Dalam sistem keuangan, uang tidak hanya dianggap sebagai alat tukar
ataupun satuan hitung melainkan “raja” yang harus dilayani. Uang adalah alat
penuhan kebutuhan masyarakat baik untuk kebutuhan yang sederhana seperti makan,
beramal sampai kegiatan bisnis. Uang
adalah alasan bank menawarkan banyak hal kepada nasabah, demi uang juga bank
menyediakan keistimewaan berupa fasilitas yang luar biasa kepada nasabah
prioritas. Para korporasi berlomba-lomba dalam menarik hati konsumen dengan
menawarkan fasilitas, serta produk baik barang ataupun jasa juga untuk uang.
bahkan, pemerintah melakukan serangkaian kebijakan fiscal, moneter semua untuk
uang (stabilitasi). Namun dalam perkembangannya, terdapat filosofi tentang uang yang diantaranya
adalah:
1.
Reality vs
problem
2.
Good vs
evil
3.
Stability
vs instability
4.
Creating
vs destroying
5.
Partner vs
rivals
6.
Rependent
vs influence
7.
Object of
cognition
8.
Value vs
thing
9.
Measure of
all thing
10.
Limit vs
limitless
Realitinya, setiap orang membutuhkan uang. namun, banyak masalah yang
timbul karena factor ekonomi, social, dan uang. orang membunuh dan atau bunuh
diri karena uang, mencuri untuk mendapatkan uang, korupsi juga untuk uang,
beban hidup sering berasal dari factor uang. symbol kapitalisme menjadi ukuran
kehebatan serta kekuasaan yang pada akhirnya menimbulkan masalah. Sebagian
orang tidak lagi memprioritaskan kenyamanan atau keamanan dalam memilih produk,
melainkan merk (brind), ingin di anggap termasuk golongan masyarakat berkelas. Dari pada harus membohongi diri dan
membohongi orang lain, lebih baik membiarkan orang mempersepsikan diri kita
sesuai persepsi mereka. Untuk apa membeli mobil berkecepatan tinggi yang
harganya melangit padahal kenyamanan dan keamanan tidak jauh berbeda dengan
mobil yang harganya 50% lebih murah? Toh hampir setiap menit Jakarta macet,
paling cepat kita memakai kecepatan 60 km/jam itupun sudah maksimal dan jarang
sekali
Uang akan menjadi sumber kebajikan ketika bisa menggunakannya dengan
baik, misalnya untuk beramal sementara
untuk membantu pembangunan masjid, semen tidak akan dating hanya dengan senyum. Senyum
memang sedekah, tapi kalau ada orang yang kelaparan cukupkah kita sedekah
senyum? *malah dianggap ngece, ada orang laper kok malah cengengesan. Sedekah
makanan? Beli makanan kan juga pakai uang bro.
J.
Sebaliknya, uang bisa menjadi sumber kejahatan ketika tidak bisa menggunakannya
dengan baik, contihnya kasus narkoba. Banyak masyarakat yang status sosialnya
tinggi seperti artis yang terjebak jeruji besi karena tidak mempu menggunakan
uangnya dengan baik (control). Lho kan
banyak juga orang miskin yang terjebak kasus narkoba? Mereka dapat barangnya
masa tidak pake uang? kan dikasih temannya, berarti kan bergaulan, kok nyalahin
uang terus? Nah berarti temannya yang tidak pandai menggunakan uang dengan baik
J.
Nilai uang yang stabil dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan
dunia usaha dalam melakukan berbagai aktivitas ekonomi, sehingga perekonomian
nasional dapat bergairah. Namun, uang sering kali mengalami instability, harga
produk hampir selalu mengalami fluktuasi. Jika jumlah uang yang beredar
terlampau banyak atau sedikit makan akan terjadi instability, untuk itu
dibutuhkan serangkaian kebijakan dalam mengatasinya. Dalam hal ketenangan, menteri hampir sama dengan tukang becak. Tukang
becak encok karena tidur berkasur dipan
yang kurang datar (contohnya ngeri banget), sedangkan menteri perekonomian
tidur dikasur empuk sambil menggalaukan harga bawang seperangkatnya.
Uang dapat menciptakan keharmonisan namun juga dapat merusak/
menghancurkan keharmonisan. Gaji pertama akan menarik simpati istri,
kebahagiaan keluarga terlihat ketika anggota keluarganya mendapat promosi
jabatan. Namun, gaji yang tinggi juga akan memicu timbulnya disharmonisasi.
Selain contoh tersebut, dalam kenyataannya matrealisme semakin menggerogoti
budaya yang baik dalam masyarakat. Budaya gotong royong sulit atau bahkan tidak
akan berjalan jika tidak disokong dengan uang atau materi. Masyarakat kaya
lebih memilih mengeluarkan uang dari pada menyumbangkan tenaganya.
Dalam merintis sebuah usaha, seseorang perlu menghimpun partner guna
mendapatkan dana yang memadai. Proporsi kepemilikan modal sesuai dengan jumlah
modal yang ditanamkan, siapa yang memiliki modal terbesar, dia yang akan
menguasai. Sehingga yang awalnya partner akan bersaing untuk menjadi penguasa
atas usaha tersebut.
Tanpa uang akan selalu tergantung dan mudah terinfeksi dalam hal
apapun. Tanpa uang suara kita kurang didengar. Tidak punya uang berarti tidak
punya kekuasaan, semakin banyak uang semakin banyak yang mendekati. Karena
tingkat pendapatan mempengaruhi nilai tawar seseorang, maka semakin tinggi
pendapatan seseorang akan semakin besar proporsi kekuasaannya.
Sering kali orang tidak terlalau memperdulikan rsiko karena tergiur
dengan return yang tinggi. Kapitalis berhasil mengubah keinginan menjadi
kebutuhan. Setiap orang ingin dipuji dan diakui mempunyai nilai lebih dari yang
lain, hal ini dimanfaatkan kapitalis dalam menawarkan produk-produk bermerk nan
mahal. Sehingga yang membeli produk tersebut akan merasa mendapatkan nilai yang
lebih di masayar.
Uang dapat memupuk kesombongan.
Untuk menghindari sombong, salah satu caranya adalah berpenampilan yang
sederhana. Namun, kesederhanaan justru akan menjadi kesombongan jika
kesederhanaan itu dibuat-buat dan sengaja ingin dinilai sederhana oleh orang
lain.
Selain itu uang juga dapat mempersingkat
kepuasaani. Sebelum mendapatkan pekerjaan seseorang akan merasa puas dengan
gaji Rp 500.000, setelah dia mendapatkan gaji sebesar itu dia akan mengharapkan
yang lebih, begitu seterusnya.
Sekian sekilas filosofi Uang, karena kini uang telah menjadi suatu komoditas (objek transaksi), untuk itu sebelum melakukan investasi hendaknya melihat terlebih dahulu filosofi uang yang berkembang dalam suatu masyarakat. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar