Sabtu, 23 Februari 2013

Pushed


Seperti hanya hidup dibalik pintu kamarku sendiri.   Ingin rasanya aku lupa bahwa aku punya dunia lain, dunia yang kini mengacuhkanku. Memaksaku untuk menjadi munafik dengan aturan yang dibuat oleh mesin-mesin mereka sendiri, argh! Siapa yang ingin menjadi munafik? Ah, aku terlalu mencintai hatiku untuk menjadi seorang yang lain.

Aku lelah menjalani hidup yang seperti ini, tertekan dalam kebisingan, dicampakkan oleh keadaan, terbuang untuk mempertahankan prinsip yang lama kudiskusikan dengan Tuhan. Kadang aku ingin teriak, memanggil pahlawan untuk menyelamatkanku, tapi semua kembali beku, ketika pahlawan itu menyuruhku membaca surat kabar terbaru pagi ini dan memintaku memakai pakaian super model yang terpampang di covernya. Apa tak ada cara lain selain mengikuti budaya tak wajar ini? Argh, roda terlalau cepat berputar, kau bisa kehilangan banyak hal menyenagkan setelah mengejapkan mata.

Menjadi orang aneh saat kau heran melihat semua orang berbicara dengan telepon genggam mereka. Dan tiba-tiba semua kegelapan berpusat padamu, membuatmu tertawa tanpa sungkan membayangkan  mereka yang mulai lupa akan wajah mereka sendiri. Seolah bumi sudah tak bulat lagi, begitu datar, sedatar apapaun yang kulihat pagi ini. Dunia dengan orang-orang berpakaian yang sama, gaya rambut yang sama, obrolan yang sama, bau yang sama. Tidak hanya datar, ternyata dunia ini juga kehilangan gaya magnetnya, pointless. Kau tidak perlu menjemput makanan saat kau lapar, yang kau butuhkan hanyalah mengangkat ganggang telephone dan 123 makanan itu akan mendatangimu. Semua terasa mudah, tapi sebenarnya susah karena, saat uang menjadi raja kau adalah mayat tanpa benda-benda itu, dan setelah kau berada di atas bumi yang datar, kau akan sulit untuk keluar, ada jurang disetiap tepinya.

Pernah aku berlari menjauh dari suara klakson ataupun  peluit surat kabar. Kemudian kecewa setelah menemui hutan lamaku yang telah disulap menjadi tumpukan baja dan kepulan asap busuk. Tersenyum kecut menyembunyikan tangis dan kekecewaan, ingin rasanya kutanam pohon di kamarku sendiri, aku rindu bergelantungan tanpa dosa disetiap dahannya.

Hidup terasa sangat mengerikan saat satu-satunya yang indah adalah saat aku mengunci diri di dalam kamar, mematikan lampu dan menutup semua jendela dengan tirai gelapku, memasang headset, memejamkan mata, mendengar musics favorite dengan volume maximal. Namun bagaimanapun juga, aku tetap  tidak mau menjadi orang lain, semuak apapun aku dengan semua ini. Karena semua akan kembali normal setelah aku terbangun nanti. May be!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar