Lima hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke
sebelas, Loe datang ke kamarku pagi-pagi, membangunkanku dan menyeret tubuhku
yang masih separuh mati menuju bukit kecil di balik kebun apel milik
keluarganya. Sampai di tempat, aku
kembali tidur beberapa saat, aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, yang ku
tahu, aku benar-benar mengantuk, masih sangat-sangat pagi, dan aku berharap aku
adalah seekor beruang sehingga aku tidak perlu meminjam jaket dari tubuh
kurusnya.
Sesaat kemudian aku merasakan sesuatu menepuk
jidatku, sesuatu yang dingin, tipis dan kurus. Ya, itu tangan Loe, aku sangat
hafal dan menyukainya, ditepuk seperti itu rasanya sangat nyaman, hal yang
paling aku sukai dari perlakuan tangan nakalnya.
Aku mengucek-ngucek mataku yang masih lengket,
mencoba memahami teka-tekinya. Saat dia berhenti menepuk jidatku, aku pura-pura
kembali tidur, belum rela tangan itu pergi.
“Kau tak bisa terus seperti ini, Fati” katanya
sambil memberiku tatapan seorang kakak. Aku hanya membalasnya dengan sedikit
menyipitkan mata. “saat kita besar nanti, aku tidak lagi boleh memberimu
perlakuan seperti ini”
“Aku tahu, dan karena itu aku ingin
berlama-lama saat ini, sebelum saat yang penuh batasan itu datang”
“Berbicara seperti itu, kau terlihat kurang
suka” Loe memencet hidungku yang kurang tumbuh. “cute” tambahnya. Aku
mengusap-usap hidungku. He said its cute?
tidakkah hidung seperti ini lebih tepat disebut aneh??
“Aneh”
kataku membetulkan.
“Unik Fati…. kau lebih baik bersyukur dari
pada bersikap tidak menerima seperti ini” hardiknya sambil membawa langkahku
pergi.
“Ah, ya… cute dan unik” aku mengulangi
maksudnya. “jadi, kenapa membawaku ke sini?”
“Kau tahu, hari ini adalah akhir bulan
November, dan itu berarti kita berada pada saat yang tepat untuk menikmati sun rise.” Loe duduk membelakangiku yang
masih berbaring. Punggungnya terlihat seperti bayangan gelap karena cahaya
terhalang oleh tubuhnya sendiri. Aku berusaha bangkit dan duduk sejajar
dengannnya, membuatku teringat pada suasana di sebuah novel aku baca minggu
lalu.
Detik demi detik percikan cahaya bersinar di
balik gunung, terlihat semakin cantik. Rona merah menguning memberi hiasan
indah pada daun-daun pohon pinus yang masih hijau. Ditambah lagi aku sedang
menikmati semua itu bersamanya. Seharusnya
aku menggigil dingin…
“Fati..”
“Ya?” jawabku sambil menoleh ke arahnya. Aku
memang suka memperhatikan wajahnya saat dia berbicara lalu mengimajinasikan
ekspresi intrinsik di balik ekspresi wajahnya yang tenang dan terkesan datar.
“Melihat sun
rise di pantai atau bukit seperti ini mungkin memang terasa biasa, akan
menjadi istimewa untuk momen tertentu. Seperti saat ini, aku dan kamu duduk
sejajar, melihat pancaran sinar matahari yang baru muncul dengan perpaduan
suasana sejuk dan pemandangan pohon pinus yang
indah…”
“Aku ingin waktu berhenti di sini” Potongku
tanpa sadar.
Loe menoleh kearah ku. “aku baru saja ingin
mengatakan itu” dia tersenyum, ada rona merah di pipinya. Ku tahu, sebelumnya
Loe selalu berhasil menyembunyikan rona itu, tapi saat itu, dia seperti justru
ingin menunjukkannya.
“mereka bilang, saat kau sedih, matahari
terbenam adalah pemandangan paling indah. Kau tahu kenapa Fati..”
“Kenapa?”
“Karena langit semakin muram, menggelap”
“Hmmm”
“Lalu, kenapa kita tidak membuat kebalikannya?
Kau lihat itu? langit itu tampak merona? Kalau manusia mungkin dia sedang
mendapat sesuatu yang dia sukai? Bagaimana menurutmu?” katanya sambil menoleh
ke arahku.
“langit itu seperti aku yang tidur terlelap,
dan matahari itu adalah Loe yang membangunkanku. Sebenarnya aku mau marah, tapi
karena itu Loe, aku justru malu karena tidak bisa marah” jawabku polos, lalu,
beberapa saat kemudian lelaki itu mengacak hangat rambutku.
“Oh, ya… aku mendapat buku bagus dari paman
Kail. Aku sudah selesai membacanya, sekarang ini milikmu.”
“Kau yakin aku boleh membaca ini?”
“Tidak semua syair menceritakan kekecewaan
atau kesedihan, Fathi”
“Apa kau seorang penikmat syair?”
“Kau tahu Fathi, hanya para penikmat syair
yang mampu mencintai secara misterius, hanya penikmat syair yang mampu
memalingkan muka ketika mata saling bartaut, hanya penikmat syair yang
berpaling dari yang dia suka ketika senja, hanya penikmat syair yang mampu
menggenggam hati dan tidak menyerahkannya pada siapapun”
“Tiba-tiba aku menjadi sangat bodoh”
“Kau hanya terlalu kecil”
“Ah, kalimat itu sakit sekali, nadanya
meremehkan huh”
“Fathi, aku sudah sebelas tahun dan aku selalu
merasa kecil. Kau tidak akan bisa
mengukur kedewasaanmu hanya dengan membandingkanmu dengan mereka, apa lagi
sambil merasa paling” dewasa"
“Itu artinya kamu menganggapku sangat kecil,
untung saja aku tiga tahun lebih muda dari mu”
“memangnya kenapa?”
“Aku tidak suka diremehkan anak kecil”
“Kita adalah anak kecil menurut orang-orang
dewasa”
“Mereka hanya perlu mengenalku lalu mengakui
pertumbuhanku”
“Just grow up, little girl! haha”
“Loe menghinaku lagi” lirihku kesal.
JOIN NOW !!!
BalasHapusDan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
BURUAN DAFTAR!
dewa-lotto.name
dewa-lotto.org