Senin, 25 Maret 2013




Lembar roti pertama adalah kamu dan yang lainnya adalah aku, masalalu yang disatukan kelembutan selai kacang, rasa kesukaan kita.  

kau sering menawariku selaikacang hasil experimenmu, kemudian berspekulasi tentang masa depan yang masih terlalu abstrak bagi kita, bahkan saat itu aku belum memikirkan bagaimana rasanya bangun pagi dan menyiapkan susu juga sarapan untuk orang lain. 

kau bercerita panjang lebar tentang mimpimu, bisnis, pernikahan, kematian.  kau menyisipkan kata “kita” hampir disetiap kalimatmu, membuatku tersipu kemudian kita tertawa.

Kepolosan menyamarkan takdir buruk yang sangat mungkin mengiringi langkah kita, langkah yang tidak pernah mundur, yang hanya bisa disesali, kemudian dengan bodoh kita bertanya “mengapa kita dipertemukan?”

Sekarang, ketika telah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang dewasa, kepolosan itu berangsur-angsur lenyap, kita jarang tertawa, setiap obrolan adalah awal dari air mata. Aku bertanya padamu “Bagaimana bisa lezatnya selai kacang bisa melupakan siapa kita, siapa aku dan siapa kamu? Bagaimana kita lupa memikirkan itu?” perpisahan, kata yang lebih menyakitkan ketika bersatu adalah mimpi yang sudah lama kita rencanakan. Tidakkah kita benar-benar bodoh, bagaimana mungkin kita merencanakan mimpi?

Aku sempat menangis mendapatimu tidak menyangka bahwa aku benar-benar bisa jauh darinya, selai kacang. Kenangan itu begitu mudah kembali pada ingatanku, beberapa detik aku tersiksa,  percakapan yang hanya lewat telepon itu menjadi hening. 

kaupun  mulai menikmati kopi, minuman yang paling kamu benci, bahkan pada aromanya.  apa itu karena masalalu?  

Lalu, entah itu adalah kado atau ujian dari Tuhan. Kita mendapatkan beberapa jam untuk saling menatap, bercakap dan berspekulasi tanpa jarak. Terminal itu adalah tempat yang akan selalu mengganggu ingatanku, tempat dimana kamu menyampaikan kalimat yang mengkikis ketegaranku, dinding yang kubangun dengan keangkuhan.

“mungkin lebih layak disebut atheis, Aku tidak tahu harus meminta kepada siapa, harus berdoa kepada siapa? aku sudah meragukan nama yang ku agungkan di masa kecilku, di sisi lain aku masih ragu untuk mengagungkan nama yang baru, nama yang kau kenalkan padaku, terlalu takut, bukan karena meragukan kebenarannya, aku hanya belum siap dengan lingkunganku. Yang kupikirkan sekarang hanyalah membawamu lari, pergi ketempat yang jauh, tempat yang baru, agar aku tenang memilih bersamamu. Hanya aku dan kamu,  lalu aku akan menjadi  imam yang baik, aku akan berusaha.. mengimamimu menyembah Allah. kalau kau ingin hidup bersamaku, katakanlah… secepatnya, dan aku akan melakukan rencana itu”

Air mata adalah ekspresi bahagiaku saat itu. sayangku, aku tidak ingin kau bersyahadat hanya karena ingin bersamaku. Aku sendiri tidak bisa menjamin kau akan selalu lurus, aku menginginkan imam yang mampu menasihatiku, membimbingku, membenarkan ketika aku salah. Memang, aku bukan wanita yang taat, bejilbab besar,  memakai rok ataupun jubah, tapi tidak layakkah aku mendapatkan yang seperti itu? 

Ketahuilah sayang... kesempatan bukanlah kembali menjalin kasih, aku ingin kita saling memperbaiki diri, bukan untuk mendapakan satu sama lain, tapi semata-mata karena DIA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar