Seperti
hanya hidup dibalik pintu kamarku sendiri.
Ingin rasanya aku lupa bahwa aku
punya dunia lain, dunia yang kini mengacuhkanku. Memaksaku untuk menjadi
munafik dengan aturan yang dibuat oleh mesin-mesin mereka sendiri, argh! Siapa
yang ingin menjadi munafik? Ah, aku terlalu mencintai hatiku untuk menjadi
seorang yang lain.
Aku
lelah menjalani hidup yang seperti ini, tertekan dalam kebisingan, dicampakkan
oleh keadaan, terbuang untuk mempertahankan prinsip yang lama kudiskusikan
dengan Tuhan. Kadang aku ingin teriak, memanggil pahlawan untuk menyelamatkanku,
tapi semua kembali beku, ketika pahlawan itu menyuruhku membaca surat kabar
terbaru pagi ini dan memintaku memakai pakaian super model yang terpampang di
covernya. Apa tak ada cara lain selain mengikuti budaya tak wajar ini? Argh, roda
terlalau cepat berputar, kau bisa kehilangan banyak hal menyenagkan setelah
mengejapkan mata.
Menjadi
orang aneh saat kau heran melihat semua orang berbicara dengan telepon genggam
mereka. Dan tiba-tiba semua kegelapan berpusat padamu, membuatmu tertawa tanpa
sungkan membayangkan mereka yang mulai
lupa akan wajah mereka sendiri. Seolah bumi sudah tak bulat lagi, begitu datar,
sedatar apapaun yang kulihat pagi ini. Dunia dengan orang-orang berpakaian yang
sama, gaya rambut yang sama, obrolan yang sama, bau yang sama. Tidak hanya
datar, ternyata dunia ini juga kehilangan gaya magnetnya, pointless. Kau tidak perlu menjemput makanan saat kau lapar, yang
kau butuhkan hanyalah mengangkat ganggang telephone dan 123 makanan itu akan
mendatangimu. Semua terasa mudah, tapi sebenarnya susah karena, saat uang
menjadi raja kau adalah mayat tanpa benda-benda itu, dan setelah kau berada di
atas bumi yang datar, kau akan sulit untuk keluar, ada jurang disetiap tepinya.
Pernah
aku berlari menjauh dari suara klakson ataupun peluit surat kabar. Kemudian kecewa setelah
menemui hutan lamaku yang telah disulap menjadi tumpukan baja dan kepulan asap
busuk. Tersenyum kecut menyembunyikan tangis dan kekecewaan, ingin rasanya
kutanam pohon di kamarku sendiri, aku rindu bergelantungan tanpa dosa disetiap
dahannya.
Hidup
terasa sangat mengerikan saat satu-satunya yang indah adalah saat aku mengunci
diri di dalam kamar, mematikan lampu dan menutup semua jendela dengan tirai
gelapku, memasang headset, memejamkan mata, mendengar musics favorite dengan
volume maximal. Namun bagaimanapun juga, aku tetap tidak mau menjadi orang lain, semuak apapun
aku dengan semua ini. Karena semua akan kembali normal setelah aku terbangun
nanti. May be!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar