Sindiran : Munamu atau Munaku?
Satu hal yang membuatku membatasi percakapanku dengan
orang-orang yang menurut mereka atau kadang menurutku layak menjadi teladan,
adalah aroma manis yang melupakan asam pahit pada sosok yang dijadikan
objek, sebuah ketertarikan atau
kekaguman.
Sesungguhnya aku berani berkata, tiada hal lain kecuali rasa
tidak enak, rayuan, harapan, ketika suara-suara lembut itu memujiku mengenakan
pembalut tubuh yang serupa dengan
mereka. Namun kesadaranku akan kebutaan hati yang mungkin aku alami meleburkan
uapan emosi dan meredamnya dengan sebuah kemunafikan fisik, senyum nista yang
kupasang canggung. Orang-orang itu beserta suaranya tidaklah bersalah, kepalaku memang
suka kegiatan jail seperti mencari kemungkinan adanya maksud lain dari suatu
kalimat pujian.
Betapa sebuah atau beberapa nama melekat pada renungan klise
kelopak mata yang terpejam, atau bibir yang mengganti dzikir dengan komat-kamit
gambaran tentang siluet lembut yang menari-nari dalam angan. Barang kali, sesungguhnya subjek-subjek
merana itu berusaha melenyapkan segala lelucon hidup atau keseriusan yang
mengukir garis dosa. Namun, terkadang bagian tubuh berusaha memerangi dan
mengalahkan bagian tubuh lainnya, tanpa sadar atau lupa sadar bahwa salah
satunya adalah pembunuh licik, teman iblis yang menyatu dalam satu tempat ,
gumpalan darah, hati.
Aku berdiri dengan tangan terlipat, bersandar pada tumpukan
bata bercat putih – lantai ke empat, terbakar kemuakan dan kekecewaan, jemu
menyaksikan kabut abu-abu antara kelembutan, keanggunan, kewibawaan, kealiman,
baju koko, jubah tebal dan asmara, senyum kaku, sentuhan berbatas kain,
tatapan, bualan, kerlingan. Maaf, aku
tidak tahan untuk tidak menyeret kata
beraroma agama pada tulisan kecil ini.
Aku yakin, remaja berjenggot tipis itu merealisasikan rencananya dengan
gadis berjubah yang kini duduk pada anak tangga pendek di depannya,mungkin
sebuah sapaan atau obrolan kecil tentang masa depan yang lebih kuartikan
sebagai guyonan kuno remaja masa puber yang takut dosa. Dan aku adalah
pengamat, penyidik bernoda hitam, berdosa, berprasangka buruk - bolehkah aku mengganti dua
pasang kata itu dengan kata lain yang lebih halus seperti
kecurigaan yang layak? Kalau tidak,
mungkin sebuah tamparan bisa kau arahkan untuk membungkamku.
Izinkan aku menggambarkan wanita dengan teropongku sendiri
seperti Lemah, mengambang, rapuh, luluh,
keras. Keras karena beberapa tamparan
kata kadang tidak mampu membunuh naluri kotor
kebutuhan akan suntikan bualan-bualan bodoh penggetar asmara. Dan
kejahatan halus adalah rencana pendekatan dengan analisis semu tentang
benar-salah, lanjut-berhenti. Renungan
kecil yang saling memukul, karena perasaan manis itu bukan dosa disisi lain
pengendalian yang ngawur adalah sebuah kesalahan nyata, karena berhenti memiliki resiko kesepian, kata
yang terdengar menjijikkan dalam terowong telingaku.
Tiba-tiba, dengan canggungnya, sebuah telepon genggam,
berpindah tangan. Sekali lagi, izinkan aku mengungkapkan kecurigaan dan
kemuakanku. Rasa yang terlihat berapi-api itu bukan tanpa nasihat dari orang-orang
yang perhatian, bahkan nurani mereka merasa tidak bebas. Namun itulah manusia,
pikiran tidak hanya garis tunggal yang lurus, beberapa diantaranya saling
bertentangan dalam satu waktu.
Masih pada tempat dan
posisi yang sama, aku, si kabut hitam - bukan abu-abu lagi, bergaya abstrak,
tak tertutup sempurna, dosa melekat, sekitar tigapuluh meter dari mereka,
menyaksikan percobaan liar – liar dalam versi orang-orang seperti mereka dan
aku, remaja-remaja lain mungkin menilai hal tersebut hanya seperti memasukan
sambal dalam menu pencuci mulut, bisa-biasa saja – untuk berdua, berdampingan,
miskin alasan, tanpa terdengar tetapi bukan berarti luput dari penglihatan,
ketidak sengajaanku.
Senyum kecutku membalas bunga-bunga yang bertebaran di atas
ubun-ubun keduanya. Bukan iri, sirik atau kekonyolan lain yang mengarah pada
pasang kata “ingin seperti”, bahkan aku berharap ada sesuatu yang menutup
keduanya, untuk melindungi nama-nama yang terjaga, karena manusia lebih suka
menyeret kelompok dari pada memilah. Begitulah, seolah otak manusia diset untuk
lebih menyukai sesuatu yang tidak rumit dan atau merepotkan.
Aku membuka-buka lagi
toples harapan yang aku simpan sebelum bergabung dengan mereka dan terus
bercermin pada kaca semu yang hanya tinggal dalam imajinasiku, tampak seorang
bocah mengerikan mengutuk dua orang remaja yang jauh lebih baik dari dirinya,
menyedihkan. Kemudian pikiran baik sibuk
membisikkan kalimat bijak, pemandangan kecil yang baru saja aku amati hanyalah
goresan kecil yang tidak layak dijadikan alasan “tidak suka”, aku menerimanya.
Teringat
kembali bau wangi yang ku gambarkan - sekali lagi lewat imajinasiku – ketika
bersama dengan mereka menyimak nasihat-nasihat, kisah-kisah, pada saat itu aku
benar-benar merasa berada pada tempat yang benar. Sebuah kata terbentuk dari
tujuh hurup berawal dengan huruf U
dan berakhir dengan hurup H, U…..H, yang bisa diartikan sebagai ikatan persaudaraan sekonyong-konyong menjadi
hubungan yang aku sukai, terlebih ketika mendengar sebuah lagu yang bertemakan
hal itu, senandung yang menyejukkan. Harapan adalah harapan, terkesan sempurna,
akan menyisakan kekecewaan ketika kenyataannya tidak demikian, dan manusia
sering terlambat menyadarinya. Ini soal
bagaimana memusatkan pemikiran atau tujuan atau keharusan, seseorang mungkin
bisa membantuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar