A.
Mengenal
Hebat
Seperti yang kita tahu, orang-orang
hebat telah muncul sejak dahulu bahkan sebelum di buatnya kalender masehi. Dari
para Rosul, pemimpin, ilmuwan, hingga saudagar dan pengusaha. Dengan berbagai
hasil yang dibawa, mereka pun menciptakan perubahan tidak hanya pada diri
mereka sendiri melainkan pada sekitar bahkan dunia.
Dalam peradaban Islam, kita mengenal
Rasulullah Muahammad SAW. Beliau muncul dan menyelamatkan dunia dari kelaparan
moral dan spiritual. Beliau adalah pemimpin teladan yang segala ucaban serta
perbuatannya dijadikan teladan umat Islam hingga akhir jaman. Demikian juga
dalam dunia informatika, kita mengenal orang hebat seperti Larry Page dan
Sergey Brin pemiliki mesin penjelajah paling terkenal google, Mark Zuckerberg
pemilik jejaringan social fenomenal Face
book dan lainnya. Dalam dunia
ilmuwan kita mengenal Albert Enstein, James Watt dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, dalam dunia bisnis kita mengenal Bill Gates yang dinobatkan
sebagai the youngest rich man atau Warren Buffet pengusaha kelahiran Omaha yang
mengawali aktivitas bisnisnya sebelum usianya mencapai 16 tahun.
Orang-orang
tersebut hanyalah cuplikan kecil dari daftar orang-orang hebat yang di kenal
dunia, mereka bermunculan membawa keahlian masing-masing yang dapat dirasakan
manfaatnya. Banyak orang bilang bahwa, tidak ada manusia yang sempurna, hal
tersebut memang benar adanya, karena sesuai dengan uraian -uraian sebelumnya
bahwa mereka tidak hebat pada semua bidang, hanya saja pada bidang tertentu
mereka berhasil melampaui orang lain.
Lalu, apakah
hebat itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
hebat adalah melampaui, amat sangat dan seterusnya.
Dari uraian-uraian tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang hebat adalah orang yang malampaui
orang lain baik itu dalam melakukan, menghasilkan ataupun memberikan sesuatu.
B.
Mengapa
Harus Menjadi Hebat?
Kadang kita mendengar seseorang berkata
“dalam hidup kita hanya perlu menjadi orang baik yang tidak mengganggu orang lain”.
Sebagai seorang yang beriman dan berilmu, kita tidak boleh mengamini pernyataan
tersebut. Kita harus ingat bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk
menjadi kholifah dimuka bumi. Itu berarti, manusia memiliki kewajiban
menjalankan visi, misi dalam kehidupannya serta memberikan manfaat kepada
dunia.
Manusia diciptakan dalam keadaan
sempurna melebihi makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Sejuta kenikmatan telah
Tuhan hadirkan untuk manusia. Burung merpati yang bisa terbang tinggi,
pohon-pohon yang menghasilkan buah kehidupan, ikan-ikan yang berenang indah di
lautan, air yang mengalir, udara yang bebas berhembus, pemandangan matahari
terbenam yang indah, pantai yang biasa kita gunakan untuk berlibur, semua itu
adalah makhluk Tuhan, dan semua itu Tuhan tundukkan untuk kehidupan manusia.
Alangkah tidak bersyukurnya kalau kita tidak punya usaha untuk menuju manusia
hebat! Sekali lagi, bukankah Tuhan telah menyediakan semua alat yang kita
butuhkan untuk menuju hebat? Untuk itu
tidak ada alasan lagi untuk tidak menjadikan Hebat sebagai sebuah visi.
Tuhan tidak pernah menyarankan kita
untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja, yang mana keberadaannya tidak dirasa
oleh dunia atau minimal oleh orang sekitarnya. Jika lumba-lumba saja bisa
menyelamatkan orang-orang yang tenggelam di lautan, kita sebagai makhluk yang
paling berpotensi untuk menjadi hebat, apakah rela jika kalah dari mereka?
Hebat itu memberikan manfaat. Dengan
kehebatan kita bisa membantu banyak orang. Bayangkan jika tidak ada orang hebat
seperti Thomas Alva Edison, mungkin sampai saat
ini kita tidak bisa merasakan indahnya gemerlap cahaya lampu di kota,
menyalakan lilin yang sangat tidak praktis sebagai alat bantu penerangan. Atau
banyangkan jika Alexander Graham bell tidak menemukan mesin telephon, kita
mungkin harus mengarungi lautan untuk menghubungi seseorang yang ada di belahan
bumi lain, atau menunggu lama untuk tahu bagaiman kabar sahabat kita yang ada
di luar kota. kita patut berterimakasih kepada para penemu. Dan yang lebih
penting tapi sering kita lupakan adalah kita lupa berterimakasih pada para
pengusaha. Kenapa kita harus berterimasih pada manusia profit oriented itu?
Sebab, tanpa para pengusaha yang memproduksi lampu, atau alat telekomunikasi
dan yang lainnya, sekalipun penemuan tersebut telah ditemukan kita tetap tidak
bisa menggunakannya, bukan?
Hebat itu berkah. Ketika kita memberikan
manfaat kepada sesama atau alam, maka kita telah berbuat baik, jika kita
melakukannya dengan ikhlas, tulus karena Tuhan, maka hal tersebut akan menjadi
penambah cacatan amal kita di sisi-Nya dan kita pun harus menyakini bahwa Tuhan
tidak akan mengabaikan setiap yang dilakukan hamba-Nya walaupun hanya sebesar biji
Zahrah. Dan bukan tidak mungkin pula kita akan merasakan berkah tersebut di
dunia.
Menjadi hebat itu menyenangkan. menyenangkan
di sini bukan karena terlihat hebatnya tapi ketika melihat orang lain bahagia
dengan manfaat dari yang kita lakukan. Manusia normal akan merasa bahagia
melihat orang-orang bahagia, apa lagi jika orang tersebut yang menciptakan
kebahagiaan itu. Maka hebat itu bukan sesuatu yang hanya dirasakan oleh diri
sendiri, jangan pernah mengaku hebat jika untuk diri sendiri, tidak bermanfaat
untuk orang lain.
Setelah mengetahui beberapa alasan
mengapa harus hebat. Mungkin dalam hati terbesit pertanyaan “bagaimana jika
kita sudah melakukan hal-hal hebat, tapi tetap dianggap biasa-biasa saja?”.
Memang beberapa orang mengatakan bahwa, dihormati dan dihargai adalah salah
satu ciri manusia hebat. Pernyataan
tersebut tidak salah, yang perlu diluruskan adalah kita tidak harus muncul kepermukaan untuk
menyalurkan manfaat tersebut. Misalnya tokoh fiktif Spiderman yang merahasiakan identitas sebenarnya, namun meskipun
demikian dia tetap dihargai dan dihormati banyak orang. Jadi jangan kawatir
akan angapan dari beberapa orang yang tidak mengindahkan apa yang kita lakukan,
karena akan ada orang lain yang mau menghargai. Bagaimanapun kita harus ingat
bahwa setiap orang memiliki hak untuk membenci, mencaci, mengina, atau meremehkan. Yang terpenting adalah, kita jangan sampai
seperti itu.
Dan “ingin dilihat” itu bukanlah
termasuk sifat orang hebat. jika dalam
melakukan sesuatu kita selalu memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain,
maka kita bukannya mendekati pintu hebat justru malah mejauh dari pintu itu.
Kita akan semakin ragu untuk berkeputusan karena kawatir akan penilaian orang.
Rasul saja, yang kita yakini sebagai kekasih
Tuhan masih memiliki musuh dan banyak yang membenci, bukan? Namun jangan
kawatir, ketika apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang baik, maka ketika ada
yang memebnci, pasti akan ada pula yang menyukai. Maka buang jauh-jauh
kata-kata “jangan-jangan, nanti kalau… dst”
C.
Cara
Menjadi Hebat
Tidak perlu repot-repot melihat jauh ke luar negri, Indonesia juga memiliki
banyak orang hebat misalnya Chairul Tanjung dan DR. (HC) Ir. Ciputra. Perlu
ditekankah bahwa mengenal orang-orang hebat memanglah perlu, tapi belajar dari
apa yang mereka lakukan untuk menuju hebat adalah cerdas dan hebat. Belajar
tersebut bukan hanya membaca pengalaman hidup atau biografinya saja, lebih
penting dari itu, kita harus do! Untuk apa hanya tahu, kalau tidak
dilakukan? Tahu saja tidak akan mengubah kita menjadi orang hebat, bukan?
Kesuksesan mereka tidak lepas dari
rintangan jatuh bangun serta pro kontra dari lingkungan. Meraka dibilang hebat
karena mereka mampu atau berhasil dalam tujuannya, dan dapat bermanfaat bagi
masyarakat banyak. Rintangan itu anugrah untuk kita, karena kita masih di
sayangi oleh Tuhan dan diberi pelajaran agar menjadi lebih kuat. Ketika kita ingin sukses bukan segala cara menjadi halal, tapi
bagaimana kita mencari jalan terbaik melewati rintangan itu sendiri dan berani
mengambil resiko tanpa melupakan posisi kita sebagai hamba Tuhan. Belajar
bijaksana dengan memilih jawaban dan mengambil resiko dari langkah kita.
1.
Mengubah
Paradigma
Orang hebat pada dasarnya adalah manusia
biasa, namun mereka meliki suatu pembeda yang mengantarkannya pada pintu hebat.
Berikut adalah cara pandang yang dimiliki oleh orang-orang hebat:
a. Selalu
Berkata Bahwa Masalah Bukanlah Penghalang
Tidak ada satupun manusia yang tidak
memiliki masalah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyikapi
masalah tersebut. ketika kita sudah menempatkan masalah sebagai suatu yang
besar, tubuh dan pikiran kita akan merasa tidak mampu untuk menghadapinya. Untuk
itu, kita harus selalu berkata “Masalah, saya jauh lebih besar dari pada anda,
jangan pernah berfikir untuk menghalangi saya! Apa lagi mengalahkan saya!”.
Orang
gagal menjadikan masalah sebagai alasan untuk berhenti. Mereka berkata bahwa
sukses dan hebat hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Padahal pintu hebat
selalu terbuka untuk orang yang sungguh-sungguh ingin memasukinya, tidak peduli
miskin ataupun kaya, cantik ataupun jelek, cacat ataupun sempurna. Pintu selalu
menyapa kita seperti yang telah dilakukannya pada Oprah Winfrey, pembawa acara
terkenal Amerika Seriat.
Oprah
Winfrey terlahir dari pasangan yang tidak terikat pernikahan. Sehingga ia
tumbuh dibawah asuhan neneknya yang berprofesi sebagai buruh cuci pakaian.
Meski tumbuh ditengah kemiskinan, Oprah selalu berusaha keras untuk mrnjadi
wanita terkenal yang kaya. Dalam benaknya ia tidak mau bernasib seperti neneknya.
Pada usia Sembilan tahun, Oprah mengalami pemerkosaan yang dilakukan sepupunya
dan serangkaian kejahatan yang dilakukan oleh kerabatnya.
Oprah berkata bahwa semua peristiwa
pahit yang ia alami semasa kecilnya telah menjadi pendorong sikap empati yang
ada pada dirinya terhadap orang lain
seperti yang dapat kita lihat di program acara Oprah Winfrey show yang sangat terkenal itu.
(Udhaidan: 2012).
b. Semangat
Yang Tinggi
Sebagai manusia yang tidak mungkin tidak
mengalami permasalahan, kita saatnya berfikir bahwa masalah adalah jalan menuju
sukses. Mendapatkan banyak masalah berarti mendapatkan bayak ujian atau soal
yang perlu diselesaikan. Seperti halnya mengerjakan soal matematika, semakin
kita terbiasa berlatih mengerjakan soal-soal, semakin kita siap menghadapi
ujian selanjutnya.
Dalam bukunya yang berjudul Ciputra
Quantum Leap 2, DR. (HC) Ir. Ciputra
(2011) menceritakan bahwa kesuksesan yang saat ini telah beliau raih sangatlah
kontras dengan apa yang terjadi pada masa kecilnya. Ketika beliau berusia 12 tahun,
ayah tercinta ditangkap dan dipenjarakan tentara jepang dengan tuduhan sebagai
mata-mata Belanda, hingga akhirnya sang ayah wafat dalam sebuah penjara di
Manado. Selain kehilangan ayah tercinta, belaiu juga kehilangan toko kelontong
sebagai sumber pengasilan. Kemudian beliau beserta sang Ibu berhijrah ke desa
kecil Pepaya, kehidupannya menjadi miskin.
Meskipun
beliau telah kehilangan harta serta ayah tercinta, beliau tetap bersyukur
kepada Tuhan sebab, beliau tidak kehilangan semangat hidup. Kemudian dengan
segala kegigihan dan usaha yang dilakukan, dari berburu binatang, dan bertani
hingga berjalan tujuh kolo meter setiap berangkat sekolah tanpa alas kaki,
akhirnya beliau bisa menjadi seorang hebat seperti saat ini.
Beliau adalah
pendiri dan pemegang saham dari Jaya Group, metropolitan group, ciputra group,
majalah tempo, dan harian bisnis Indonesia, beliau mendirikan lebih dari 10
yayasan social, pendididkan dan olah raga. Sepanjang kariernya, beliau telah
meraih berbagai penghargaan baik di dalam maupun luar negri. Pada tanggal 28
November 2007, beliau telah terpilih menjadi Indonesia Ernst & Young Of The Years 2007 yang merupakan penghargaan dari
sebuah perusahaan konsultan akunying dan bisnis di dunia dengan reputasi
terhormat Ernst & Young.
c. Tidak
Pernah Merasa Pintar
Kita
tentu tidak asing dengan kata-kata bijak Steve Job “ stay foolish, stay hungry”. Kata-kata tersebut bukanlah gurauan
tanpa makna. Seperti yang sering kita dengar, bahwa ilmu adalah salah satu
bekal yang perlu kita persiapkan untuk menuju hebat. Bagaiman kita menjadi
hebat jika kita tidak mempunyai ilmu?
Paradigm
lama beranggapan bahwa ilmu diperoleh melalui jalan formal seperti sekolah
ataupun kuliah. Paradigma seperti ini yang akhirnya membuat orang-orang
berlomba-lomba untuk bisa belajar di sekolah atau kampus favorit. Memang, untuk
menjadi hebat kita perlu lingkungan yang mendukung untuk itu, tetapi bukan
berarti kita harus tinggal selama mungkin di dalam perpustakaan untuk menyerap
isi buku. Memiliki nilai yang fantastik memanglah sesuatu yang menyenagkan,
tetapi bukan berarti itu merupakan penentu kesuksesan.
Dalam
tulisanya yang termuat pada harian Jawa Pos, Renald kasali mengungkapkan bahwa manusia
memiliki dua jenis midset, yaitu growth
mindset dan fixed mindset. Orang-orang
yang memiliki settingan pikiran tetap (fixed
mindsed) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan
mereka yang tumbuh (growth mindset)
tetap menganggap diri mereka “bodoh”. Bagi mereka, ijazah dan IPK hanya langkah
kemarin, sedangkan masa depan adalah soal impact
apa yang bisa Anda berikan atau lahirkan. (Adesta, 2013)
Beberapa
orang ber IPK tinggi, seringali merasa telah menggenggam kunci hebat. Mereka
lebih tertarik belajar, menyelam dalam buku atau berlatih mengerjakan
soal-soal. Hingga bangga akan prestasi yang diraih sebab hanya segelintir orang
yang mampu seperti mereka. Orang seperti ini memiliki tingkat arogansi yang
tinggi dan kurang percaya akan kemampuan orang lain yang akhirnya berdampak
pada melemahnya kemampuan dalam mengelola team. Bahayanya lagi, orang seperti
ini tidak tanggap akan adanya pesaing. Karena sudah merasa hebat mereka
berfikir tidak ada yang bisa menyaingi.
Selain
itu, kita sering menjumpai kisah orang sukses yang memilki latar belakang
prestasi akademik yang kurang memuaskan. Itu berarti ada faktor lain yang
menentukan kesuksesan selain nilai akademik. Perlu diketahui atau diingatkan
kembali bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya di kampus. Kita bisa belajar denagn
mengikuti komunitas-komunitas, bahkan kita bisa belajar dari apa yang dihadapi
orang lain.
Ketika tetangga kita mengalami
kebangkrutan dalam bisnisnya, sering kali kita berkata “saya tidak ingin ikut
campur urusan mereka”. Dengan sikap demikian, tanpa kita sadari kita telah
melewatkan satu pelajaran penting tentang bagaimana mempertahankan bisnis agar
tetap survive. Sehingga lebih baik
kita mencari tahu penyebabnya, menganalisis dan berusahaan memecahkan masalah.
d. Berfikir
Bahwa Uang Bukanlah Segalanya
Banyak
orang berfikir bahwa sukses dan hebat adalah menjadi kaya, di kenal banyak
orang dan disegani. Sehingga tidak mengeherankan jika kebanyakan orang berkata
“saya ingin menjadi wirausaha agar cepat kaya”. Anggapan tersebut tidak
seepnuhnya keliru, karena sebesar-besarnya gaji yang diterima dari tangan orang
lain, tetap saja artinya adalah menggantungkan diri pada orang lain. Bukankah
akan lebih menyenangkan jika kita mampu menggaji diri sendiri serta orang lain?
Namun, bukan itu yang
terpenting. Sebab, kekayaan yang tidak dipondasi dengan
integritas tidak akan bertahan lama. Banyak orang kaya yang berakhir dalam
penjara dan cemooh masyarakat karena tidak mampu membangun integritas.
Membangun integritas dimulai dari membiasakan diri untuk jujur dalam berbicara,
menepati setiap janji yang dibuat, bertanggung jawab pada setiap tugas, amanah,
lapang ketika mendapat kritik, terbuka, tidak berhianat dan peduli pada
sekitar. Begitu integritas terbangun dalam diri, maka orang-orang semakin
percaya sehingga pintu rizki akan lebih terbuka. Kepercayaan (trust) merupakan elemen vital yang harus
dimiliki untuk menjadi orang hebat, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak
menjadi orang hebat seseorang yang tidak dapat dipercaya. Setelah kita
mendapatkan kepercayaan dan tempat baik di hati masyarakat serta pintu rizki terbuka.
Selaunjutkan adalah memikirkan bagaiman kita memberikan feedback atas kepercayaan tersebut dan jangan pernah bertanya atu
berfikir “berapa uang yang akan saya dapat jika saya berbuat baik”. Yakinlah
akan kompensasi yang jauh lebih besar dari itu.
Salah satu ciri hebat adalah mampu
meningkatkan potensi yang dimiliki serta memanfaatkan potensi tersebut untuk
menggali potensi-potensi masyarakat lingkungan tanpa harus memperlihatkan
keberadaannya.
e. Tidak
Menggantungkan Diri Dan Hidup Pada Orang Lain
Sebagai makhluk social kita memang tidak
mungkin mampu hidup sendiri. Bahkan menuju sukses atau hebat, kita pasti
memerlukan orang lain, entah itu sebagai orang yang berkerja dengan kita, orang
yang bekerja untuk kita, atau orang mejadi motivasi kita untuk menjadi hebat.
seperti halnya pengusaha hebat, mereka memerlukan para karyawannya,
konsumennya, distributornya atau bahkan para investor untuk menopang biaya
dalam menjalankan bisnisnya. Namun apakah mereka menggantungkan diri dan hidup
mereka poada orang lain?
