Duniaku bukanlah
penjara, bukan pula peti mati. Tubuhku hanya terlalu lemas untuk merangkak
keluar, melihat mobil-mobil dengan bising klaksonnya atau sekedar ke dapur
untuk membuat susuku sendiri. Bukan, aku bukan ratu rayap yang dilayani para
prajurit bawah tanah, dan aku berhenti memimpikan hal itu. inilah dunia baruku,
kamar berukuran 4*5 m dengan segala peralatan yang ada di dalamnya.
Wanita cantik di foto
yang aku pegang ini adalah Ibuku. Ya aku tahu, semua Ibu ingin melihat pernikahan
anaknya. Melihatku memakai gaun putih berendra dengan jilbab yang menjuntai
menutup setiap sisi tubuh yang harus ditutupi. Mungkin aku akan terlihat
anggun. Akupun menginginkan itu, aku
menyesal tidak pernah mengenakan pakaian-pakain anggun pilihanmu Bu.
Seperti rasa setiap
yang ku makan, sebenarnya manis tapi terasa pahit, senyum ceria yang selalu Ibu
tunjukkan adalah tangis yang ingin Ia sembunyikan dariku. Dunia tak seperti rencana indah yang kita pikirkan Bu.
Jika sepuluh atau
mungkin lima menit lagi aku mati, aku siap. Aku lelah merepotkan semua orang
yang sayang dan memperdulikanku. Aku tidak menyesal meskipun aku belum pernah
merasakan dicintai seorang pria, memakai cincin yang diidamkan setiap wanita
normal, meskipun aku yakin hal itu pasti sangat manis. Hahaha, bukankah Tuhan
menyiapkan lelaki surga di sana? Aku tidak menyesal, aku hanya ingin kepastian bahwa Ibuku akan baik-baik saja setelah
kepergianku, Tuhan.
Oh Tuhan, kirimkan
surat-surat manis untuknya, agar dia yakin bahwa aku bahagia bersama-Mu. Katakana
padanya, bahwa hidup tidak selalu ada pilihan, ada takdir yang tak bisa
dihindari. Siapa yang mengira hidup bisa sesingkat ini? Tuhan, yakinkan pula
kelak Engkau akan mempertemukan kami, aku menyayanginya dan tidak ingin
berpisah selamanya.
Tuhan, aku lelah menikmati
sakit ini, bahkan terkadang aku lupa bagaimana sakitnya karena yang kubayangkan
sekarang adalah sakit yang jauh lebih sakit dari ini jika kelak Engkau tidak
menemapatkanku di surga-Mu. Ah, jika itu terjadi akulah orang yang paling
menyesal dan pantas disalahkan, Engkau telah memberiku waktu yang cukup banyak.
Yakinkan aku Tuhan…
Waktu yang Engkau beri
murah dan aku remehkan, yang ku hargai satu rupiah untuk satu jutanya.
Gemetarku adalah membayangkan bumipun tak menerima jasatku. Tuhan, kesempatanku
akan segera berakhir, terimalah doa-doa kecil di sisa nafas ini meskipun tak
mampu ku bunyikan.
Tuhan, aku merasakan
sebentar lagi jiwa dan raga ini akan segera terpisah. Sampaikan kalimat-kalimat
sayang dan terimakasihku kepada setiap benda dan kehidupan di dunia ini, setiap
yang mencintai maupun yang membenciku, yang ku tahu dan yang tidak kutahu.
Berat aku meninggalkan hidup ini, tapi akupun tidak yakin bisa memperbaiki amal
jika Engkau perpanjang waktuku.
Terimakasih Tuhan,
selamat tinggal dunia…. Smile mom, it’s sunnah :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar