Rabu, 10 Juli 2013

Masihkah?


Aku tahu, waktuku semakin dekat. Dokter Adam bilang, ini sudah mencapai garis keajaiban, karena berdasarkan fonis, seharusnya, lebih dari satu tahun yang lalu aku sudah tidak berada di dunia ini, menikmati sesaknya kota Jakarta, atau bertemu dengan gadis kesayanganku, Fati. Ah, aku rasa dokter itu memang tidak layak menyelipkan kata “seharusnya” sebelum kalimat yang berarti kematian, dia bukan Tuhan dan aku pikir semua kejadian yang menemani setiap langkah hidupku memang runtutan keajaiban Tuhan. Semua terkesan istimewa, benar kata Fati, aku seorang yang special…

Dan yang terpenting adalah, aku melakukan beberapa hal yang benar, sebelum ajal itu tiba. Tentu aku sangat bersyukur atas kesempatan Tuhan tersebut. meskipun saat ini, aku hampir tidak bisa mengerakkan persendianku. Lemas sekali rasanya, tak apalah, aku siap jika fonis dokter-dokter itu benar, aku akan lumpuh sebelum meninggal. hahaha, izinkan aku menambahnya dengan kalimat “atau mungkin aku akan meninggal sebelum fonis mengerikan itu terjadi”. Yayaya, aku tidak harus menjadi manusia cengeng dalam kasus ini. bertahun-tahun aku berteman dengan kata-kata bijak, dan sekarang, aku harus berteman lagi dengan mereka. 

Tadinya, aku pikir Fati akan mengais sambil memelukku. Benar-benar pikiran sinting, gadis itu tidak akan melakukannya pada lelaki siapapun, termasuk aku, sekalipun jika aku memanfaatkan sekaratku! Bahkan, dia terlihat enggan menerima pegangan tanganku, meskipun kain panjang itu menutup hampir sampai ujung jari-jarinya. 

Aku sangat senang, dia masih ingat menu kesukaan kami dulu, selai kacang. Ah, aku hampir lupa mengingat aroma itu, satu-satunya hidangan yang mampu dia sajikan dengan cita rasa sempurna. Selama aku mengenalnya di panti,  dia memang tidak pernah akhrab dengan dapur. Kita lebih suka menyiram sayuran di ladang atau memetik buah di kebun.  

Selain tentang astronomi, kita juga memiliki mimpi lain yang sama, tepatnya sebuah kesepakatan kecil. Aku ingat betul percakapan kita sekitar tiga belas tahun yang lalu, ketika kita rebahan di bawah pokon apel kesayangan kita. aku penasaran dengan isi lamunannya, matanya menatap jauh ke langit. Lalu aku beranikan diri untuk menanyakannya.  

Dia memiringkan kepalanya dan menatapku. “ Loe, kau tahu, nenekmu bilang, aku ditemukan setelah kebakaran hebat menghabiskan seluruh pemukiman padat di salah satu sudut pinggiran kota, semua keluargaku meninggal bersama tetanggaku yang lain. Saat itu aku masih bayi, sehingga aku belum bisa mengingat apapun. Dan saat ini Loe, aku sedang memikirkan kisah cinta ayah dan ibuku sebelum aku lahir. Aku membayangkan Ibu selalu menggu kepulangan ayah dari kantornya, menyiapkan hidangan lezat yang selalu ayah rindukan. Mereka makan bersama setiap malam dan pagi, berangan-angan tentang masa depan keluarga kecil kami sambil menyiapkan nama yang indah untukku”. 

Fati tersenyum manis padaku, kemudian dia beranjak dan menarik tanganku sampai kita sama-sama berdiri. “Aku punya ide Loe!” katanya dengan wajah berbinar, matanya membulat, mulutnya terbuka, aku seperti melihat ada bola lampu yang menyala disamping pelipisnya. “Kau tahu, aku benci makanan di luar karena meskipun mahal, aku tidak yakin makanan itu sehat”

“ya, aku tahu Fati, kau pernah mangatakannya padaku” jawabku sambil menunggu kalimat selanjutnya darinya.

“Kalau aku sudah menjadi dewasa dan menikah nanti, aku akan membuat ladang di belakang rumah” lanjutnya sambil menunjukkan ekspresi berharap dengan menatap langit.

“Aha! Aku akan memilih tempat yang jauh dari bising kota untuk rumah kita nanti, sebuah rumah kecil yang lengkap dengan kebun buah, dan ladang, kau akan merawatnya sambil menikmati udara segar tanpa polusi dan aku akan menjadi dokter yang selalu ingin pulang dan menemuimu, aku berjanji, tidak akan melewatkan makan malam seharipun denganmu”. Kataku dengan antusias.

“Kau keren Loe, dan aku akan menyiapkan juice buah setiap pagi, membuat sandwich selai kacang kesukaan kita dan mengantarmu sampai pagar rumah. Hati-hati Loe, jangan pulang terlambat ya, hahaha”  dia tertawa sambil melambaikan tangan, seolah-olah mimpinya sedang terwujud saaat itu juga, kemudian kita berjingktak-jingkrak sambil terus mengimajinasikan rencana masa depan. “kita tidak melupakan sesuatu kan Loe?” katanya dengan nada memancing. Kita saling menatap, kemudian …..

“Perpustakaan!!” teriak kita bersamaan lalu saling menatap kembali dan tertawa bersama.

“aku akan menyisishkan sebagian dari gajiku untuk membeli buku dan mengisi perpustakaan kecil kita. Fati…. Kita akan menghabiskan waktu di perpus, membacakan cerita untuk anak kita, kemudian ketika mereka sudah besar, kita akan mengajarinya semua hal yang kita tahu, berdebat, bertukar ilmu. Anak kita akan menjadi anak-anak yang cerdas, seperti Ibunya”

“Seperi ayahnya! Kau yang sering mengajariku, bukan aku yang mengajarimu dan kau juga sekolah di sekolah favorit Loe, sedangakan aku? huh” bantahnya dengan muka cemberut, namun sejurus kemudian kembali berbinar. “aku ingin menjadi wanita karier dan membantumu mengumpulkan buku” lanjutnya sambil menaik-turunkan alis.

“Kau tidak boleh bekerja sampai anak kita lulus SD” Hardikku.

“maksudku, sebelum kita punya anak, aku akan menjadi wanita karier, dan kau menjadi Dokter. Aku akan mejaga anak-anak kita sampai tumbuh.”... “ Setelah mereka siap melangkah sendiri, aku akan menjadi dosen Fisika! Itu tidak akan membuatku kelelahan” kita kembali berjingkrak-jingkrak sambil tertawa riang, terlihat polos, tanpa beban. I WANT “MY TIME” BACK

I FEEL like so much older than I actually am. Pikiran kita memang jauh lebih dewasa dari umur kita. ketika anak-anak lainnya masih memimpikan kapan membeli rumah Barbie, atau memamerkan koleksi mobil-mobilan terbaru. Aku dan Fati sudah memikirkan bagaimana kita menjadi keluarga. Sekali lagi, aku benar-benar mengagumi gadis itu Tuhan. Meskipun kesepakatan kecil kami itu tidak akan pernah terwujud, aku harap dia bisa mewujudkannya dengan pria pilihannya nanti. Aku sering merenungkannya, kita seperti memiliki pikiran yang sama. Kecintaan terhadap Fisika, Astronomi, luar angkasa, dan kesepakatan kecil itu.. aku dan dia bahkan menyebutnya dengan istilah kita, anak-anak kita, rumah kita, ladang kita… ah! Tuhan…
Dan masihkah kau seperti dulu Fati, bermimpi untuk menyiapkan juice buah setiap pagiku? Melepaskan dasiku dan memberi kecupan selamat malam menjelang tidurku? Ah dua kalimat terakhir itu tentu hanya fantasiku sendiri! Tapi aku yakin, sangat yakin Fati, kaupun ingin aku yang membangun rumah itu, kau juga berharap bahwa akulah pria itu, pria yang disiapkan Tuhan untuk menjagamu, dan menemanimu.
Aku tahu Fati, dibalik wajah riang yang kau tunjukkan padaku saat ini, saat reuni pertama kita setelah lima tahun berlalu, ada air mata yang tidak bisa kau sembunyikan dariku, meskipun tidak terlihat. 

Karena kaupun membuat pengakuan yang paling aku sukai bahwa aku adalah pria yang sebenarnya kau inginkan Fati, tapi Tuhan menakdirkan yang lain… kau benar, kita harus menerimanya.. ikhlas, karena Tuhan akan menghadiahkan kado yang jauh lebih manis dalam hidupmu setelah kepergianku, pria itu pasti lebih hebat dariku.. dan anak-anakmu nanti akan menjadi anak-anak yang jauh lebih cerdas dari yang pernah kita impikan. 

Dan Fati, semoga Dia juga memberiku kado yang sama indahnya dengan yang Dia berikan untukmu, tempat tinggal yang jauh lebih manis dari yang pernah kita impikan, sebuat tempat nyaman yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya, dan itu kekal… doakan aku Fati. Bawa setiap yang pernah aku bagikan untukmu dalam setiap langkamu Fati, buatlah agar  semua itu mengalir dalam sungai amalku…

Sebenarnya, aku takut Fati. Karena seperti yang pernah kau bilang, manusia suka tidak menyadari kesalahan yang ia perbuat,  aku takut seperti itu, membuat Tuhan marah tanpa aku sadari. Ah sudahlah… toh inipun akan tetap terjadi padaku, pada semua orang….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar