Sabtu, 30 Maret 2013


Dia
Dia adalah Fati, salju yang mengagumkan di puncak Himalaya. Bukan, dia bahkan tidak pernah ke tempat itu dia lebih sering mengganggu ketenangan hatiku. dia adalah kebodohan dan keburukanku, bergaris senyum manis, periang,  seorang yang cerdas diantara yang aku kenal waktu itu. Pandangan mempesona adalah pandangan yang sepertinya. Senyum manis adalah senyum yang melukis garis bibirnya. inilah perpisahaan yang membuatku berfikir. dia yang akan selalu tinggal dihatiku. Orang baru yang mungkin akan datang bukanlah seorang pengganti, dia adalah pelengkap taman kita.
Aku tidak cukup cerdas untuk menjual hatiku dengan harga yang mahal. Kepergiannya membuat sesuatu dibalik rusukku terasa sakit. Banyangan siluet tubuhnya membuatku limbung dan terhuyung. Bahkan aku tidak mampu menghibur ingatanku sendiri, dia yang membuat hatiku berhenti terbuka.
Harusnya aku menuruti permintaannya sebelum keterlambatan ini terjadi. Kebodohan pertamaku adalah ketika aku terlambat menyadari bahwa aku terlalu peduli dengan perasaan yang masih abstrak unjungnya. Penyesalan pertama adalah ketika dia memintaku memutar otak untuk perpisahaan yang akan menjadi sebuah keindahan, permintaan tulus yang aku tolak karena keegoisan seorang pria, naluriku mendorongku untuk lebih memilih ketakutan akan kehilangan kisah manis walau ku tahu kita tidak mungkin tidak mampu melewatinya dari pada pilihan apapun yang ditawarkan.
Aku dan dia adalah dua karakter yang seharusnya sulit untuk diserasikan. Hampir tidak ada yang percaya bahwa kita pernah menjadi sejoli yang dekat, lebih dekat antar jarak alis dengan garis kelopak mataku. Cinta yang berjalan tanpa sentuhan, tanpa sentuhan kecuali rasa yang melebur dari dua hati yang berbeda. Hatinya menyentuh hatiku, dan aku melelehkan perekat diantaranya, sebuah jebakan yang lebih sering melukis badai musim salju dari pada rumput hijau di musim semi.


 
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar