Ben
berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan hati Jenni. Melihat banyak
teman yang ditolak mentah-mentah oleh gadis bertampang sangat biasa itu, Ben
merasa kejantanannya tertantang. Sepuluh
menit lagi Jenni keluar dari kelas Statistiknya, Ben tahu itu. Kerenanya Ben
dengan segala trik lelaki yang ia yakini dan gaya yang menurutnya adalah “gaya
cowok idaman seorang gadis IP oriented seperti Jenni” – yang sebenarnya bukan
Ben banget – sangat yakin hari ini Jenni tidak akan punya alasan untuk tidak
menerima bualannya.
Ben
melihat gadis incerannya keluar kelas, mengambil waktu beberapa menit untuk
mengamati gadis itu – tidak ada tampang rajin di wajahnya, justru terkesan
seperti gadis yang cuek dengan segala hal, ranselnya terlihat tak terisi buku,
bahkan tangannya tidak memegang apapun kecuali Hp, tak ada jam tangan atau
apapun.
“Hai”
Ben menepuk pundak Jenni dengan ekspresi gugup yang dibuat-buat. Kemudian
menarik tangan Jenni menjauh dari keramaian.
“Lo
yang kemarin kan?” Tanya Jenni dengan ekspresi heran
“Duduk
dulu, gue ingin bicara, please” Jurus pertama Ben, mengikat mangsanya dengan
makanan palsu.
*2 minutes later
“Entah
ajaib atau apa, lo hadir di mimpi gue dan rasanya nyata banget” Ben mengambil
jeda, seolah ini suatu yang sangat berat diungkapkan. “gue terbangun saat gue
belum bisa menyapa lo saat itu, gue merasa sial belum sempat tanya siapa nama
lo, kejadiannya cepet benget. Tapi jelas di bangun gue kalau itu elo. gadis
yang baru sekali gue pernah lihat, gadis pertama yang menginjak kaki gue di
depan orang banyak, bukan yang lain.” Lanjut Ben dengan gaya mengenang moment
yang dibuat-buat.
“Terus
lo mau gue percaya dengan cerita fiksi yang sengaja lo buat ini?” Jenni
mengernyitkan jidat.
“Setidaknya
gue jujur, gue aja ngerasa nggak pantes cerita soal mimpi laki-laki, gue malah
kelihatan cengeng.” Ben menundukkan muka. “tapi gue lega, akhirnya gue bisa bagi
cerita ini sama bagian terpenting dari mimpi gue” jurus kedua.
“Gue
nggak lagi nyepik Jen, gue berusaha jujur soal kejadian di mimpi gue.” Ben berhenti, Ia meremas tangannya sendiri.
“Dan di hati gue ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan memaksa gue buat mengenalmu
lebih dekat” jurus ketiga.
Jenni
mulai bungkam, bukan karena terbius rayuan Ben,
tapi justru mengenalisa setiap kalimat yang muncul dari mulut Ben.
“Kopi
yang gue minum saat ini, pekat agak manis, seperti rasa penasaran gue sama
elo.” lanjut Ben sambil menimang gelas kopi di tangannya.
“Seperti
rasa penasaran lo sama rasa kopi, lo akan berhenti penasaran setelah lo
berhasil dapetin gue.” Balas Jen.
“Gue
suka kopi, dan lo akan terus jadi penasaran gue. Ini cinta Jen bukan permainan
sebuah rasa yang mudah hilang. It sounds
simple, but I love you as you are.” Balas Ben tenang, yakin.
“I am touched Ben, tapi lo nggak bisa
make cara yang sama buat ngedapetin semua cewek.” Kata Jen lirih.
Ben
memegang lembut tangan Jenni. “ini yang bikin gue ragu buat ngungkapin semuanya
ke lo Jen, keresahan gue adalah jawaban lo yang sudah gue prediksi sebelumnya,
kalau lo pasti ngira gue palsu. Mungkin karena menurut lo, gue semacam
laki-laki tipikal….. bisanya ngerusak. Jen gue bukan cowok brengsek seperti
yang mereka pikir, gue nggak mungkin mutusin mereka kalau mereka emang pantas
buat dipertahanin” Ben menitikkan air mata buaya, jurus ke empat.
“Gue
benci laki-laki yang nggak tahu malu, menangis di depan cewek demi mendapakan
sebuah simpaty” kata Jen tegas.
“Gemetarnya
gue, resahnya gue adalah rasa nggak percaya lo sama gue” Ben menatap dalam mata
Jen. Jurus kelima. “Tapi bagaimanapun juga semua terserah lo Jen, yang penting
gue udah ledakin semuanya langsung di depan lo. gue pun terlambat menyadari
ini”
Hening,
“Jen,
gue nunggu respon dari lo yang bisa bikin gue makin yakin, bahwa lo adalah yang
terpenting dari kehadiran gue di sini” Ben menundukkan muka, seolah hatinya
sakit bagai tercabik kuku koala.
“Gue
nggak peduli lo ngerayu atau apa, tapi… gue, gue suka lo Ben. Mungkin gue
adalah cewek paling bodoh dan mudah, bisa lo takhlukin hanya dalam waktu yang
nggak lebih banyak dari 50 menit”
“Thanks
Jen, I love you before you realize it.”
“Selamat!
gue berhasil jadi korban lo” Kata Jen lembut sambil tersenyum manis ke arah
Ben.
“Pemikiran
lo sendiri yang bikin lo jadi korban, bagi gue lo tamu teristimewa di dunia
gue.” Kata ben yakin sambil memegang erat tangan Jen.
“LOL
wkwkwk kena deh! Lo nggak bisa semudah itu hancurin dinding pertahanan gue Ben,
gue tahu maksud tersirat dari semua ini. Lo ngerencanain semua, termasuk
pertemuan pertama kita. Lo lupa? Lo menciptakan scenario seolah gue nginjek
kaki lo yang emang udah dulu selonjor. Lo pikir gue nggak tahu kalau sebelum
posisi gue deket, kaki lo nggak berada pada posisi yang memungkinkan gue buat
nginjek. Tapi setelah gue mulai deket lo selonjoron kaki lo, dan sebenernya
bukan injekan gue yang bikin spatu lo kotor, tapi spatu lo yang lain. Gue
pura-pura nggak tahu saja, gue anggap itu cara lo membuat guyonan.”
“Kesalahan
terbesar lo adalah kopi, lo bodoh banget pake rayuan pasaran bertema kopi. Itu
yang bikin gue berkesimpulan bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut lo,
udah lo seting sebelum obrolan kita hari ini dimulai. Lol your time is over Ben, I've gotta go.” Jenni tersenyum menang, hati
Ben benar-benar remuk, niatnya buat hancurin Jenni makin menggebu. “Dare to try it again?” Bisik Jeni dengan
nada meremehkan.
Ben
shock, Ini memang bukan kali pertama Ben di tolak cewek, dan Jeni juga bukan
cewek pertama yang menolaknya. Tapi hari ini adalah pengalaman paling
mengerikan dalam sejarah petualangan cintanya. Ben berjanji, dia tidak akan mati sebelum menggenggam hati
Jeni. Dan hari ini beserta semua yang Jen lakukan, nggak akan bisa dia lupakan
sampai mati. Ben mulai sadar bahwa, cara Jen buat menghancurkan hatinya kelewat
kejam, Jen membuatnya merasa diatas angin kemudian dengan sadis jen
menjatuhkannya tanpa ampun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar