bahwa krisis merupakan serangan pada nilai tukar yang menyebabakan depresiasi tajam pada nilai tukar, dan untuk menyikapinya menyebabkan penurunan drastis dalam cadangan devisa (ingat bab sistem keuangan). Sejarah Indonesia tahun 1998, mengukir peristiwa serangan pada nilai tukar yang mengahabiskan cadangan devisa negara, sehingga pada saat itu otoritas tidak bisa melakukan Operasi Pasar Terbuka (OPT). dampaknya, permainan spekulan di Indonesia semakin berani, gejolak krisis semakin menjadi. 

Dinamika perekonimian mudah merembet peda krisis nilai tukar. Hot money yang masuk dalam jumlah besar dan ditarik secara tiba-tiba, memperparah kelumpuhan perekonomian yang pada saat itu sudah kritis! Itulah yang menciptakan kebencian terhadap George Soros tahun 1999. Kronologi: ketika  investor berinvestasi di Indonesia, maka mereka menjual Dolar untuk membeli Rupiah, sehingga rupiah terapresiasi. Namun  ketika investor tersebut kembali ke negaranya, maka mereka menjual Rupiah untuk mendapatkan Dolar, sehingga Rupiah terdepresiasi ( ingat, apresiasi dan depresiasi disebabkan oleh permintaan dan penawaran uang). Implikasinya, kegiatan dalam sector keuangan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan di sector Riil, apresiasi nilai uang menyebabkan biaya input jika menggunakan bahan baku impor akan mengalami kenaikan. Tidak hanya itu, jika terus dibiarkan, implikasinya akan terus meluas. Selain menyerang harga output, kondisi depresiasi tersebut juga akan memunculkan kerawanan / vulneralbility  spekulasi dalam memainkan (tukar) Rupiah yang dampaknya depresiasi akan semakin tajam.
Seperti halnya saat ini, fenomena kabar kenaikan BBM serta kabar penetapan dua harga memicu masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dengan menimbun BBM dan menjualnya pada saat harga sudah dinyatakan naik.  Kerawanan adalah ketika ada sesuatu yang tidak baik tersebar secara cepat sehingga menyebabkan hal lain bergerak kea rah yang kebih tajam (Dombursch, 1997). Seperti halnya jika seseorang terdampar dipulau asing, tanpa bekal, kondisi buruk tersebut akan lebih parah jika disertai kepanikan! Sebelum membayangkan terdampar terlalu jauh, sekali lagi perlu ditekankan bahwa yang sangat berpotensi dalam menciptakan kerawanan dalam perekonomian adalah sistem keuangan dan nilai tukar! 

Peristiwa apa yang paling dikenang oleh stake holder bisnis  pada tahun 2008?  Adalah krisis financial atau  yang disebut sebagai krisis kredit atau the credit crunch.  Pada mulanya, bank menyimpan sertifikat tanah, untuk mempermudah masyarakat mendapatkan rumah, maka diterbitkanlah instrument keuangan derifatif suprime yang diskuritisasi menjadi berbagai macam instrument.  Maka ketika instrument keuangan utama jatuh, harga jaminan juga ikut jatuh, akhirnya suprime mortgage menjadi instrument sampah! Tidak ada harganya. Krisis tersebut mulai dicium masyarakat  pada pertenganhan tahun 2007 ketika investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap nilai skuritas mortgage (perumahan standar rendah) di amerika serikat yang berakibat pada krisis likuiditas dan memicu jatuhnya harga saham di seluruh dunia. Puncaknya terjadi pada September 2008 yang ditandai kepanikan para investor dengan melakukan penarikan dana investasi demi melindungi dananya setelah melihat kebangkrutan beberapa lembaga keuangan raksasa dunia. Hal tersebut turut memicu kekawatiran para pelaku pasar karena permasalahan lembaga keuangan akan berdampak pada melemahnya kegiatan perekonomian.  untuk Indonesia sendiri yang mana nilai tukar diserahkan pada pasar (mengambang bebas), sehingga ketika devisa naik maka nilai tukar juga akan naik, spekulasi rendah. Pada saat ini, devisa Indonesia relatif santa besar.

Pada tahun tersebut (2008), ketika pasar keuangan lesu akibat tekanan jual asset keuangan yang menyebabkan harga instrument jatuh. Pemerintah meminta BUMN yang over cash diantaranya BRI, Mandiri, Semen Gresik (sekaranga semen Indonesia), Telkom melukan buy back. Sehingga harga disinyalir akan naik, menyebabkan expectasi investor turut naik dan kondisi keuangan kembali normal.

Financial Instability
Financial Instability merupakan perbahan pada harga asset keuangan. Perubahan yang sangat menonjol di luar kewajaran secara signifikan akan menimbukan instabilitas. Ekspectasi yang sehat dibangun oleh informasi yang benar dan rasional. Jika investor berexpectasi berlebihan tanpa didasari informasi yang dapat dipertanggung jawbkan  dan menyebabkan harga instrument keuangan naik karena kenaikan permintaan, maka ketika kebenaran terungkap dan instrument jatuh, maka apa yang terjadi? tidak hanya kerugian material. Untuk itulah expectasi harus rasional! Tidak under atau over expect.

Stabilitas Sebagai Barang Publik
Negara harus menjaga kestabilan, karena merupakan kebutuhan public. Sebagai akibat krisis 2008, pemerintah Jerman mengurangi barbagai jenis subsidi. Tidak lain karena implikasi dari sistem keuangan AS yang porak poranda. 

Dalam dunia keuangan, factor spekulasi, mavia serta ekspektasi berlebihan merupakan hal yang bisa mengganggu stabilitas harga, tingkat produksi / investasi sehingga mengganggu kemakmuran bersama. Seperti peristiwa perselisihan antara Amerika dengan Iran ( selat orbus),ancaman untuk menutup selat Orbus menimbulkan spekulasi harga minyak yang luar biasa besar. Orang membeli bukan karna harga tetapi karena spekulasi. Sayangnya, seringkali ketika masyarakat sadar, kondisi sudah sedemikian buruk, harga sudah terlanjur colaps. Sedangkan, perilaku investor pro-siklus (follower).

Stabilitasi sector keuangan (intermediasi keuangan dalam perekonomian)dibutuhkan agar pasoka capital (sirkulasi capital) agi sector lain bisa terjaga, karena tidak ada sector apapun yang bisa bernafas tanpa dana, uang sangatlah penting! 

Sector keuangan akan menentukan stabilitas makro ekonomi, pertumbuhan perekonomian pemerintah untuk subsidi, membangun infrastruktur, pengentasan kemiskinan dan pengagguran, semua berdampak pada kemakmuran masyarakat dan bangsa. Hal tersebut bisa dilihat dari dampak inflasi dari melemahnya kesehatan ekonomi makro hingga pengurangan karyawan. Untuk Indonesia sendiri, pernah MA membuat keputusan untuk mempidana pengusaha yang membayar gaji pegawai di bawah UMK, dan menetapkan pemberian pesangon sekian kali lipat jika perusahaan memutuskan hak kerja.

Hegemoni Keuangan
Perekonomian dunia tunduk pada pemodal. Hegemoni keuangan terjadi akibat globalisasi pasar keuangan diregulasi pasar domestic, Inovasi produk instrument keuangan. Schumpeter berpendapat bahwa resesi dan krisis  sebagai bagian yang biasa bahkan permanen dalam sistem ekonomi kapitalis, biarlah keseimbangan baru akan dibentuk oleh infisible hand. Schumpeter juga berpendapat bahwa dinamika tersebut bukan diakibatkan oleh factor eksternal malainkan factor endogen (sikap). Setiap orang memiliki naluri yang sama untuk menjadi orang baik atau sebaliknya.



Sumber : diskusi kelas Pasar keuangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar