Sebuah
mimpi yang tak akan mengusam dalam jemari maupun pikiran yang tiap detik akan
bertambah tua. Kau dan aku hidup dalam satu atap yang kokoh dengan keringatku.
Bukan keringatmu juga, karena aku tidak akan membiarkanmu.
Acap
kali membicarakan tentang dunia yang sibuk dengan tragedinya. Lalu, kulirik
perutmu yang semakin menggembung,
mungkin akan ada beberapa kamu atau aku
atau kita yang meringkuk di dalamnya.
Kulihat
jemarimu yang menggemuk indah memberi kehangatan yang mempesona. Kau menoleh
padaku saat aku menggumamkan pikiran yang manis menyambut kenakalan mereka. Oh
mereka? Tidak tidak. Ku harap hanya ada satu “kita” di dalam sana. Aku tidak
mau mempertahankan egoku yang kejam. Tidak boleh. Sehebat apapun kau berharap
tentang hadirnya si kembar..
Karena
nantinya kaulah yang akan melakukan semua perjuangan itu, tawar menawar dengan
kematian, memeras keringat dan teriak yang kau bungkam dengan kulit bibirmu
yang mengelupas, namun tetap memesona. Sedang aku hanyalah singa jantan yang
tersiksa melihatmu meneguk kesakitan menyambut buah keceriaan.
Namun,
jangan kau risau kekasihku… akupun tengah berdo’a bahwa kau akan tetap dalam
kasih dan perlindungan-Nya. Itulah kodrat yang pasti kau jalani, sehingga
kekasihmu tidak mungkin meminta pada-Nya untuk memangkul kesakitanmu.
Dan
tiba-tiba kau berkata lirih sambil tersenyum tulus “keceriaan kita akan
menyambut dunia, mereka tidak akan menyakitiku”
Aku
bersumpah pada saat itu juga, atau sebelum saat itu tiba (karena aku tengah
merancang kalimatnya). Akulah yang akan menjaga mereka. Meskipun pastinya kau
tetap mengeluarkan peluh, tapi ku pastikan, itu hanya akan sedikit. Ku beri kau 5 atau paling banyak 10 persen.
Karena kematian hampir saja memenangkan penawaran kala itu.
Setelahnya,
kau akan melihat betapa kebahagiaan hampir membuat jantungku melompat dari
tempat yang semestinya, seperti bocah yang lari mengejar penjual lollipop, melihatmu
tersenyum bangga ketika makhluk kecil itu mengeluarkan tangisnya yang pertama.
Apa cukup dengan satu atau dua kecupan untuk menggantikannya? Aku rasa tidak,
wanitaku… tahukah kau, ada hutang yang akan ku tanggung seumur hidupku, yang
tidak akan pernah lunas..
Lalu,
ku ajak kau berjalan mengelilingi lembah bidadari. Kita memanen fajar di sana, mengenalkan
Veritas dan saudaranya pada embun pagi sambil melukis keceriaan yang tidak
pernah alam rasakan, bersama hingar bingar yang akan meramaikan dunia kita..
Bukan
niatku untuk memamerkan kebahagiaan, atau membuat bidadari menangis iri
memandang wajah kekasihku yang sumringah merona..
Melainkan
menunjukkan pada Pencipta dan Pemberi Kebahagiaan betapa diri ini bahagia
bersama kau kekasihku… ah! barangkali alam turut merasakan debar-debar yang saling
bersahuatan antara cintaku dan cintamu. Aamiin aamiin aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar