Sabtu, 23 Februari 2013


Sayat
Wanita berbaju kumal itu duduk sendirian, matanya menatap tajam seolah ingin menyibak bukit yang menghalangi pandangannya dengan sesuatu yang ada di balik bukit itu. menurutnya ini adalah tempat terindah, senyap jauh dari bising yang yang mengusiknya. Sejuta kenangan singkat tertoreh dalam hamparan tanah lembah ini, membuatnya tersenyum menggelitik hatinya dengan cerita-cerita yang terkuak dalam setiap batin diamnya. Aku ingin membangun rumah di sini, bersamamu. bisiknya pada angin lembut yang mencibir.
Dengan ragu Ia melempar kerikir – yang sejak semenit yang lalu dia genggam – ke sekumpulan semak yang menggoda rasa penasarannya - segerombolan hewan kecil bersayap menari riang seolah menemukan emas yang ada dibalik semak itu - lalu berjalan pelan meninggalkan gundukan tanah, tempat duduk kesukaannya. Tempat yang membuatnya terbuai dalam sebuah kehangatan, nyaris tanpa nyeri.
Seekor kucing tiba-tiba menggigit dan menarik jubah panjangnya, sedikit terkoyak membuat terik menyentuh balutan putih yang lama ia sembunyikan.  Sambil mendengus wanita itu mengikuti kucing yang seolah ingin menunjukkan sesuatu.
Tiba-tiba lubang hidungnya terasa melebar, bau busuk menerobos selaput lendir yang mengering, memberi jarak pada setiap dinding yang ingin saling mengapit. Noki mual, campuran beberapa senyawa membubur memberi reaksi buruk pada lambungnya.
Sesosok mayat membusuk terpampang jelas di depan matanya. Mayat itu melotot, melawan kelopak mata yang kaku, membusuk dan menggambut. Ada lelehan-lelehan kental disetiap lipatan kulitnya. Mencoba menepis kegusaran, Noki berlari meninggalkannya, tanpa rasa dosa melawan hak hati untuk mengajaknya berdiskusi. Noki memang tidak merelakan hati dan otaknya membuat kesimpulan yang sudah ia prediksi perihnya.
“Ini tidak mungkin” pekiknya dalam hati. Nyeri hatinya melebihi jumlah air mata yang jatuh mengasini setiap rumput yang dilewatinya.
Noki mulai gusar, ada bayangan manis yang berada pada kelopak matanya, Noki mengenalinya dengan baik. Sangat baik. Dia membalikkan tubuhnya, menghampiri kotak kenangan yang nyaris memahit itu dengan rasa yang ingin Ia tepis, begitu pekat, getir.
“Totto.” Noki tergagap, jantungnya berdebar keras, kemudian melemah dengan drastis tanpa kompromi. “Apa yang terjadi….”
Dengan gemetar, karena takut akan apa yang akan dia lihat, Noki menyibak rambut yang menutupi bagian bawah mayat itu, lalau dia menatap setiap centi kulit tua itu dan merabanya pelan-pelan. Melupakan rasa jijiknya, juga mengabaikan protes perut untuk muntah.
“Totto.” Bisiknya.
Merasa depresi berat, Noki menjatuhkan wajahnya pada tanah. Sesaat Ia merasa sangat sial, mengenang tiap harap dalam penantiannya. Seperti beruang gila Noki menyakar wajahnya sendiri, membuat sisiran daging segar menyelip dalam kuku-kuku jarinya. Tapi, bukan sakit itu yang mengguncang jiwanya, melainkan pedih yang membara, menggarang pada sudut terdalam tubuhnya, sakit yang tak terbarometer.
Dalam detik yang tak terbalas menit, dunia berubah menggelap. Merasa bagai makhluk tunggal dalam balok hitam yang tertutup rapat, sesak, sepi. Noki berusaha menjerit dalam bungkam, pita suaranya enggan bergetar pada ruang hampa tanpa  ujung dan cahaya.
Noki terperajat, matanya menangkap bayangan tinggi besar membawa sebilah belati yang mendekatinya. Bayangnya itu terlihat jelas, seolah semua cahaya terpusat padanya. Keringat dingin mulai keluar, memberi isarat bagi tubuh yang ketakutan.
Noki tidak percaya akan semua itu, samar-samat Ia merasa tidak asing dengan wajah muram menakutkan yang hendak merampas nyawanya. Tidak sempat ia beraksi, sebilah belati menusuk perutnya.
Noki terbangun, dirasakan keringat dingin, mengucur dari setiap pori-pori kulitnya. Tangan Noki kaku memegang benda keras yang hampir ia lupa namanya. Ada darah segar yang menyembur dari ujung benda itu, mengalir bagai sungai pada mata wanita yang nanar menatapnya, menimbulkan bau anyir yang membangunkan kesadarannya.
Noki mengerjapkan mata, tetes demi tetes air mata berdialog dengan mimpi panjang dalam nyata yang singkat. Nyata yang membuatnya ingin melenyapkan tubuhnya dalam lahar perut bumi,lalu tersenyum tenang menyaksikan tubuhnya meleleh terbakar panas yang angkuh. Ia singkirkan tangan Totto yang mencengkeram kaku lengan kanannya, menciumnya kemudian menutupkan mata jasat itu sebagai ucapan selamat tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar