Rabu, 03 April 2013


Sindiran  : Munamu atau Munaku?

Satu hal yang membuatku membatasi percakapanku dengan orang-orang yang menurut mereka atau kadang menurutku layak menjadi teladan, adalah aroma manis yang melupakan asam pahit pada sosok yang dijadikan objek,  sebuah ketertarikan atau kekaguman.  

Sesungguhnya aku berani berkata, tiada hal lain kecuali rasa tidak enak, rayuan, harapan, ketika suara-suara lembut itu memujiku mengenakan pembalut tubuh  yang serupa dengan mereka. Namun kesadaranku akan kebutaan hati yang mungkin aku alami meleburkan uapan emosi dan meredamnya dengan sebuah kemunafikan fisik, senyum nista yang kupasang canggung.  Orang-orang itu beserta suaranya tidaklah bersalah, kepalaku memang suka kegiatan jail seperti mencari kemungkinan adanya maksud lain dari suatu kalimat pujian.

Betapa sebuah atau beberapa nama melekat pada renungan klise kelopak mata yang terpejam, atau bibir yang mengganti dzikir dengan komat-kamit gambaran tentang siluet lembut yang menari-nari dalam angan.  Barang kali, sesungguhnya subjek-subjek merana itu berusaha melenyapkan segala lelucon hidup atau keseriusan yang mengukir garis dosa. Namun, terkadang bagian tubuh berusaha memerangi dan mengalahkan bagian tubuh lainnya, tanpa sadar atau lupa sadar bahwa salah satunya adalah pembunuh licik, teman iblis yang menyatu dalam satu tempat , gumpalan darah, hati.

Aku berdiri dengan tangan terlipat, bersandar pada tumpukan bata bercat putih – lantai ke empat, terbakar kemuakan dan kekecewaan, jemu menyaksikan kabut abu-abu antara kelembutan, keanggunan, kewibawaan, kealiman, baju koko, jubah tebal dan asmara, senyum kaku, sentuhan berbatas kain, tatapan, bualan, kerlingan. Maaf,  aku tidak tahan untuk tidak menyeret   kata beraroma agama pada tulisan kecil ini.  Aku yakin, remaja berjenggot tipis itu merealisasikan rencananya dengan gadis berjubah yang kini duduk pada anak tangga pendek di depannya,mungkin sebuah sapaan atau obrolan kecil tentang masa depan yang lebih kuartikan sebagai guyonan kuno  remaja  masa puber yang takut dosa. Dan aku adalah pengamat, penyidik bernoda hitam, berdosa, berprasangka buruk - bolehkah aku mengganti  dua pasang  kata  itu dengan kata lain yang lebih halus seperti kecurigaan yang layak? Kalau tidak, mungkin sebuah tamparan bisa kau arahkan untuk membungkamku.

Izinkan aku menggambarkan wanita dengan teropongku sendiri seperti  Lemah, mengambang, rapuh, luluh, keras. Keras  karena beberapa tamparan kata kadang tidak mampu membunuh naluri kotor  kebutuhan akan suntikan bualan-bualan bodoh penggetar asmara. Dan kejahatan halus adalah rencana pendekatan dengan analisis semu tentang benar-salah, lanjut-berhenti.  Renungan kecil yang saling memukul, karena perasaan manis itu bukan dosa disisi lain pengendalian yang ngawur adalah sebuah kesalahan nyata,  karena berhenti memiliki resiko kesepian, kata yang terdengar menjijikkan dalam terowong telingaku.  

Tiba-tiba, dengan canggungnya, sebuah telepon genggam, berpindah tangan. Sekali lagi, izinkan aku mengungkapkan kecurigaan dan kemuakanku. Rasa yang terlihat berapi-api itu bukan tanpa nasihat dari orang-orang yang perhatian, bahkan nurani mereka merasa tidak bebas. Namun itulah manusia, pikiran tidak hanya garis tunggal yang lurus, beberapa diantaranya saling bertentangan dalam satu waktu. 

Masih pada tempat dan posisi yang sama, aku, si kabut hitam - bukan abu-abu lagi, bergaya abstrak, tak tertutup sempurna, dosa melekat, sekitar tigapuluh meter dari mereka, menyaksikan percobaan liar – liar dalam versi orang-orang seperti mereka dan aku, remaja-remaja lain mungkin menilai hal tersebut hanya seperti memasukan sambal dalam menu pencuci mulut, bisa-biasa saja – untuk berdua, berdampingan, miskin alasan, tanpa terdengar tetapi bukan berarti luput dari penglihatan, ketidak sengajaanku. 

Senyum kecutku membalas bunga-bunga yang bertebaran di atas ubun-ubun keduanya. Bukan iri, sirik atau kekonyolan lain yang mengarah pada pasang kata “ingin seperti”, bahkan aku berharap ada sesuatu yang menutup keduanya, untuk melindungi nama-nama yang terjaga, karena manusia lebih suka menyeret kelompok dari pada memilah. Begitulah, seolah otak manusia diset untuk lebih menyukai sesuatu yang tidak rumit dan atau merepotkan. 

Aku membuka-buka lagi  toples harapan yang aku simpan sebelum bergabung dengan mereka dan terus bercermin pada kaca semu yang hanya tinggal dalam imajinasiku, tampak seorang bocah mengerikan mengutuk dua orang remaja yang jauh lebih baik dari dirinya, menyedihkan.  Kemudian pikiran baik sibuk membisikkan kalimat bijak, pemandangan kecil yang baru saja aku amati hanyalah goresan kecil yang tidak layak dijadikan alasan “tidak suka”, aku menerimanya. 

Teringat kembali bau wangi yang ku gambarkan - sekali lagi lewat imajinasiku – ketika bersama dengan mereka menyimak nasihat-nasihat, kisah-kisah, pada saat itu aku benar-benar merasa berada pada tempat yang benar. Sebuah kata terbentuk dari tujuh hurup berawal dengan huruf U dan berakhir dengan hurup H, U…..H, yang bisa diartikan sebagai  ikatan persaudaraan sekonyong-konyong menjadi hubungan yang aku sukai, terlebih ketika mendengar sebuah lagu yang bertemakan hal itu, senandung yang menyejukkan. Harapan adalah harapan, terkesan sempurna, akan menyisakan kekecewaan ketika kenyataannya tidak demikian, dan manusia sering terlambat menyadarinya. Ini soal bagaimana memusatkan pemikiran atau tujuan atau keharusan, seseorang mungkin bisa membantuku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar