Senin, 07 Juli 2014

Menyisir Rumput



Lima hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke sebelas, Loe datang ke kamarku pagi-pagi, membangunkanku dan menyeret tubuhku yang masih separuh mati menuju bukit kecil di balik kebun apel milik keluarganya.  Sampai di tempat, aku kembali tidur beberapa saat, aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, yang ku tahu, aku benar-benar mengantuk, masih sangat-sangat pagi, dan aku berharap aku adalah seekor beruang sehingga aku tidak perlu meminjam jaket dari tubuh kurusnya.

Sesaat kemudian aku merasakan sesuatu menepuk jidatku, sesuatu yang dingin, tipis dan kurus. Ya, itu tangan Loe, aku sangat hafal dan menyukainya, ditepuk seperti itu rasanya sangat nyaman, hal yang paling aku sukai dari perlakuan tangan nakalnya. 

Aku mengucek-ngucek mataku yang masih lengket, mencoba memahami teka-tekinya. Saat dia berhenti menepuk jidatku, aku pura-pura kembali tidur, belum rela tangan itu pergi.

“Kau tak bisa terus seperti ini, Fati” katanya sambil memberiku tatapan seorang kakak. Aku hanya membalasnya dengan sedikit menyipitkan mata. “saat kita besar nanti, aku tidak lagi boleh memberimu perlakuan seperti ini”

“Aku tahu, dan karena itu aku ingin berlama-lama saat ini, sebelum saat yang penuh batasan itu datang”

“Berbicara seperti itu, kau terlihat kurang suka” Loe memencet hidungku yang kurang tumbuh. “cute” tambahnya. Aku mengusap-usap hidungku. He said its cute? tidakkah hidung seperti ini lebih tepat disebut aneh??

Aneh” kataku membetulkan.

“Unik Fati…. kau lebih baik bersyukur dari pada bersikap tidak menerima seperti ini” hardiknya sambil membawa langkahku pergi.

“Ah, ya… cute dan unik” aku mengulangi maksudnya. “jadi, kenapa membawaku ke sini?”

“Kau tahu, hari ini adalah akhir bulan November, dan itu berarti kita berada pada saat yang tepat untuk menikmati sun rise.” Loe duduk membelakangiku yang masih berbaring. Punggungnya terlihat seperti bayangan gelap karena cahaya terhalang oleh tubuhnya sendiri. Aku berusaha bangkit dan duduk sejajar dengannnya, membuatku teringat pada suasana di sebuah novel aku baca minggu lalu.

Detik demi detik percikan cahaya bersinar di balik gunung, terlihat semakin cantik. Rona merah menguning memberi hiasan indah pada daun-daun pohon pinus yang masih hijau. Ditambah lagi aku sedang menikmati semua itu bersamanya. Seharusnya aku menggigil dingin…

“Fati..”

“Ya?” jawabku sambil menoleh ke arahnya. Aku memang suka memperhatikan wajahnya saat dia berbicara lalu mengimajinasikan ekspresi intrinsik di balik ekspresi wajahnya yang tenang dan terkesan datar.

“Melihat sun rise di pantai atau bukit seperti ini mungkin memang terasa biasa, akan menjadi istimewa untuk momen tertentu. Seperti saat ini, aku dan kamu duduk sejajar, melihat pancaran sinar matahari yang baru muncul dengan perpaduan suasana sejuk dan pemandangan pohon pinus yang indah…”

“Aku ingin waktu berhenti di sini” Potongku tanpa sadar.

Loe menoleh kearah ku. “aku baru saja ingin mengatakan itu” dia tersenyum, ada rona merah di pipinya. Ku tahu, sebelumnya Loe selalu berhasil menyembunyikan rona itu, tapi saat itu, dia seperti justru ingin menunjukkannya.

“mereka bilang, saat kau sedih, matahari terbenam adalah pemandangan paling indah. Kau tahu kenapa Fati..”

“Kenapa?”

“Karena langit semakin muram, menggelap” 

“Hmmm”

“Lalu, kenapa kita tidak membuat kebalikannya? Kau lihat itu? langit itu tampak merona? Kalau manusia mungkin dia sedang mendapat sesuatu yang dia sukai? Bagaimana menurutmu?” katanya sambil menoleh ke arahku.

“langit itu seperti aku yang tidur terlelap, dan matahari itu adalah Loe yang membangunkanku. Sebenarnya aku mau marah, tapi karena itu Loe, aku justru malu karena tidak bisa marah” jawabku polos, lalu, beberapa saat kemudian lelaki itu mengacak hangat rambutku.

“Oh, ya… aku mendapat buku bagus dari paman Kail. Aku sudah selesai membacanya, sekarang ini milikmu.”

“Kau yakin aku boleh membaca ini?”

“Tidak semua syair menceritakan kekecewaan atau kesedihan, Fathi”

“Apa kau seorang penikmat syair?”

“Kau tahu Fathi, hanya para penikmat syair yang mampu mencintai secara misterius, hanya penikmat syair yang mampu memalingkan muka ketika mata saling bartaut, hanya penikmat syair yang berpaling dari yang dia suka ketika senja, hanya penikmat syair yang mampu menggenggam hati dan tidak menyerahkannya pada siapapun”

“Tiba-tiba aku menjadi sangat bodoh”

“Kau hanya terlalu kecil”

“Ah, kalimat itu sakit sekali, nadanya meremehkan huh”

“Fathi, aku sudah sebelas tahun dan aku selalu merasa kecil. Kau tidak akan  bisa mengukur kedewasaanmu hanya dengan membandingkanmu dengan mereka, apa lagi sambil merasa paling” dewasa"

“Itu artinya kamu menganggapku sangat kecil, untung saja aku tiga tahun lebih muda dari mu”

“memangnya kenapa?”

“Aku tidak suka diremehkan anak kecil”

“Kita adalah anak kecil menurut orang-orang dewasa”

“Mereka hanya perlu mengenalku lalu mengakui pertumbuhanku”

“Just grow up, little girl! haha”

“Loe menghinaku lagi” lirihku kesal.

1 komentar:

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.org

    BalasHapus