Lembar roti
pertama adalah kamu dan yang lainnya adalah aku, masalalu yang disatukan
kelembutan selai kacang, rasa kesukaan kita.
kau sering
menawariku selaikacang hasil experimenmu, kemudian berspekulasi tentang masa
depan yang masih terlalu abstrak bagi kita, bahkan saat itu aku belum
memikirkan bagaimana rasanya bangun pagi dan menyiapkan susu juga sarapan untuk
orang lain.
kau
bercerita panjang lebar tentang mimpimu, bisnis, pernikahan, kematian. kau menyisipkan kata “kita” hampir disetiap
kalimatmu, membuatku tersipu kemudian kita tertawa.
Kepolosan menyamarkan
takdir buruk yang sangat mungkin mengiringi langkah kita, langkah yang tidak
pernah mundur, yang hanya bisa disesali, kemudian dengan bodoh kita bertanya
“mengapa kita dipertemukan?”
Sekarang,
ketika telah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang dewasa, kepolosan itu
berangsur-angsur lenyap, kita jarang tertawa, setiap obrolan adalah awal dari
air mata. Aku bertanya padamu “Bagaimana bisa lezatnya selai kacang bisa
melupakan siapa kita, siapa aku dan siapa kamu? Bagaimana kita lupa memikirkan
itu?” perpisahan, kata yang lebih menyakitkan ketika bersatu adalah mimpi yang
sudah lama kita rencanakan. Tidakkah kita benar-benar bodoh, bagaimana mungkin kita
merencanakan mimpi?
Aku sempat
menangis mendapatimu tidak menyangka bahwa aku benar-benar bisa jauh darinya,
selai kacang. Kenangan itu begitu mudah kembali pada ingatanku, beberapa detik
aku tersiksa, percakapan yang hanya
lewat telepon itu menjadi hening.
kaupun mulai menikmati kopi, minuman yang paling
kamu benci, bahkan pada aromanya. apa
itu karena masalalu?
Lalu, entah itu
adalah kado atau ujian dari Tuhan. Kita mendapatkan beberapa jam untuk saling
menatap, bercakap dan berspekulasi tanpa jarak. Terminal itu adalah tempat yang
akan selalu mengganggu ingatanku, tempat dimana kamu menyampaikan kalimat yang
mengkikis ketegaranku, dinding yang kubangun dengan keangkuhan.
“mungkin
lebih layak disebut atheis, Aku tidak tahu harus meminta kepada siapa, harus
berdoa kepada siapa? aku sudah meragukan nama yang ku agungkan di masa kecilku,
di sisi lain aku masih ragu untuk mengagungkan nama yang baru, nama yang kau
kenalkan padaku, terlalu takut, bukan karena meragukan kebenarannya, aku hanya
belum siap dengan lingkunganku. Yang kupikirkan sekarang hanyalah membawamu
lari, pergi ketempat yang jauh, tempat yang baru, agar aku tenang memilih
bersamamu. Hanya aku dan kamu, lalu aku
akan menjadi imam yang baik, aku akan
berusaha.. mengimamimu menyembah Allah. kalau kau ingin hidup bersamaku,
katakanlah… secepatnya, dan aku akan melakukan rencana itu”
Air mata
adalah ekspresi bahagiaku saat itu. sayangku, aku tidak ingin kau bersyahadat
hanya karena ingin bersamaku. Aku sendiri tidak bisa menjamin kau akan selalu
lurus, aku menginginkan imam yang mampu menasihatiku, membimbingku, membenarkan
ketika aku salah. Memang, aku bukan wanita yang taat, bejilbab besar, memakai rok ataupun jubah, tapi tidak
layakkah aku mendapatkan yang seperti itu?
Ketahuilah sayang... kesempatan
bukanlah kembali menjalin kasih, aku ingin kita saling memperbaiki diri, bukan
untuk mendapakan satu sama lain, tapi semata-mata karena DIA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar