Well, aku kesal! astaghfirullah..............
jadi munggu 12 semester ini memang lagi
banyak-banyaknya tugas, hampir setiap mata kuliah memberi tugas, dan tugasnya
nggak tanggung-tanggung,,,, itu hal yang yang biasa bagi kami..
yang bikin aku menggerundel adalah setelah aku udah
bela-belain untuk lembur dan hampir tidak tidur, ternyata paginnya tugas ini
nggak disentuh dosen. jangankan disentuh, dilihat saja tidak... bapaknya nggak
masuk bro.... haha... lucu tapi garing... spontan deh, anak-anak pada
terbakar amarah.
ada yang jongkok lemas sambil bilang "Ya Tuhan
bro, padahal ini pertama kali aku ngetik tugas, biasanya sih copas, tapi suer
tadi malam ane nongkrong berjamjam di warnet nggak dapet materinya, terpaksa
malemnya ane nglembur sambil ngritingin jari.. "
*orang bijak selalu menghindari plagiasi.
*ingat : God Is Always Watching Us
ini dia tugasnya :
ANANLISIS
AKTIVITAS INVESTASI
1. Pengantar
Aset merupakan manfaat ekonomi
yang diperoleh oleh seseorang atau suatu perusahaan yang dapat digunakan masa
mendatang dan merupakan hasil dari kejadian atau transaksi di masa lalu. Aset
memiliki sifat sebagai manfaat ekonomi (economic benefits) dan bukan sebagai
sumber ekonomi (economic resources). Hal ini dikarenakan manfaat ekonomi
tidak membatasi bentuk ataupun jenis dari sumber ekonomi yang dapat
dikategorikan sebagai aset.
Aset
dapat dibagi dalam dua jenis yaitu tangible ( berwujud) dan intangible( tidak
berwujud). Asset
berwujud yaitu asset yang terlihat fisik aslinya dan asset yang nilainya sesuai
dengan wujudnya misalnya bangunan, mesin yang harganya sesuai dengan ongkos
pembuatannya (walaupun tanah tidak ada ongkos pembuatannya namun tanah termasuk
asset berwujud). Asset
tidak berwujud yaitu asset yang tidak terlihat fisik aslinya dan asset yang
nilainya tidak sebanding dengan wujud fisiknya misalnya surat berharga saham
yang wujud fisiknya hanya secarik kertas yang ongkos pembuatannya relatif murah
dan tidak sama dengan nilai atau harga jika secarik kertas tersebut kita jual.
2. Pengenalan Asset Lancar
Asset
lancar merupakan sumberdaya atau klaim
atas sumberdaya yang langsung dapat diubah menjadi kas. Asset lancar adalah
adalah asset yang diharapkan akan dijual, ditagih atau digunakan selama satu
tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang akan menjadi lebih
panjang.
Selisish
antara asset lancar dengan kewajiban
lancar disebut modal kerja. Perusahaan memerlukan modal kerja untuk
beroperasi dengan efektif, namun modal kerja mahal karena akan menggunakan
investasi yang paling mnguntungkan . banyak perusahaan berusaha meningkatkan
profitabilitas dan arus kasnya dengan mengurangi investasi pada asset lancar
melalui metode seperti pengelolaan penjaminan kredit dan penagihan yang
efektif, serta persediaan tepat waktu. Perusahaan lain berusaha untuk mendanai
asset lancara mereka dengan kewajiban lancar, seperti utang dagang, sebagai
usaha mengurangi modal kerja.
2.1 Kas dan setara kas.
Kas
merupakan asset yang paling liquid, mencangkup mata uang, deposito dana, money orders dan cek. Sedangkan setara
kas tergolong asset yang sangat lancar, investasi jangka pendek yang siap
dikonversi menjadi kas, dan hampir jatuh tempo sehingga risiko perubahanj harga
yang disebabakan pergerakan tingkat bunga minimal.
Kosep
likuidasi penting dalam analisis laporan keuangan. Likuiditas berarti jumlah
kas atau setra kas yang dimiliki perusahaan dengan jumlah kas yang dapat
diperoleh dalam waktu singkat. Jumlah asset likuid yang dilaporkan perusahaan
pada neraca sangat beragam. Umumnya perusahaan dalam industry yang dinamis
membutuhkan likuiditas yang lebih tinggi untuk memanfaatkan kesempatan atau
untuk bereaksi terhadap perubahan yang cepat pada lingkungan yang kompetitif.
Selain
memeriksa jumlah asset likuid untuk perusahaan, analisis juga harus
mempertimbangkan hal berikut.
- Sejauh mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas
- Kas dan setara kas sering kali dibutuhkan sebagai saldo kompensasi untuk mendukung suatu perjanjian pinjaman atau sebagai penjamin hutang.
2.2 Piutang
Piutang
merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa atau
dari pemberian pinjaman uang. piutang usaha mengacu pada janji lisan untuk
membayar yang perasal dari penjualan produk dan jas asecara kredit. Wesel tagih
mengacu pada janji tertulis untuk membayar. Piutang diklasifikasikan ke dalam
asset lancar jika diharapkan akan direalisasi atau ditagih dalam waktu satu
tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang.
2.2.1 Penilaian Piutang
Analisis
piutang sangat penting karena dampaknya terhadap posisi asset dan arus laba
yang saling terkait. Realitanya banyak perusahaan yang tidak mampu menagih
semua piutangnya. Kerugian piutang dapat menjadi sangat berarti dan mengurangi
asset lancar serta laba bersih sekarang dan masa depan. Resiko analisis ini
adalah pengalaman masa lalu kurang bisa memprediksi kerugian masa depan, atau
mungkin kita gagal mencerminkan kondisi terkini.
2.2.2 Analis Piutang
Kita
harus waspada terhadap insentif manajemen dan auditor dalam melaporkan laba dan
asset. Dengan memperhatika hal tersebut, terdapat dua pertanyaan penting dalam
analisis piutang.
Resiko
kolektabilitas. Manajemen sering kali lebih mementingkan pengalaman masa lalu
karena kondisi ekonomi sulit diprediksi. Analisis harus mempertimbangkan bahwa
meskipun pendekatan dengan rumus untuk menghitung penyisishan piutang tak
tertagih sangat mudah dan praktis, penghitungan ini mencerminkan penilaian
mekanik yang menghasilkan kesalahan. Informasi yang berguna harus diperolaeh
dari sumber atau perusahaan lain. alat analisis untuk memeriksa kolektabilitas
mencangkup:
- Memebandingkan presentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing dengan perusahaan yang sedang dianalisis.
- Memerikasa konsentrasi pelangggan-resiko meningkat jika piutang terkosentrasi pada satu atau sedikit pelanggan.
- Menghitung menyelidiki tren periode rata-rata kolektabilitas piutang disbanding dengan syarat kredit pelanggan untuk industry yang bersangkutan.
- Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan dari piutang atau wesel tagih masa lalu.
Analisis
posisis keuangan terkini dan kemampuan perusahaan
memenuhi utang lancar yag tercermnin dalam pengukuran seperti rasio lancar juga
harus mengakui pentingnya siklus operasi untuk mengklasifikasi piutang lancar.
Siklus operasi dapat menghasilkan piutang cicilan nyang belum dapat tertagih
selama beberapa tahun dapat dilaporkan sebagai asset lancar. Analisis asset
lancer dan kaitanya dengan kewajiban lancer harus diakui dan disesuaikan dengan risiko waktu ini.
Keaslian
piutang. Pemahaman mengenai praktik industry dan sumber informasi tambahan
digunakan untuk menambah keyakinan. Pelanggan pada industry tertentu
mengembaikan hak untuk mengembakikan barang. Analisis harus mempertimbangkan
hak pengembalian tersebut. Hak
pengembalian yang bebas dapat menurunkan kualitas piutang.
Skuritas piutang.
Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan menjual semua atau
again piutanganya pada pihak ketiga yang disebut anjak piutang atau
skuritisasi, piutang dapat dijual dengan ataupun tanpa recourse pada pembeli jaminan kolektabilitas.
Skuritas
piutang sering kali dilakukan dengan menciptakan entitas bertujuan kusus
seperti perwalian pembelian piutang dari perusahaan dan mendanai pembelian ini
melalui penjualan obligasi ke pasar.
Piutang usaha disajikan sebesar
jumlah neto setelah dikurangi dengan penyisihan piutang tidak tertagih, yang
diestimasi berdasarkan penelaahan atas kolektibilitas saldo piutang. Piutang
dihapuskan pada saat piutang tersebut dipastikan tidak akan tertagih.
Terdiri dari piutang usaha : pihak
ketiga dan pihak hubungan istimewa, piutang lainnya yang terdiri dari pihak
ketiga dan pihak hubungan istimewa.
Analisis umur piutang :
Lancar Rp374,413
Jatuh
tempo:
1 - 30
hari
46,975
31 - 60
hari
2,471
61 - 90
hari
1,833
> 90
hari
4,339
Jumlah
430,031
Dikurangi:
Penyisihan
piutang
(554)
tidak tertagih
Bersih
429,477
Mutasi penyisihan piutang tidak
tertagih adalah sebagai
berikut:
Saldo pada awal tahun
8,752
Penambahan penyisihan
6,405
tahun berjalan
Penghapusan
(14,603)
Saldo pada akhir
tahun
554
Berdasarkan hasil penelaahan
terhadap keadaan akun piutang masing-masing pelanggan pada akhir tahun,
manajemen berkeyakinan bahwa penyisihan piutang tidak tertagih tersebut cukup
untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya piutang usaha di
kemudian hari.
3. Beban Dibayar Dimuka
Beban
dibayar dimuka merupakan pembayaran
dimuka atas barang atau jasa yang belum diterima. Beban dibayar dimuka
digolongkan ke dalam asset karena mencerminkan jasa yang diberikan jika tidak
afa membutuhkan penggunaan asset lancer lain.
4. Persediaan
4.1 Akuntansi Dan Penilaian
Persediaan
Persediaan
merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan.
Pentingnya metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan disebabakan oleh
dampaknya pada laba bersih dan penilaian asset. Metode persediaan digunakan
untukm mengalokasikan biaya barag tersedia untuk dijual pada harga pokok
penjualan atau persediaan akhir.
Persamaan
persediaan dapat digunakan untuk memahami arus persediaan. Untuk perusahaan: persediaan
awal + pembelian bersih – harga pokok penjualan = persediaan akhir.
Persamaan ini menekankan arus biaya dalam perusahaan. Arus ini secara
alternative dapat dinyatakan pada grafik sebelah kiri.
Biaya
persediaan awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual, biaya ini
dipindahkan dari nerca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai harga pokok
penjualan. Biaya tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada waktu
bersamaan, melainkan dapat dicatat pada neraca sebagai beban masa depan, atau
diakui saat ini pada lapiran laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan
pendapatan penjualan.
Konsep
penting akuntansi persediaa adalah arus biaya. Jika seluruh persediaan
diperoleh pada periede terjualnya, maka HPP akan sama dengan biaya pembelian
barang. Namun jika persediaan tersedia pada akhir periade akuntansi, penting
untuk menentukan persediaan mana yang telah terjual dan iaya mana yang tersdia
pada neraca.
4.2
Arus biaya persediaan
Untuk
memberikan ilustrasi asumsi arus biaya yang tersedia, misalanya catatan
persediaan suatu persahaan sebgai berikut:
Persediaan
tanggal 1 januari, 2009 40 unit@$500 $20.000
Persediaan
dibeli sepanjang tahun 60 unit@$600 $36.000
Harga
pokok barang tersedia untuk dijual 100 unit $56.000
Selanjutnya,
jika sepanjang tahun terjual 30 unit seharga $800 dan menghasilkan pendapatan
penjualan sebesar $24.000. GAAP memeberikan
tiga pilihan bagi perusahaan untuk menentukan biaya mana yang akan
dikaitkan dengan poen jualan:
First-
in, firs-out (FIFO). Metode ini mengansumsikan bahwa
yang dibeli pertama merupakan yang pertama
dijual. Berikut adalah laba kotor perusahaan jika menggnakan FIFO:
Penjualan
$24.000
HPP
(30@$500) $15.000
Laba kotor $
9.000
Oleh
karena biaya persediaan sebesar $15.000 telah dipindahkan dari neraca, biaya
persediaan yang dilaporkan pada neraca akhir periode adalah $41.000.
Last-in,
first-out (LIFO), metode inim mengansumsikan
bahwa yang dibeli terakhir merupaka yang pertama dijual. Sehingga laba kotornya
adalah sebgai berikut:
Penjualan $24.000
Harga
pokok penjualan (30@$600) $18.000
Laba
kotor $ 6.000
Oleh
karena biaya persdiaan sebesar $18.000 telah dipindahkan dari neraca dan
tercemin pada HPP, biaya yang tersisa pada neraca sebesar $38.000 dilaporkan
sebgai persediaan.
Average
cost (Biaya persediaan rata-rata). Unit dijual tanoa
memperhatikan uutan pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir
seagai rata-rata tertimbang sedrrhana sebgai berikut:
Penjualan $24.000
HPP
(30@$560) $16.800
Laba
kotor $ 7.200
HPP
dihitung dengan menggunakan rat-rata tertimbang dari biaya barang tersedia
untuk dijual total dibagi dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual
($56.000/100=$560). Persediaan akhir dilaporkan pada neraca adalah $39.200.
5. Analisis Persediaan
Dampak Biaya Persediaan Terhadap
Profitabilitas
Ringkasan
hasil perhitungan dengan tiga alternative metode diatas adalah :
|
Metode
|
Persediaan
awal
|
pembelian
|
Persediaan
akhir
|
Harga pokok
penjualan
|
|
FIFO
|
$20.000
|
$36.000
|
$42.000
|
$15.000
|
|
LIFO
|
$20.000
|
$36.000
|
$38.000
|
$18.000
|
|
Average
Cost
|
$20.000
|
$36.000
|
$30.200
|
$16.800
|
laporan
laba rugi berdasarkan ketiga metode berikut adalah:
|
Metode
|
Penjualan
|
Harga pokok
penjualan
|
Laba kotor
|
|
FIFO
|
$24.000
|
$15.000
|
$9.000
|
|
LIFO
|
$24.000
|
$18.000
|
$6.000
|
|
Average
Cost
|
$24.000
|
$16.800
|
$7.200
|
Kesimpulan
: laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya
perusahaan.
Pada
periode dimana harga meningkat, FIFO memberikan laba kotor yang lebih tinggi
disbanding LIFO karena biaya persediaan yang lebih rendah dikaitkan dengan
pendapatan penjualan dengan harga pasar terkini. Hal ini sering dinyatakan
segai keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari laba ekonomi
dan laba kepemilikan.
Laba
ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisish antar harga
juala dsan biaya penggantian persdiaan seperti dibawah ini:
Laba
ekonomi = 30 unit X ($800-$600) = $6.000
Laa
kepemilikan merupakan kenaikan biaya
penggantian karena persediaan telah diperoleh dan sama dengan jumlah unit
terjual dikalikan dengan selisish biaya penggntian terkini dengan biaya
perolehan awal, seperti dibawah ini:
Laba
kepemilikan = 30 unit x ($600-$500) = $3.000
Dari
laba kotor sebesar $9.000, sebesar $3.000 terkait dengan keuntungan inflasi
yang diperoleh perusahaandari oembelian persdiaan masa lalu.
Laba
kepemilikan merupakan fungsi dari perpuratan persediaan – berapa lama
persediaan tersimpan- dan tingkat inflasi. Salah satu masalah serius adalah
bahwa keuntungan ini telah hilang selama beberapa decade terakhir karena
inflasi yang lebih rendah dan pengawasan manajemen atas kuantitas persediaan
melalui proses manufaktur yang lebih baik, serta pengendalis persdiaan yang
lebih baik.pada negara yang tingkat inflasinya lebih tinggi disbanding Amerika
Serikat, keuntungan kepemilikan FIFO masih menjadi masalah.
5.1 Dampak Biaya Persedian Terhadap
Neraca
Pada
periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi laporan
persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhitr pada harga yang jauh
lebih rendah dibandingkan dengan biaya penggantian. Sehingga, neraca perusahan
yang menggunakan LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancaryang
dimiliki perusahaan dalam persediaan.
5.2
Dampak Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas
Peningkatan
laba ktor dengan metod FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak yang lebih
tinggi, sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi. Pada periode ini di
mana harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada penguranagan arus kas
karena membeyar pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang
terjuala pada biaya penggantianyang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
pembelian awal.
Salah
satu alasan digunakannya LIFO adalah pengurangan kewajiban pajak pada periode
harga meningkat. Namun IRS mengharuskan bahwa perushaan yang menggunakan LIFO
untuk tujuan pajak harus menggunakan metode ini untuk laporan keuangan. Ini
merupakan aturan ketaan LIFO (LIFO conformity
rule).
Perusahaan
yang menggunakan biaya persediaan LIFO diharuskan untuk mengungkapkan jumlah
yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO. Selisish anatar
kdua metode ini dinamankan cadangan LIFO. Hal ini dapat digunakan untuk menghitung
jumlah yang akan memengaruhi arus kas kumulatif maupun periode berjalan karena
penggunaan LIFO.
5.3
Masalah Penilaian Persediaan Lainnya
Likuidasi LIFO. Perusahaan
diwajibkan mencatat setiap tingkat biaya sebagai kelompok npersediaan terpisah.
Untuk biaya persediaan LIFO, persediaan akhir diloaporkan pada biaya pembelian
terdahilu yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi secara signifikandari buaya
saat ini. Pada periode harga meningkat pengurangan kuantitas masalah disebut sebagai likuidasi LIFO menghasilkan
peningkqatan pada laba kotor seperti penggunaan pada biaya persediaan
FIFObegitu juga sebaliknya. Dampak likuidasi LIFO dapat dilihat pada catatan
kaki persediaan laporan tahunan. Perusahaan mengindikasikan bahwa pengurangan
kuantitas persediaan menyebabkan penjualan barang yang dicatat dengan biaya
masa lalu yang berbeda dengan biaya sekarang. Seorang anslisi LIFO harus
hati-hati terhadap dampak likuidasi LIFO pada profitabilitas.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO ke FIFO.
Metode
LIFO merupakan metide yang diharapkan oleh penganalisis, karena laporan laba
rugi tidak membutuhkan penyesuaian besar disebabakan harga pokok penjualan
telah mendekati biaya terkini. Namun metode ini menyebabkan persediaan neraca
tidak mencerminkan harga saat ini-sering kali dinyatakan lebih rendah. Hal ini
dapat mengurangi kegunaan berbagai pengukuran seperti rasio lancar atau
rasio perputaran persediaan. Hal ini menyebabakan kemampuan perusahaan
dalam memebayar utang terlalau rendah, perputara persediaan terlalau tinggi.
Untuk mengatasinya, dapat menggunakan teknik analisis untuk menyesuaikan LIFO
agar lebih mendekati situasi performa dengan mengasumsikan FIFO.
Penyesuaian
neraca dimungkinkan jika perusahaan mengungkapakan selisish lebih biaya kini atas
persediaan yang dihitung dengan LIFO, atau cadanagn LIFO. Maka diperlukan tiga
penyesuain berikut :
1.
Persdiaan = persediaan yang dilaporkan
berdasarkan LIFO + cadangan LIFO
2.
Pertambahan kewajiban pajak tengguhan
sebesar: (cadangan LIFO X tariff pajak)
3.
Saldo laba = saldo laba yang dilaporkan
+[cadangan LIFO x (1-tarif pajak)
Umunnya
saat harga meningkat, laba LIFO lebih kecil pada laba FIFO. Namun, dampak
bersih dari penyajian kembali pada tahun manapun tegantung oada dampak
kombinasi dari perubahan persediaan awal dan akhir serta factor lain termasuk
likuidasi lapisan LIFO.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari FIFO ke LIFO. Penyesuaian ini membutuhkan asumsi penting
sehingga bisa menimbulkan kesalahan. Laba LIFO mencakup laba kepemilikan atas
persediaan awal. Terdapat manfaat untuk menghitung persediaan awal (PAFIFO) x
tingkat inflasi untuk lini persediaan tertentu yang dimiliki perusahaan:
HPPLIFO = HPPFIFO + (PAFIFO x
r), dengan r sebagai tingkat inflasi.
Perhatikan
bahwa r, bukan m,erupakan tingkat inflasi umum seperti IHK atau IHP. Indeks ini
merupakan inflasi yang terkait dengan lini persediaan tertentu yang dimiliki
perusahaan. Jika perusahaan memiliki beberapa lini produk, indeks prodeuksinya
harus diestimasi secara terpisah. Jika r bukan buka tungkat inflasi pada
umumnya seperti CPI tau IHP, dan dimaksud adalah indeks inflasi sehubungan
dengan lini persediaan tertentu yang dimiliki perusahaan. Dalam hal ini
perusahaan mempunyai berapa lini produk, secara teori, tiap lini tersebutharus
diestimasi secara terpisah.
Estimasi
r dapat menggunakan angka yang dikeluarkan opelh departemen perdagangan untuk
industriu kusus perusahaan. Selain itu jika perusahaan menjalankan usaha
erdasarkan komuditas dapat digunakan dengan asumsi bahwa komponen biaya biaya
persediaan lain berubah secara proporsional terhadap bahan bakunya. Analisis
juga dapat menggunakan tingkat inflsi perusahaan pesaing. Jika perusahaan
dengan lini produk serupa menggunakan biaya persediaan LIFO, tingkat inflasi
dapat diestimasi sebesar peningkatan cadangan LIFO : persediaan perusahaan
pesaing erdasarkan FIFO pada akhir periode lalu sebagai berikut :
R = perubahan cadangan LIFO
Persediaan FIFO dari akhir periode
lalu
5.4
Biaya Persediaan Perusahaan Manufaktur Dan Dampak Peningkatan Produksi
Biaya
manufaktur terdiri atas tiga komponen :
1.
Bahan baku atau bahan mentah – biaya
dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat produk.
2.
Tenaga kerja – biaya tenaga langsng yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan produk jadi.
3.
Overhead – biaya tidak langsung pada
prises manufaktur.
Overhead
sering kali merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit diukur
untuk tingkat produksi. Total overhead harus dialokasikan pada seluruh hasil
produksi. Analisi biaya ini harus waspada bahwa alokasi biaya overheadbukan
merupakan ilmu pasti dan sangat tergantung pada asumsi yang digunakan. Jika
peningkatan pada tingkat produksi menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih
banyak viaya overhead yang tinggal dineraca dan profitabilitas meningkat. Kemudian
saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba rugi tidak hanya terbebano
niaya overhead periode berjalan tetapi juga biaya overhead perode sebelumnya
yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanaya laba menjadi turun.
Oleh karena itu analisi harus waspada terhadap dampak perubahan tingkat prduksi
terhadap laba yang dilaporkan
Biaya perolehan atau
nilai pasar, mana yang lebih rendah
Prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum atau valuasi adalah menilai pada biaya perolehan
atau nilai pasar, dinilai dari mana yang lebih rendah (lower of cost or market-
LOCOM). Nilai atau harga pasar (market) dijabarkan sebagai biaya penggantian
terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun begitu, nilai pasar tidak
boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih
setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai
realisasi bersih, mencerminkan biaya oenyelesaian dan penyerahan yang terkait
dengan penjualan barang. Batas bawah memastikan bahwa jika nilai
persediaan diturunkan dari biaya
perolehan awal menjadi nilai pasar, angka penurunan yang terjadi telah mencakuo
realisasi laba kotor normal atas penjualan ayng akan dilakukan.
Biaya
(cost) merpakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung dengan salah
satu dari metode biaya persediaan. Misalnya, FIFO, LIFO, atau Biaya Rata-rata.
Analisis persediaan kita harus memperhatikan dampak aturan LOCOM. Saat harga
meningkat, aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa
memperhatikan pilihan metode biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio
lancar. Dalam praktik, beberapa perusahaan dengan sukarela mengungkapkan biaya
persediaan terkini, biasanya pada catatan.
5.
PENGENALAN
ASET JANGKA PANJANG
Aset
jangka panjang metupakan aset yuang digunakan untuk menghasilkan penghasilan
operasi atau mengurangi biaya operasi untuk lebih dari satu periode. Asset
jangka panjang yang paling umum adalah asset tetap berwujudseperti bangunan,
pabrik dan peralatan. Aset jangka panjang juga mencakup aset tak berwujud
seperti hak paten, merk dagang, copyright, dan goodwill.
6.1 Akuntansi Aset
Jangka Panjang
6.1.1 Kapitalisasi,
Alokasi, dan Penurunan Nilai
Proses
akuntansi aset jangka panjang mencakup tiga aktivitas terpisah, diantaranya
kapitalisasi, alokasi, dan penurunan nilai. Kapitalisasi (capitalization)
merupakan proses penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan, tetapi
manfaatnya diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode di masa depan.
Kapitalisasi ini yang menciptakan akun asset.
Alokasi
(allocation) merupakan proses pembebanan biaya tangguhan (aset) secara periodic
sepanjang satu atau lebih periode amnfaat yang diharapkan. Proses alokasi ini
dinamakna penyusutan untuk asset berwujud, amortisasi untuk asset tak berwujud,
dan deplesi untuk sumber daya alam. Penurunan nilai (impairment) merupakan
proses penurunan nilai buku asset saat arus kas yang diharapkan tidak lagi
cukup untuk menutupi biaya tersisa yan masih tercatat pada neraca.
6.1.2 Kapitalisasi
Aset
jangka panjang diciptakan melalui proses kapitalisasi. Kapitalisasi berarti
menempatkan aset di neraca, bukan membebankan biayanya dilaporan laba rugi.
Untuk aset berwujud (hard asset) seperti Plant Property and Equiptment (PPE),
aset dicatat sesuai nilai perolehan. Sedangkan untuk aset tak berwujud (soft
asset) seperti litbang, iklan, biaya upah, kapitalisasi lebih bermasalah. Semua
aset ini tidak menghasilkan keuntugan di masa depan, meskipun dapat ditempakan
sebagai aset. Konsekuensinya, biaya aset tidak berwujud segera dibiayakan dan
tidak dicatat pada neraca.
6.1.3 Alokasi
Alokasi
merupakan pembebanan biaya aset secara periodik sepanjang periode manfaat yang
diharapkan. Alokasi biaya disebut penyusutan (depreciation) jika terkait dengan
aset tetap, amortisasi (amortization) jika digunakan untuk aset tak berwujud,
dan deplesi (depletion) untuk sumber daya alam, ketiga istilah tersebut mengacu
pada alokasi. Alokasi biaya meruoakan proses untuk mengaitkan biaya aset dengan
manfaatnya dan bukan merupakan proses valuasi. Nilai tercatat aset (niali
kapitalisasi dikurangi alokasi biaya kumulatif) tidak perlu mencerminkan nilai
wajar.
Tiga
faktor ayng menentukan nilai alokasi biaya, yaitu periode manfaat, nilai sisa,
dan metode alokasi.
6.3.4 Penurunan Nilai (Impairment)
Jika
arus kas yang diharapkan (tidak didiskonto) lebih kecil disbanding dengan nilai
tercatat aset (biaya dikurangi akumulasi penyusutan), aset perlu diturunkan
nilainya dan dinyatakan sebesar nilai pasar wajar (jumlah diskonto taksiran
arus kas). Dampaknya adalah untuk mengurangi nilai tercatat aset pada neraca
dan mengurangi profitabilitas sebesar jumlah yang sama.
Ada
dua distorsi terkait dengan penurunan aset, yaitu.
a.
Bias konservatif mendistorsi valuasi aset
jangka panjang karena nilai aset dapat diturunkan namun tidak dapat dinaikkan
b.
Pengakuan penurunan nilai aset memiliki
dampak temporer besar yang mendistorsi laba bersih sementara berpotensi untuk
meningkatkan kegunaan nilai aset pada neraca.
c.
6.5 Kapitalisasi Versus Pembebanan: Dampak
terhadap Laporan Keuangan dan Rasio
Kapitalisasi
merupakan bagian penting dari akuntansi modern. Kapitalisasi mempengaruhi baik
laporan keuangan maupun rasionya. Kapitalisasi juga membuat laba menjadi lebih
unggul dibandingkan arus kas sebagai pengukuran kinerja keuangan.
6.5.1 Dampak Kapitalisai terhadap Laba
Kapitalisasi
memiliki dua dampak terhadap laba. Pertama, kapitalisasi menangguhkan pengakuan
biaya. Sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi selama periode akuisisi
namun laba yang rendah pada periode berikutnya jika dibandingkan dengan
pembebanan biaya. Kedua, kapitalisasi menghasilkan serial perataan laba.
6.6 Dampak kapitalisasi
terhadap Tingkat Pengembalian Investasi
Kapitalisasi
mempengaruhi laba maupun basis investasi dari rasio tingkat pengembalian
investasi. Sebaliknya, membebankan biaya aset menghasilkan basis investasi yang
lebih rendah dan meningkatkan fliuktuasi laba. Peningkatan fliktuasi laba
diperbesar dengan digunakannya basis investasi, ayng mengarah pada rasio
tingkat pemgembalian yang lebih berfliktuasi dan kurang bermanfaat. Pembebanan
juga menghasilkan bias terhadap pengukuran laba, karena laba dinyatakan terlalu
rendah pada tahun akuisisi dan terlalu tinggi pada tahun-tahun berikutnya.
5.6.1 Dampak Kapitalisasi terhadap Rasio Solvabilitas
biaya
aset secara langsung, rasio solvabilitas, seperti rasio utang terhadap
ekuitasmencerminkan kondisi perusahaan yang lebih buruk dari kondisi
sebenarnya. Hal ini terjadi karena pembebanan biaya langsung menyebabkan
ekuitas dinyatakan terlalu rendah untuk perusahaan yang memiliki aset
produktif.
5.6.2 Dampak Kapitalisasi terhadap arus Kas Operasi
Ketika
biaya aset dibebankan langsung, biaya ini dilaporkan sebagai arus kas keluar
aktivitas operasi. Sebaliknya, jika aset dikapitalisasi, biaya ini dilaporkan
sebagai arus kas keluar aktivitas investasi. Hal ini berarti pembebanan
langsung biaya aset akan menyatakan arus kas keluar operasi yang terlalu tinggi
dan arus kas keluar investasi terlalu rendah pada tahun akuisisi dibandingkan
degngan kapitalisasui biaya.
7. Aset Tetap dan
Sumber Daya Alam
Properti,
pabrik, dan peralatan (atau aset tetap) merupakan aset berwujud tak lancar yang
digunakan dalam proses menafkur, penjualan, atau jasa untuk menhasilkan pendapat
dan arus kas selama lebih dari satu periode. Oleh karena itu, aset ini memiliki
periode manfaat yang diharapkan (masa manfaat) yang meliputi lebih dari satu
periode. Aset ini diperoleh untuk digunakan dalam aktivitas operasi dan bukan
untuk dijual pada aktivitas usaha biasa. Nilai atau potensi jasa yang dimiliki
akan berkurang karena digunakan, dan aset ini biasanya merupakan aset operasi
yang terbesar. Properti terkait dengan
biaya real estat: pabrik mengacu pada bangunan dan struktur operasi: dan
peralatan mengacu pada mesin yang digunakan dalam operasi. Properti, pabrik,
dan peralatan disebut juga aset produktif, aset model, dan aset tetap.
7.1 Menilai Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
Bagian
ini mendiskripsikan penilaian aset dan sumber daya alam.
Menilai Properti,
Pabrik, dan Peraalatan.
Biaya
ini mencakup beban apapun yang diperlukan agar aset tersebut berada dalam
lokasi dan kondisi siap digunakan atau siap memberikan jasa seperti baiya
angkut, instalasi, pajak, dan biaya pemasangan (set up). Seluruh biaya akuisisi
dan persiapan dikapitalisasi pada saldo akun aset. Alasan digunakan biaya
historis terutama sehubungan dengan objektivitasnya. Penilaian aset tetap
dengan biaya historis, jika diterapkan secara konsisten, biasanya tidak
menghasilkan distorsi yang serius. Bagian ini akan mempertimbangkan beberapa
masalah khisus yang akan terjadi saat menilai aset.
Menilai Sumber Daya
Alam
Sumber
daya alam yang digunakan disebut aset yang dihabiskan (wasting asset),
merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam.Juga sering
kali terdapat biaya cukup tinggi untuk menemukan sumber daya yang
dikapitalisasi dalam neraca, dan biaya ini langsung dibebankan saat sumber daya
tersebut kemudian dipindahkan, dikonsumsi, atau dijual. Perusahaan biasanya
mengalikasikan biaya sumber daya alam pada jumlah estimasi unit cadang yang
tersedia.
Penyusutan
Prinsip
dasar penyusutan laba adalah , laba yang mendapatkan manfaat dari penggunaan
aset jangka panjang, harus menanggung bagian proporsional dan biaya aset
tersebut. Penyusutan merupakan alikasi biaya bangunan dan peralatan (tanah
tidak disusutkan) sepanjang masa manfaatnya.
Meskipun
penambahan kembali dalam laporan arus kas atau nenan non kas, penyusutan tidak
menghasilkan dana bagi penggantian aset. Hal ini merupakan kesalahan konseo
yang umum terjadi. Pendanaan dari biaya modal dicapai melalui kegiatan arus kas
operasi maupun pendanaan.
Tingkat Penyusutan
Tingkat
penyusutan tergantung pada dua faktor , masa manfaat dan metode alokasi.
Umur masa manfaat. Kerusakan
fisik merupakan faktor penting yang membatasi masa manfaat, dan hamper seluruh
aset mengalaminya. Frekuensi dan kualitas pemeliharaan mempengaruhi kerusakan
fisik. Pemeliharaan dapat memperpanjang masa manfaat namun tidak bisa membuat
masa manfaat menjadi takterbatas. Faktor pembatas lainnya adalah keusangan,
yang mengurangi masa manfaat melalui perkembangan teknologi, pola konsumsi dan
kekuatan ekonomi. Keusangan bisa terjadi jika perkembangan teknologi membuat
aset menjadi tidak efisien atau tidak ekonomis sebelum masa manfaatnya habis.
Metode Alokasi.Keragaman
penyusutan secara signifikan disebabkan oleh metode yang dipilih. Kita akan
melihat ada dua jenis metode yang biasa digunakan, garis lurus dan dipercepat.
·
Gris Lurus.
Metode penyusutan garis lurus (straight line) mengalokasikan biaya aset pada
masa manfaat berdasarkan beban periodic yang sama. Bangunan dibandingakan untuk
mesin dimana penggunanya merupakan faktor yang lebih penting. Penentu
penyusutan lain, keusangan, tidak selalu terjadi seragam sepanjang waktu. Namun
karena tidak adanya informasi mengenai tingkat penyusutan yang mungkin, metode
garis lurus memiliki keunggulan karena sederhana. Karakteristik ini,
memungkinkan yang menjadikan metode ini popular, diandingkan karakteristik
lainnya.
Analisis kita harus
mewaspadai kelemahan konseptual penyusutan garis lurus. Penyusutan garis lurus
secara implist mengasumsikan bahwa penyusutan pada tahun-tahun awal sama dengan
tahun berikutnya saat mungkin aset telah kurang efisien dan membutuhkan
pemeliharaan yang lebih tinggi.Penyusutan garis lurus menghasilkan bias yang
makin besar pada pola tingkat pengambilan aset sepanjang waktu.
Meskipun biaya
pemeliharaan dapat menurunkan laba sebeum penyusutan, biaya ini tidak menghilangkan
dampak meningkatnya pengembalian seiring waktu. Tentunya, peningkatan aset yang
sudah tua tidak tercermin pada sebagian besar perusahaan.
·
Dipercepat.Metode
penyusutan yang dipercepat (acceleranted) mengalokasikan biaya aset sepanjang
masa manfaat dengan pola yang semakin menurun. Penggunaan metode ini didukung
oleh penerimaan dan interval Revenue Code. Daya penarik metode ini untuk tujuan
pajak adalah percepatan alokasi biaya dan berikut penangguhan laba kena pajak.
Semakin cepat aset dihapuskan untuk tujuan pajak semakin besar penangguhan pajak untuk masa depan, dan semakin banyak
dana yang tersedia lagsung untuk operasi. Konsep yang mendukung metode
dipercepat adalah padangan bahw beban penyusutan yang semakin kecil sepanjang
waktu merupakan kompensasi atas (1) peningkatan biaya perbaikan dan perawatan,
(2) penurunan pendapatan dan efisiensi operasi, serta (3) peningkatan
ketidakpastian pendapatan atas aset berumur di masa depan (karena keusangannya)
Dua
metode penyusutan dipercepat yang paling umum adalah saldo menurun dan jumlah
angka tahun. Metode saldo menurun (declining-balance method) mengenakan tariff
tetap terhadap saldo akun yang semakin turrun (nilai tercatat). Dalam praktik,
perkiraan tingkat amortisasi beban penyusutan yang makin turun adalah dengan
menggunakan tariff ganda (sering kalin dua kali lipat) dari tariff garis lurus.
Khusus. Metode
penyusutan khusus ditentukan pada industrui tertentu seperti baja dan mesin
berat. Persamaan metode ini adalah dikaitkannya beban penyusutan pada aktivitas
penggunaan asset. Jika metode aktivitas
atau yang biasa juga disebut sebagai metode unit produksi dietapkan, perlu
menelaah estimasi masa manfaat secara periodic.
Deplesi
Deplesi bmerupakan alokasi biaya sumber daya
alam berdasarkan tingkat pemungutan.
Deplesiasi tergantung pada produksi, menghasilkan lebih banyak produksi berarti mengeluarkan biaya deplesi yang lebih
pula.
Penurunan
nilai
Bangunan dan sumber daya alam biasanya dusustkan
selama masa manfaat berdasarkan prinsip
alokasi dengan tujuan penentuan laba. Nilai yang terbawa dari asset yang
disusutkan tidak dirancang untyuk merefleksikan nilai sekarang dari asset. Meskipun dengan konservativ, akuntansi
seringkali melakukan refleksi nilai, dengan menurunkan nilai pada neraca (write down) untuk merefleksikan nilai
saat ini. saat Ini akuntansi tidak
memperbolehkan menuliskan nilai asset untuk merefleksikan nilai pasar.
Menganalisis
Asset Tetap Dan Sumber Daya Alam
Valuais
asset tetap dan sumberdaya alam menekankan objektivitas biaya historis. Namun,
biaya historis tidak relevan dalam menilai asset pengganti. Juga biaya ini
tidak dapat dibandingkan untuk beberapa lapiran keuangan perusahaan, dan tidak
terlalu bermanfaat untuk mengukur biaya kesempatan atau dalam menilai kegunaan
alternative dana. Dalam periode tingkat
dana meningkat, biaya histori mencerminkan daya beli yang bebeda.
Penilaian nilai asset tetap menjadi sebesar nilai
pasar tidak diperbolehkan dalam akuntansi. Namun, konservatismen mengizinkan
adanya oenghapusan nilai karena penurunan nilai yang permanen. Penurunana nilai
menghilangkan beban yang terkait dengan aktivitas operasi pada periode masa depan.
Aturan
akuntansi untuk menurunkan nilai asset jangka panjang mewajibkan perusahaan
untuk secara berkala menelaah kejadian atau perubahan kondisi yang merupakan
penurunan nilai. Penurunan asset setelahnya dapat mendistorsi hasil yang
dilaporkan. Jika taksiran arus kas tidak lebih kecil dari nilai yang tercatat
asset, maka nilai asset diturunkan.
Kerugian penurunan nilai dihitung sebagai selisish nilai tercatat asset dengn
nilai wajarnya.
Menganalisis
Penyusutan Dan Deplesi
Sebagaian besar perusahaan menggunakan aset produktf
jangka panjang pada aktivitas operasi mereka, dan penyusutan merupakan beban
utama. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah adanya
revisi masa manfaat asset.
Biasanya tidk adan pengungkapan
mengenai hungun antar tingkat penyusutan dan ukuran kelompok asset, maupun
antara tingkat tersebut dan metode akuntansi. Tantangan lain bagi analisis ini
berasal dari perbedaan metode alokasi yang digunakan untuk pelaporan keuangan
dan tujuan pajak. Tiga kemungkinan yang umum adalah:
- Penggunaan garis lurus baik dalam pelaporan keuangan maupun tujuan pajak
- Penggunaan garis lurus untuk lapiran keuangan dan metode dipercepat untuk pajak. Dampak pajak menguntungkan berasal dari penangguhan pembayaran pajak yang menghasilkan penggunaan dana gratis.
- Penggunaan metode dipercepat baik untuk pelaporan keuangan maupun tujuan pajak. Hal ini mengakibatkan penyusustan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal, yang dapat diperpanjang selama beberapa tahun bagi perusahaan yang sedang ekspansi.
Meskipun
terdapat kelemanahan, informasi penyusustan tidak boleh diabaikan. Kesalahan konsep lain dalam penyerdehanaan
arus kas adalah bahwa penyusutan hanya meruoakan beban tata buku dan berbed
dari beban lain seperti tenaga kerja dan bahan baku, oleh karena itu, boleh
dikeluarkan dan dianggap tidak sepenting beban lainnya.
Menganalisa
penyusustan memebutuhkan evaluasi kelayakan.
Evaluasi ini dapat menggunakan pengukuran seperti rasio penyusutan
terhadap asset total atau penyusustan terhadap faktir yang terkait dengan
ukuran lainnya. Terdapat beberapa pengukuran yang terkait dengan umur asset
tetap yang berguna untuk membandingkan kebijakan penyusustan antar periode dan
antar perusahaan diantaranya Rata-rata jangkauan total, umur rata-rata dan umur
sisa rata-rata.
Pengukuran
tersebut memberikan estimasi yang layak untuk perusahaan yang menggunakan oenyusustan
garis lurus tetapi tidak terlalau bermanfaat bagi perusahaan yang menggunakan
metode dipercepat. Pengukuran lain yang sering digunakan dalam analisis ini
adalah :
Rata-rata
jangkauan waktu total = umur rata-rata + umur sisa rata-rata
Tiap
pengukuran dapat memebantu menilai kebijakan dan keputusan penyusustan
sepanjang waktu. Umur rata-rata bagunan dan perlengkapan berguna untuk
mengevaluasi bebrapa factor seperti margin laba dan persyaratan pendanaan masa
depan.
Analisi Penurunan Nilai
Tiga
masalah analis yang timbul dari penurunan nilai adalah evaluasi kelayakan
jumlah penurunan nilai, evaluasi kelayakan waktu penurunan nilai, dan analisis
efek penurunan nilai terhadap laba.
Evaluasi
waktu penurunan asset juga cukup penting dan merupaka tugas analis tersulit.
Pertama perlu melakukan identifikasi asset yang diklasifikasikan akan turun,
kemudian mengukur presentase asset yang dihapus dan evaluasi apakah nilai
penghapusan layak atau tidak untuk kelas asset yang bersangkutan. Jika
penghapusa terjadi, akibat kelemahan industry secara keseluruhan maka nakan sengan bermanfaat apabila
membandingkan prosentase penghapusan yang dilakukan suatu perusahaan dengan
perusahaan lain di dalam industry yang sama.
8. ASET TIDAK
ERWUJUD
Asset
tidak berwujud merupakan hak, istimewa, dan manfaat kepemilikan atau
pengendalian.. Dengan karakteristik umum tingginya ketidak pastian masa manfaat
dan tidak adanya wujud fisik. Asset
tidak berwujud sering kali tidak dapat dipisahkan dari suatu perusahaan atau
segmennya, masa manfaat yang tidak terhingga, dan mengalami perubahan penilaian
yang besar karena kondisi yang kompetitif.
Terdapat
berbedaan penting antar akuntansi asset berwujid dan tak berwujud. Jika
perusahaan menggunakan bahan baku dan tenaga kerja untuk menciptakan asset
berwujud, perusahaan akan mengkapitalisasi biaya dan menyusutkannya sepanjang
masa manfaat. Sebaliknya jika perusahaan menghabisankan uang untuk mengiklankan
suatu produk atau melatih agen penjualan
perusahaan tidak dapat menkapitalisasi biaya ini meskipun terdapat
manfaat masa depan.
8.1 Akuntansi asset tak
berwujud
a. Asset tak berwujud
yang dapat diidentifiksikan merupaka asset tak
berwujud yang dapat diindenifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau keistimewaaan selama periode
manfaat yang terbatas.
b. asset tidak berwujud
yang tidak dapat diidentifikasikan merupakan asset yang
dapat dikembangkan secara internal atau dibeli namun tidak dapat
diidentifikasikan dan sering kali memiliki masa manfaat yang tak terhingga.
Misalnya good will, perusahaan harus
membebankan biaya pengembangan, pemeliharaan dan pemulihan asset tak berwujud
saat terjadnya, kecuali good will.
8.2 Amortisasi Asset Tak Berwujud
Saat
kapitalisasi iaya asset tak berwujud yang dapat atau tidak dapat
diidentifikasi, biaya tersebut selanjutnya harus diamortisasi sepanjang periode
masa manfaat asset. Jangka masa manfaat tergantung pada dari jenis, kondisi
permintaan, situasi kompetitif, hokum, kontrak, aturan atau batasan ekonomis
lainnya. Misalnya, hak paten merupakan hak eksekutif yang diberikan pemerintah
kepada investor selama periode tertentu.
8.3 Menganalisis Asset Tak Berwujud
Analisis
sering kali mencurigai asset tak berwujud saat menilai laporan keuangan. Asset
tak berwujud sering kali merupakan salah satu asset berharga yang dimiliki
perusahaan dan sering kali terjadi kesa;ahan penilaian yang serius. Misalnya, good will dicatat hanya oada saat
akuisisi, sebagian besar good will mungkin
terdapat pada neraca. Namun, sering kali good
will tercermin dalam kelebihan laba. Jika kelebihan laba tidak terbukti,
maka good will aik dibeli maupun
tidak, hanyalah bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai.
Dalam
menganalisis asset tidak berwujud, diperlukan suatu estimasi sendiri mengenai
penilaian asset. Analisis juga harus waspada terhadap komposisi, penilaian, dan
di posisi good will. Good will dihapus jika klebihan laba
mendasari eksistensinya tidak ada lagi.
8.4 Asset Tidak Berwujud Dan Kontinjensinya Yang
Tak Tercatat
Salah
satu asset penting dalam kategori ini adalah good will yang
diciptakan secara internal. Pengeluaran untuk menciptakan good will sering kali diebankan saat terjadinya. Jika good will diciptakan dan dapat dijual
dan menghasilkan laba yang lebih besar, laba saat ini terlalu rendah karena
pembebanan penegmbangan.
Salah
satu asset tak tercatat yang terkait
dengan pembebanan yang terkait dengan elemen jasa atau ide. Sebagai contoh
adalah program televises yang dicatat sebesar biaya tersembunyi untuk
menghasilkan penghasilan lisensi yang bernilai jutaan.
SUMBER
Subramanyam
K.R dan Wild, J.J; 2010, Analisi Laporan
Keuangan Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat
alur artikel ini sangat menarik..ku jadikan bahan sharing di kelas ya mba ..Terimakasih
BalasHapusKalau mau pake artikel ini baca yg baik dlu,soalnya banyak salah ketik 😊
BalasHapusKabar Baik, Setiap Satu. Nama saya Aris Setymin Dari Indonesia tapi aku tinggal di Prahova Rumania, aku cepat-cepat ingin menggunakan media ini untuk berbagi kesaksian tentang bagaimana Tuhan mengarahkan saya untuk pemberi pinjaman kredit Legit dan nyata yang telah mengubah hidup saya dari rumput untuk rahmat, saya pernah menjadi miskin wanita tapi dia telah berubah saya untuk orang kaya sekarang, karena saya sekarang dapat membanggakan dari hidup sehat dan kaya tanpa stres atau kesulitan keuangan.
BalasHapusSetelah berbulan-bulan mencoba untuk mendapatkan pinjaman di internet, saya ditipu oleh perusahaan pinjaman lain untuk membayar jumlah total Rp98,700,500, saya menjadi begitu putus asa dalam mendapatkan pinjaman dari pemberi pinjaman online yang sah yang tidak akan meningkatkan rasa sakit saya, jadi aku memutuskan untuk menghubungi seorang wanita yang baru saja pinjaman diterima secara online, kita membahas tentang masalah ini dan kesimpulan kami dia bercerita tentang seorang wanita bernama CYNTHIA JOHNSON yang merupakan CEO dari Cynthia Johnson Pinjaman Perusahaan.
Aku diterapkan untuk jumlah pinjaman ($520,000.00USD) dengan tingkat bunga rendah dari 2%, sehingga pinjaman disetujui dengan mudah tanpa stres dan semua persiapan dilakukan pada transfer kredit, karena fakta bahwa tidak memerlukan agunan untuk transfer pinjaman, saya hanya diberitahu untuk mendapatkan sertifikat lisensi kesepakatan dari mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam dan 20 menit pinjaman disetorkan ke rekening bank saya.
Jadi saya ingin saran siapa saja yang membutuhkan pinjaman untuk cepat menghubungi dia melalui: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dia tidak tahu bahwa saya melakukan ini dan saya berdoa agar Tuhan memberkati dia dan keluarganya untuk hal-hal baik yang telah dilakukan di hidupku. Anda juga dapat menghubungi saya di arissetymin@gmail.com untuk info lebih lanjut. dan di sini adalah email dari teman saya: ladymia383@gmail.com yang memperkenalkan saya kepada Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia.