Aku tahu,
waktuku semakin dekat. Dokter Adam bilang, ini sudah mencapai garis keajaiban,
karena berdasarkan fonis, seharusnya, lebih dari satu tahun yang lalu aku sudah
tidak berada di dunia ini, menikmati sesaknya kota Jakarta, atau bertemu dengan
gadis kesayanganku, Fati. Ah, aku rasa dokter itu memang tidak layak
menyelipkan kata “seharusnya” sebelum kalimat yang berarti kematian, dia bukan
Tuhan dan aku pikir semua kejadian yang menemani setiap langkah hidupku memang
runtutan keajaiban Tuhan. Semua terkesan istimewa, benar kata Fati, aku seorang
yang special…
Dan yang
terpenting adalah, aku melakukan beberapa hal yang benar, sebelum ajal itu
tiba. Tentu aku sangat bersyukur atas kesempatan Tuhan tersebut. meskipun saat
ini, aku hampir tidak bisa mengerakkan persendianku. Lemas sekali rasanya, tak
apalah, aku siap jika fonis dokter-dokter itu benar, aku akan lumpuh sebelum
meninggal. hahaha, izinkan aku menambahnya dengan kalimat “atau mungkin aku
akan meninggal sebelum fonis mengerikan itu terjadi”. Yayaya, aku tidak harus
menjadi manusia cengeng dalam kasus ini. bertahun-tahun aku berteman dengan
kata-kata bijak, dan sekarang, aku harus berteman lagi dengan mereka.
Tadinya, aku
pikir Fati akan mengais sambil memelukku. Benar-benar pikiran sinting, gadis
itu tidak akan melakukannya pada lelaki siapapun, termasuk aku, sekalipun jika
aku memanfaatkan sekaratku! Bahkan, dia terlihat enggan menerima pegangan
tanganku, meskipun kain panjang itu menutup hampir sampai ujung jari-jarinya.
Aku sangat
senang, dia masih ingat menu kesukaan kami dulu, selai kacang. Ah, aku hampir
lupa mengingat aroma itu, satu-satunya hidangan yang mampu dia sajikan dengan
cita rasa sempurna. Selama aku
mengenalnya di panti, dia memang tidak
pernah akhrab dengan dapur. Kita lebih suka menyiram sayuran di ladang atau
memetik buah di kebun.
Selain
tentang astronomi, kita juga memiliki mimpi lain yang sama, tepatnya sebuah
kesepakatan kecil. Aku ingat betul percakapan kita sekitar tiga belas tahun
yang lalu, ketika kita rebahan di bawah pokon apel kesayangan kita. aku
penasaran dengan isi lamunannya, matanya menatap jauh ke langit. Lalu aku
beranikan diri untuk menanyakannya.
Dia
memiringkan kepalanya dan menatapku. “ Loe, kau tahu, nenekmu bilang, aku
ditemukan setelah kebakaran hebat menghabiskan seluruh pemukiman padat di salah
satu sudut pinggiran kota, semua keluargaku meninggal bersama tetanggaku yang
lain. Saat itu aku masih bayi, sehingga aku belum bisa mengingat apapun. Dan
saat ini Loe, aku sedang memikirkan kisah cinta ayah dan ibuku sebelum aku
lahir. Aku membayangkan Ibu selalu menggu kepulangan ayah dari kantornya,
menyiapkan hidangan lezat yang selalu ayah rindukan. Mereka makan bersama
setiap malam dan pagi, berangan-angan tentang masa depan keluarga kecil kami
sambil menyiapkan nama yang indah untukku”.
Fati
tersenyum manis padaku, kemudian dia beranjak dan menarik tanganku sampai kita
sama-sama berdiri. “Aku punya ide Loe!” katanya dengan wajah berbinar, matanya
membulat, mulutnya terbuka, aku seperti melihat ada bola lampu yang menyala
disamping pelipisnya. “Kau tahu, aku benci makanan di luar karena meskipun
mahal, aku tidak yakin makanan itu sehat”
“ya, aku
tahu Fati, kau pernah mangatakannya padaku” jawabku sambil menunggu kalimat
selanjutnya darinya.
“Kalau aku
sudah menjadi dewasa dan menikah nanti, aku akan membuat ladang di belakang
rumah” lanjutnya sambil menunjukkan ekspresi berharap dengan menatap langit.
“Aha! Aku
akan memilih tempat yang jauh dari bising kota untuk rumah kita nanti, sebuah
rumah kecil yang lengkap dengan kebun buah, dan ladang, kau akan merawatnya
sambil menikmati udara segar tanpa polusi dan aku akan menjadi dokter yang
selalu ingin pulang dan menemuimu, aku berjanji, tidak akan melewatkan makan
malam seharipun denganmu”. Kataku dengan antusias.
“Kau keren
Loe, dan aku akan menyiapkan juice buah setiap pagi, membuat sandwich selai
kacang kesukaan kita dan mengantarmu sampai pagar rumah. Hati-hati Loe, jangan
pulang terlambat ya, hahaha” dia tertawa
sambil melambaikan tangan, seolah-olah mimpinya sedang terwujud saaat itu juga,
kemudian kita berjingktak-jingkrak sambil terus mengimajinasikan rencana masa
depan. “kita tidak melupakan sesuatu kan Loe?” katanya dengan nada memancing.
Kita saling menatap, kemudian …..
“Perpustakaan!!”
teriak kita bersamaan lalu saling menatap kembali dan tertawa bersama.
“aku akan
menyisishkan sebagian dari gajiku untuk membeli buku dan mengisi perpustakaan
kecil kita. Fati…. Kita akan menghabiskan waktu di perpus, membacakan cerita
untuk anak kita, kemudian ketika mereka sudah besar, kita akan mengajarinya semua
hal yang kita tahu, berdebat, bertukar ilmu. Anak kita akan menjadi anak-anak
yang cerdas, seperti Ibunya”
“Seperi
ayahnya! Kau yang sering mengajariku, bukan aku yang mengajarimu dan kau juga sekolah
di sekolah favorit Loe, sedangakan aku? huh” bantahnya dengan muka cemberut,
namun sejurus kemudian kembali berbinar. “aku ingin menjadi wanita karier dan
membantumu mengumpulkan buku” lanjutnya sambil menaik-turunkan alis.
“Kau tidak
boleh bekerja sampai anak kita lulus SD” Hardikku.
“maksudku,
sebelum kita punya anak, aku akan menjadi wanita karier, dan kau menjadi
Dokter. Aku akan mejaga anak-anak kita sampai tumbuh.”... “ Setelah
mereka siap melangkah sendiri, aku akan menjadi dosen Fisika! Itu tidak akan
membuatku kelelahan” kita kembali berjingkrak-jingkrak sambil tertawa riang,
terlihat polos, tanpa beban. I WANT “MY
TIME” BACK
I FEEL like so much older than I
actually am. Pikiran
kita memang jauh lebih dewasa dari umur kita. ketika anak-anak lainnya masih
memimpikan kapan membeli rumah Barbie, atau memamerkan koleksi mobil-mobilan
terbaru. Aku dan Fati sudah memikirkan bagaimana kita menjadi keluarga. Sekali
lagi, aku benar-benar mengagumi gadis itu Tuhan. Meskipun kesepakatan kecil
kami itu tidak akan pernah terwujud, aku harap dia bisa mewujudkannya dengan
pria pilihannya nanti. Aku sering merenungkannya, kita seperti memiliki pikiran
yang sama. Kecintaan terhadap Fisika, Astronomi, luar angkasa, dan
kesepakatan kecil itu.. aku dan dia bahkan menyebutnya dengan istilah kita,
anak-anak kita, rumah kita, ladang kita… ah! Tuhan…
Dan masihkah
kau seperti dulu Fati, bermimpi untuk menyiapkan juice buah setiap pagiku?
Melepaskan dasiku dan memberi kecupan selamat malam menjelang tidurku? Ah dua
kalimat terakhir itu tentu hanya fantasiku sendiri! Tapi aku yakin, sangat
yakin Fati, kaupun ingin aku yang membangun rumah itu, kau juga berharap bahwa
akulah pria itu, pria yang disiapkan Tuhan untuk menjagamu, dan menemanimu.
Aku tahu
Fati, dibalik wajah riang yang kau tunjukkan padaku saat ini, saat reuni
pertama kita setelah lima tahun berlalu, ada air mata yang tidak bisa kau
sembunyikan dariku, meskipun tidak terlihat.
Karena kaupun
membuat pengakuan yang paling aku sukai bahwa aku adalah pria yang sebenarnya
kau inginkan Fati, tapi Tuhan menakdirkan yang lain… kau benar, kita harus
menerimanya.. ikhlas, karena Tuhan akan menghadiahkan kado yang jauh lebih
manis dalam hidupmu setelah kepergianku, pria itu pasti lebih hebat dariku..
dan anak-anakmu nanti akan menjadi anak-anak yang jauh lebih cerdas dari yang
pernah kita impikan.
Dan Fati, semoga
Dia juga memberiku kado yang sama indahnya dengan yang Dia berikan untukmu,
tempat tinggal yang jauh lebih manis dari yang pernah kita impikan, sebuat
tempat nyaman yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya, dan itu kekal… doakan
aku Fati. Bawa setiap yang pernah aku bagikan untukmu dalam setiap langkamu
Fati, buatlah agar semua itu mengalir
dalam sungai amalku…
Sebenarnya, aku takut Fati. Karena seperti yang pernah kau
bilang, manusia suka tidak menyadari kesalahan yang ia perbuat, aku takut seperti itu, membuat Tuhan marah
tanpa aku sadari. Ah sudahlah… toh inipun akan tetap terjadi padaku, pada semua
orang….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar