Sabtu, 23 Februari 2013

Lol


Ben berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan hati Jenni. Melihat banyak teman yang ditolak mentah-mentah oleh gadis bertampang sangat biasa itu, Ben merasa kejantanannya tertantang.  Sepuluh menit lagi Jenni keluar dari kelas Statistiknya, Ben tahu itu. Kerenanya Ben dengan segala trik lelaki yang ia yakini dan gaya yang menurutnya adalah “gaya cowok idaman seorang gadis IP oriented seperti Jenni” – yang sebenarnya bukan Ben banget – sangat yakin hari ini Jenni tidak akan punya alasan untuk tidak menerima bualannya.
Ben melihat gadis incerannya keluar kelas, mengambil waktu beberapa menit untuk mengamati gadis itu – tidak ada tampang rajin di wajahnya, justru terkesan seperti gadis yang cuek dengan segala hal, ranselnya terlihat tak terisi buku, bahkan tangannya tidak memegang apapun kecuali Hp, tak ada jam tangan atau apapun.
“Hai” Ben menepuk pundak Jenni dengan ekspresi gugup yang dibuat-buat. Kemudian menarik tangan Jenni menjauh dari keramaian.
“Lo yang kemarin kan?” Tanya Jenni dengan ekspresi heran
“Duduk dulu, gue ingin bicara, please” Jurus pertama Ben, mengikat mangsanya dengan makanan palsu.
*2 minutes later
“Entah ajaib atau apa, lo hadir di mimpi gue dan rasanya nyata banget” Ben mengambil jeda, seolah ini suatu yang sangat berat diungkapkan. “gue terbangun saat gue belum bisa menyapa lo saat itu, gue merasa sial belum sempat tanya siapa nama lo, kejadiannya cepet benget. Tapi jelas di bangun gue kalau itu elo. gadis yang baru sekali gue pernah lihat, gadis pertama yang menginjak kaki gue di depan orang banyak, bukan yang lain.” Lanjut Ben dengan gaya mengenang moment yang dibuat-buat.
“Terus lo mau gue percaya dengan cerita fiksi yang sengaja lo buat ini?” Jenni mengernyitkan jidat.
“Setidaknya gue jujur, gue aja ngerasa nggak pantes cerita soal mimpi laki-laki, gue malah kelihatan cengeng.” Ben menundukkan muka. “tapi gue lega, akhirnya gue bisa bagi cerita ini sama bagian terpenting dari mimpi gue” jurus kedua.
“Gue nggak lagi nyepik Jen, gue berusaha jujur soal kejadian di mimpi gue.”  Ben berhenti, Ia meremas tangannya sendiri. “Dan di hati gue ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan memaksa gue buat mengenalmu lebih dekat” jurus ketiga.
Jenni mulai bungkam, bukan karena terbius rayuan Ben,  tapi justru mengenalisa setiap kalimat yang muncul dari mulut Ben.
“Kopi yang gue minum saat ini, pekat agak manis, seperti rasa penasaran gue sama elo.” lanjut Ben sambil menimang gelas kopi di tangannya.
“Seperti rasa penasaran lo sama rasa kopi, lo akan berhenti penasaran setelah lo berhasil dapetin gue.” Balas Jen.
“Gue suka kopi, dan lo akan terus jadi penasaran gue. Ini cinta Jen bukan permainan sebuah rasa yang mudah hilang. It sounds simple, but I love you as you are.” Balas Ben tenang, yakin.
I am touched Ben, tapi lo nggak bisa make cara yang sama buat ngedapetin semua cewek.” Kata Jen lirih.
Ben memegang lembut tangan Jenni. “ini yang bikin gue ragu buat ngungkapin semuanya ke lo Jen, keresahan gue adalah jawaban lo yang sudah gue prediksi sebelumnya, kalau lo pasti ngira gue palsu. Mungkin karena menurut lo, gue semacam laki-laki tipikal….. bisanya ngerusak. Jen gue bukan cowok brengsek seperti yang mereka pikir, gue nggak mungkin mutusin mereka kalau mereka emang pantas buat dipertahanin” Ben menitikkan air mata buaya, jurus ke empat.
“Gue benci laki-laki yang nggak tahu malu, menangis di depan cewek demi mendapakan sebuah simpaty” kata Jen tegas.
“Gemetarnya gue, resahnya gue adalah rasa nggak percaya lo sama gue” Ben menatap dalam mata Jen. Jurus kelima. “Tapi bagaimanapun juga semua terserah lo Jen, yang penting gue udah ledakin semuanya langsung di depan lo. gue pun terlambat menyadari ini”
Hening,
“Jen, gue nunggu respon dari lo yang bisa bikin gue makin yakin, bahwa lo adalah yang terpenting dari kehadiran gue di sini” Ben menundukkan muka, seolah hatinya sakit bagai tercabik kuku koala.
“Gue nggak peduli lo ngerayu atau apa, tapi… gue, gue suka lo Ben. Mungkin gue adalah cewek paling bodoh dan mudah, bisa lo takhlukin hanya dalam waktu yang nggak lebih banyak dari 50 menit”
“Thanks Jen, I love you before you realize it.”
“Selamat! gue berhasil jadi korban lo” Kata Jen lembut sambil tersenyum manis ke arah Ben.
“Pemikiran lo sendiri yang bikin lo jadi korban, bagi gue lo tamu teristimewa di dunia gue.” Kata ben yakin sambil memegang erat tangan Jen.
“LOL wkwkwk kena deh! Lo nggak bisa semudah itu hancurin dinding pertahanan gue Ben, gue tahu maksud tersirat dari semua ini. Lo ngerencanain semua, termasuk pertemuan pertama kita. Lo lupa? Lo menciptakan scenario seolah gue nginjek kaki lo yang emang udah dulu selonjor. Lo pikir gue nggak tahu kalau sebelum posisi gue deket, kaki lo nggak berada pada posisi yang memungkinkan gue buat nginjek. Tapi setelah gue mulai deket lo selonjoron kaki lo, dan sebenernya bukan injekan gue yang bikin spatu lo kotor, tapi spatu lo yang lain. Gue pura-pura nggak tahu saja, gue anggap itu cara lo membuat guyonan.”
“Kesalahan terbesar lo adalah kopi, lo bodoh banget pake rayuan pasaran bertema kopi. Itu yang bikin gue berkesimpulan bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut lo, udah lo seting sebelum obrolan kita hari ini dimulai. Lol your time is over Ben, I've gotta go.” Jenni tersenyum menang, hati Ben benar-benar remuk, niatnya buat hancurin Jenni makin menggebu. “Dare to try it again?” Bisik Jeni dengan nada meremehkan.
Ben shock, Ini memang bukan kali pertama Ben di tolak cewek, dan Jeni juga bukan cewek pertama yang menolaknya. Tapi hari ini adalah pengalaman paling mengerikan dalam sejarah petualangan cintanya. Ben berjanji,  dia tidak akan mati sebelum menggenggam hati Jeni. Dan hari ini beserta semua yang Jen lakukan, nggak akan bisa dia lupakan sampai mati. Ben mulai sadar bahwa, cara Jen buat menghancurkan hatinya kelewat kejam, Jen membuatnya merasa diatas angin kemudian dengan sadis jen menjatuhkannya tanpa ampun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar