Aku
menemukan species manusia menarik di tempat ini, dari mereka tidak ada satupun
yang aku suka dan aku benci. Kadang aku merasa menjadi seorang munafik, tertawa
seolah aku menikmatinya. Sungguh aku sendiri malu mengakui ini, tapi hatiku
sebenarnya terasa kaku, kekakuan yang membuatku lebih suka mengurung diri di
dalam kamar, dan berharap tidak satupun yang masuk kedalamnya.
Selalu
gagal, karena aku adalah seorang penakut, gemetar mendengar cerita horror. Aku
takut tidur sendiri dengan mimpi yang jarang menarik. Ya, aku akui aku butuh
orang lain, untuk membuatku lebih berani, untuk memebuatku merasa lebih aman.
Dia
teman sekamarku, mati-matian aku berusaha menyukainya. Aku tahu dia juga
berusaha senyaman mungkin denganku. Hari-hari awal aku mencoba membuatnya
jengkel, aku tahu dia seorang yang rapih dan aku berbuat sebaliknya, itu semua
agar aku tahu bagaimana memperlakukan dia, agar kita bisa menjadi teman.
Sekarang aku mulai bisa menyebutnya teman, meskipun ada saja hal yang tidak aku
suka darinya.
Yang
kadang menarik dari tempat ini adalah suasana malam, kita sering berdebat. Dari
sini aku bisa melihat siapa yang tidak menyukaiku. Kadang aku diam dan mnunggu
mereka ambil bicara, kemudian aku mulai mengambil suara yang memihak argument A
dan seolah menolak argument si B, dan ketika B mulai menunjukkan protesnya,
saat itu juga aku mulai menarik kesimpulan “pandangan b tentangku”. Dan ternyata banyak yang tidak menyukai
keberadaanku di sini, aku tahu itu.
Saat
kau ingin tahu siapa yang tidak suka dengan siapa, kau tidak perlu menggunakan
kalimat Tanya seperti “apa kamu tidak menyukai si C”? karena itu akan
membuatnya berasumsi bahwa kamulah yang tidak menykai si C. Kalimat itu bisa
diganti dengan “Si C kok bisa selalu bersikap
dewasa ya, aku menyukainya”. Kemudian kamu simak jawabannya. Jawaban “Menurutku
tidak selalu” menunjukkan dia sering merasa kesal dengan si C – misalnya.
Seorang
yang paling unik di sini adalah seorang yang paling muda di antara kita. Dia
memberi kesan pertama yang buruk dengan ekpresi wajahnya. Gadis itu sebenarnya
cerdas-sejauh yang ku tangkap. Aku
teringat kalimat dari wali kelas ku ketika SMA “wajahmu itu penuh dengan
ambisi, itu akan menarikmu kedalam sebuah resiko takterduga”. Dan mulai saat
itu aku berusaha untuk tidak berambisi mendapat apapun yang aku inginkan, yang
harus kulakukan hanyalah berusaha.
Jika berambisi penuh untuk mendapatkan hal yang kamu ingin, ketika gagal tidak
hanya bagai mendapat sebuah tamparan atau bukulan yang membuat mukamu memar,
tapi merasa bahwa hidupmu seperti terinjak anjing, kemudian di masukkan ke
dalam mesin penggiling hingga hidupmu benar-benar menjadi serpihan kekacauan
yang lembut. Ya, gadis itu terlihat sangat berambisi, kadang aku kasian ketika
melihatnya beradu argument dengan yang lain,dari nada bicaranya sangat terlihat
bahwa dia merasa paling pintar. Tidak jarang aku menggodanya dengan membuat
kalimat yang sengaja aku salahkan, ingin rasanya memberinya tahu tentang hal
ini, tapi sejauh ini aku belum menemukan sesuatu yang tepat. Aku tidak yakin
dia bisa terima dengan asumsiku ini, orang sepertinya merasa bahwa dirinya
paling bisa mengendalikan diri. But, you
are the most I like in this place.
Pelajaran
buatku : sayangilah setiap orang yang ada di sekitarmu, seburuk apapun kesan
yang mereka berikan, kau harus berusaha untuk tidak menempatkan kebencian di
wajahnya. Itulah yang akan membuatmu selalu bisa merasa nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar