Sayat
Wanita berbaju kumal
itu duduk sendirian, matanya menatap tajam seolah ingin menyibak bukit yang
menghalangi pandangannya dengan sesuatu yang ada di balik bukit itu. menurutnya
ini adalah tempat terindah, senyap jauh dari bising yang yang mengusiknya.
Sejuta kenangan singkat tertoreh dalam hamparan tanah lembah ini, membuatnya
tersenyum menggelitik hatinya dengan cerita-cerita yang terkuak dalam setiap
batin diamnya. Aku ingin membangun rumah
di sini, bersamamu. bisiknya pada angin lembut yang mencibir.
Dengan ragu Ia
melempar kerikir – yang sejak semenit yang lalu dia genggam – ke sekumpulan
semak yang menggoda rasa penasarannya - segerombolan hewan kecil bersayap
menari riang seolah menemukan emas yang ada dibalik semak itu - lalu berjalan
pelan meninggalkan gundukan tanah, tempat duduk kesukaannya. Tempat yang
membuatnya terbuai dalam sebuah kehangatan, nyaris tanpa nyeri.
Seekor kucing
tiba-tiba menggigit dan menarik jubah panjangnya, sedikit terkoyak membuat
terik menyentuh balutan putih yang lama ia sembunyikan. Sambil mendengus wanita itu mengikuti kucing
yang seolah ingin menunjukkan sesuatu.
Tiba-tiba lubang
hidungnya terasa melebar, bau busuk menerobos selaput lendir yang mengering,
memberi jarak pada setiap dinding yang ingin saling mengapit. Noki mual,
campuran beberapa senyawa membubur memberi reaksi buruk pada lambungnya.
Sesosok mayat membusuk
terpampang jelas di depan matanya. Mayat itu melotot, melawan kelopak mata yang
kaku, membusuk dan menggambut. Ada lelehan-lelehan kental disetiap lipatan
kulitnya. Mencoba menepis kegusaran, Noki berlari meninggalkannya, tanpa rasa
dosa melawan hak hati untuk mengajaknya berdiskusi. Noki memang tidak merelakan
hati dan otaknya membuat kesimpulan yang sudah ia prediksi perihnya.
“Ini tidak mungkin”
pekiknya dalam hati. Nyeri hatinya melebihi jumlah air mata yang jatuh
mengasini setiap rumput yang dilewatinya.
Noki mulai gusar, ada
bayangan manis yang berada pada kelopak matanya, Noki mengenalinya dengan baik.
Sangat baik. Dia membalikkan tubuhnya, menghampiri kotak kenangan yang nyaris
memahit itu dengan rasa yang ingin Ia tepis, begitu pekat, getir.
“Totto.” Noki
tergagap, jantungnya berdebar keras, kemudian melemah dengan drastis tanpa
kompromi. “Apa yang terjadi….”
Dengan gemetar, karena
takut akan apa yang akan dia lihat, Noki menyibak rambut yang menutupi bagian
bawah mayat itu, lalau dia menatap setiap centi kulit tua itu dan merabanya
pelan-pelan. Melupakan rasa jijiknya, juga mengabaikan protes perut untuk
muntah.
“Totto.” Bisiknya.
Merasa depresi berat,
Noki menjatuhkan wajahnya pada tanah. Sesaat Ia merasa sangat sial, mengenang
tiap harap dalam penantiannya. Seperti beruang gila Noki menyakar wajahnya
sendiri, membuat sisiran daging segar menyelip dalam kuku-kuku jarinya. Tapi, bukan
sakit itu yang mengguncang jiwanya, melainkan pedih yang membara, menggarang
pada sudut terdalam tubuhnya, sakit yang tak terbarometer.
Dalam detik yang tak
terbalas menit, dunia berubah menggelap. Merasa bagai makhluk tunggal dalam
balok hitam yang tertutup rapat, sesak, sepi. Noki berusaha menjerit dalam
bungkam, pita suaranya enggan bergetar pada ruang hampa tanpa ujung dan cahaya.
Noki terperajat,
matanya menangkap bayangan tinggi besar membawa sebilah belati yang
mendekatinya. Bayangnya itu terlihat jelas, seolah semua cahaya terpusat
padanya. Keringat dingin mulai keluar, memberi isarat bagi tubuh yang
ketakutan.
Noki tidak percaya
akan semua itu, samar-samat Ia merasa tidak asing dengan wajah muram menakutkan
yang hendak merampas nyawanya. Tidak sempat ia beraksi, sebilah belati menusuk
perutnya.
Noki terbangun, dirasakan
keringat dingin, mengucur dari setiap pori-pori kulitnya. Tangan Noki kaku
memegang benda keras yang hampir ia lupa namanya. Ada darah segar yang
menyembur dari ujung benda itu, mengalir bagai sungai pada mata wanita yang
nanar menatapnya, menimbulkan bau anyir yang membangunkan kesadarannya.
Noki mengerjapkan mata,
tetes demi tetes air mata berdialog dengan mimpi panjang dalam nyata yang
singkat. Nyata yang membuatnya ingin melenyapkan tubuhnya dalam lahar perut
bumi,lalu tersenyum tenang menyaksikan tubuhnya meleleh terbakar panas yang
angkuh. Ia singkirkan tangan Totto yang mencengkeram kaku lengan kanannya,
menciumnya kemudian menutupkan mata jasat itu sebagai ucapan selamat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar