Senin, 07 Juli 2014

Kekasih



1# 
Kekasih,
Kurasa kuat ikatan batin kita
Hingga dalam masa sulitku,
Aku pun merasakan getar syahdu
Ratapanmu pada Tuhan..

Kekasih,
Nikmatilah semua yang kini tengah kau lakukan,
Sebab ia mengantarmu pada sungai yang menyejukkan..
Hiruplah aromanya,
Kemudian bawalah ia kemanapun dirimu melangkah..
jagalah ia bersama kepala, hati dan jiwamu..
agar lembah hitam tak melakukan apa-apa
kecuali menangis kalah menatap tumit retakmu yang lembut..

kekasih,
biarlah dunia enggan menyapa mu, menyapa ku, menyapa kita..
bukankah kita tidak membutuhkkannya?
Bukankah  kita di bawah pengawasan Sang Maha Mengawasi?
Adakah yang mampu menandingi-Nya?

Maka kekasihku,
Sehebat apapun pandangan sinis berusaha meluluh lantahkan ketegaran
Jangan pernah kau menyerah padanya
Tetaplah, berjalan diatas garis yang lurus, dan bawalah aku
Bukankah kita tahu, kekasihku..
Bahwa semua permata yang kasat adalah fana,
jika yang tersembunyi bukanlah apa-apa

Nikmatilah, kekasihku. Nikmatilah..
Tiap munajatmu pada-Nya..
Nikmatilah dengan air mata keteduhan
Dengan detak ketenangan..

Sebab,
Tak ada sakit yang mengkawatirkan
Tak ada bahaya yang menakutkan
Tak ada luka yang melumpuhkan
Tak ada kekalahan yang mengahancurkan..
Selain yang menjauhkan mu dan kekasihmu pada-Nya.. 

2#

Kekasihku,
Adakah yang lebih menyembuhkan
Dari secangkir sapaan hangat
Untuk para penderita kesunyian?

Ah, kau tidak perlu melumatkan perasaanmu
Dalam tanya semu yang mengenaskan,
Bukankah kita makhluk bertuhan?
Yang menyimpan kitab penyembuh segala luka?

Dan kekasihku, bukankah kita selalu disapa-Nya?
Lewat waktu,,
Dan juga siklus-siklus dalam kehidupan?
Juga kenikmatan-kenikmatan yang harus disyukuri
Yang seringkali kita kufuri,

Kekasihku, katakan padaku,
Bagaimana mungkin seseorang yang baik
Menertawakan air mata kepedihan orang lain?
Bagaimana mungkin seorang mulia
Memulangkan pesakitan dengan penderitaan?

Kekasihku, bukankah selalu ku katakan pada mu
Bahwa hidup adalah menghadapi masalah,
Menggores senyum pada kepedihan,
Mengubah tangis menjadi tawa anggun,
Dan yang terpenting adalah,
Menghapus dosa dengan amal,
Dan mencegahnya dengan ibadah..

Aku mencintai mu, mencintai mu
Aamiin aamiin aamiin

Semoga tak Berulang



*1
Dosa perasaan memberiku tarian pada jemari,
dan pekikan air mata yang tertahan dalam muka sujud.
Aku mengartikannya sebagai sebuah rekaman dosa,
saat aku mengabaikan keharusan yang haqiqi,
yang tersimpan pada lebaran suci yang agung,
yang tak tersentuh jemari rapuhku,
juga tak tampak pada setiap kali kelopak mataku terbuka..

bagaiman dosa bisa ku lihat sebagai tarian yang menakjubkan?
Apa karena bisikan yang tajam tak disadari?
Ataukah sesuatu yang aku mainkan sendiri?

Tuhan..
Bolehkah aku menyalahkan yang tecipta dari api-Mu?
Ataukah aku hanya boleh memukuli gerak
Yang tengah melempar ku menuju jurang tanpa dasar?
Yang di dalamnya menyala api yang tak pernah terpikirkan..

Ataukah hanya kedangkalanku yang patut disalahkan?

Tuhan…
Aku ingin berlari, bersimpuh, meraung..
Meratapi gambaran masa lalu
Yang mengusik ketenangan batin.
Yang mengutuk kelemahan spiritual..
Juga menangisi masa depan
Jika ampunan-Mu tak ku dapati..

Ya Tuhan..
Sentuhlah hati ku yang tandus..
Siramilah dengan hidayah-Mu selalu..
Janganlah kau tinggalkan aku, Tuhan…

Tuhan, bimbinglah hamba-Mu menuju jalan yang lurus..
Ampunilah, maafkanlah…
Sebelum waktu yang dimaklumi
Menjemput jiwa penuh dosa…

Aamiin aamiin aamiin….

*2
Ketika tangan kebenaran merengkuhmu,
Dengan lengannya yang bergetar,
Lalu, membisik sebuah pesan keselamatan,
Tentang pembebasan para pendosa,
Bagaimana mungkin kau tetap menikmati sangkar yang lalu?
Tempat mu bermain api?
Dan, membiarkan aturan menampar wajah yang hina untuk kedua kalinya?
 
Dengarlah,,
Kesenangan duniawi hanyalah ilusi semu
Pengeras hati, pemalsu rasa,
Yang rayuannya membutakan mu dari keindahan yang kekal.
Yang memalingkan mu pada Pemilik keindahan Yang Esa
Yang kini membuat mu merangkak, mengais ampunan

Apakah kau akan terus membiarkan bara itu melelehkan mu
Membuat mu terombang-ambing di antara para bisik?

Tidakkah kau rasakan hati yang terbakar rasa takut?
Kau hampir kehilangan masa penuh kesempatan

Tidakkah kau sadari?
Bahwa bukan waktu yang harus berbalik arah..
Melainkan langkah yang harus menghapus coretan hitam
Kemudian menggantikannya dengan yang putih

Lelaki Patah Hati



Dia tetaplah Fathi, salju yang mengagumkan di puncak Himalaya. Bukan, dia bahkan tidak pernah ke tempat itu dia lebih sering mengganggu ketenangan hatiku. dia adalah kebodohan dan keburukanku, bergaris senyum manis, periang,  seorang yang cerdas diantara yang aku kenal waktu itu. Pandangan mempesona adalah pandangan yang sepertinya. Senyum manis adalah senyum yang melukis garis bibirnya. inilah perpisahaan yang membuatku berfikir. dia yang akan selalu tinggal dihatiku. Orang baru yang mungkin akan datang bukanlah seorang pengganti, melainkan pelengkap taman. 

Aku dan dia adalah dua karakter yang seharusnya sulit untuk diserasikan. Hampir tidak ada yang percaya bahwa kita pernah menjadi sejoli yang dekat, lebih dekat antar jarak alis dengan garis kelopak mataku. Cinta yang berjalan tanpa sentuhan, tanpa sentuhan kecuali rasa yang melebur dari dua hati yang berbeda. Hatinya menyentuh hatiku, dan aku melelehkan perekat diantaranya, sebuah jebakan yang lebih sering melukis badai musim salju dari pada rumput hijau di musim semi.

Aku tidak cukup cerdas untuk menjual hatiku dengan harga yang mahal. Kepergiannya membuat sesuatu di balik rusukku terasa sakit. Banyangan siluet tubuhnya adalah kesakitan yang membuat lapar lukaku. Bahkan aku tidak mampu menghibur ingatanku sendiri, dia yang membuat hatiku berhenti terbuka.

Harusnya aku menuruti permintaannya sebelum keterlambatan ini terjadi. Penyesalan pertamaku adalah ketika aku terlambat menyadari bahwa aku terlalu peduli pada perasaan yang lebih layak disebut mimpi kekanak-kanakan dari pada sebuah rancangan. Kebodohan pertama adalah ketika dia memintaku memutar otak untuk perpisahaan yang akan menjadi sebuah keindahan, permintaan tulus yang aku tolak karena keegoisan seorang pria, naluriku mendorongku untuk lebih memilih ketakutan akan kehilangan kisah manis walau ku tahu kita tidak mungkin tidak mampu melewatinya, dari pada pilihan apapun yang ditawarkan.

Aku memelihnya sebagi cinta pertama, juga cinta yang tidak bisa hilang. Yang selalu menemani cinta-cinta baru setelahnya, cinta cinta yang berakhir dengan tragis dan tangis. Aku tidak pernah mencoba untuk melukai cinta-cinta yang mengunjungi hatiku, aku hanya merasa mereka tidak cukup menjadi penyembuh. Aku harus menemukan sosok yang sepertinya. Fathi, sosok yang sampai sekarang gagal aku temukan lewat rajukan gadis-gadis manja yang mengelilingi gedung gedung tua gubuk imajinasiku.