Tidak! Justru orang lain yang
menggantungkan hidup pada mereka. Karyawan mereka hidup dengan gaji yang
diperoleh karena bekerja ditempat para pengusaha. Jika karyawan satu lepas,
masih ada orang yang mengantre untuk menjadi bagian dari perusahaan, beda halnya
dengan karyawan, jika perusahaan likuidasi, maka dia harus berlarin menjadi
pelamar kerja.
Menjadi hebat, bukan tidak boleh menjadi
karyawan dan bekerja untuk orang lain. Tapi jangan menjadikan hal tersebut
sebagi satu-satunya sumber kehidupan. Seperti halnya diversifikasi dalam
portofolio, dalam hidup pun juga diperlukan diversifikasi, sebab orang hebat
harus antisipatif terhadap risiko hidup. Kita harus menyiapkan cadangan agar
ketika sewaktu-waktu dipecat, kita masih punya sumber kehidupan lain.
Tidak hanya itu, seorang yang hebat
memilih pekerjaan sebagai tempat pengabdian. Seorang PNS misalnya guru yang
memilki back ground wirausaha sukses
tentu akan lebih ikhlas dalam mengajar, dia tidak peduli ketika gaji terlambat
turun, tidak tertarik dengan praktik korupsi, sebab dia kaya dan punya
pengahasilan di luar itu (normalnya).
Untuk itu, hebat identik dengan kaya,
dan jalan meuju kaya yang paling indah adalah dengan menjadi wirausaha!
2.
Membentuk
Karakter orang hebat
Selain memilki pandangan yang berbeda,
seorang hebat memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh orang-orang
biasa. Thomas Alva Edison misalnya, selain beliau adalah seorang penemu
produktif, beliau ternyata juga seorang bisnisman yang visioner, untuk itu,
kita perlu belajar darinya. Berikut adalah 5 karakter hebat Thomas Alva Edison:
a. Selalu Ingin Tahu
Edison memiliki
rasa ingin tahu yang besar pada hal-hal teknis. Dia ingin menguasai
keterampilan teknis dan teknologi baru. Dia merasa tertantang untuk menciptakan
perangkat atau memperbaiki perangkat yang sudah ada. Rasa ingin tahu yang tak
pernah puas membawanya ke bidang-bidang lainnya. Mulai dari metalurgi ke
plastik hingga akhirnya sukses dengan bola lampu listrik, rekaman suara, dan
ratusan penemuan lainnya. Edison memiliki kemampuan unik yaitu mampu memandang
masalah dari beberapa sisi. Mencari perspektif yang berbeda di luar “kebiasaan”
menjadi kuncinya untuk menemukan jalan dari rasa keingintahuannya.
b. Teliti Dalam Karyanya
Edison teliti dalam
setiap perencanaan. Dia akan membuat gambar dengan hati-hati pada setiap ide
dan penemuannya. Dia juga menyimpan catatan yang rinci mengenai usaha dan
bisnisnya. Bahkan saat dia berumur 20 tahun, Edison sudah menulisnya dalam buku
catatan tentang perkembangan dari setiap eksperimennya. Tidak salah jika Edison
dianggap sebagai orang yang sangat rajin.
c. Ambisius dan Pekerja Keras
Edison dikenal
memilik etos kerja yang tinggi. Dia mampu berkonsentrasi secara intens selama
berjam-jam untuk mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan masalah. Edison sering
kali tidur pada siang hari, sehingga dia dapat menghabiskan waktu berjam-jam di
laboratorium. Istri pertamanya pun jarang melihatnya dirumah. Dia seringkali
terlibat dalam empat atau lima proyek yang sedang berlangsung sekaligus. Bahkan
pada usia 65 tahun Edison, masih sempat bekerja 112 jam dalam seminggu.
Quote Edison yang
sangat terkenal:
“Genius is 1%
inspiration and 99% perspiration”- T.A. Edison
d. Bisnisman Yang Visioner
Entrepreneurial
spirit yang dimiliki Edison mampu mengantarkan beliau menjadi seorang bisnisman
yang visioner. Dia selalu merasa tertantang pada dunia baru dan berjuang untuk
menaklukkannya. Dengan sense of business yang kuat, Edison mampu menangkap
peluang bisnis dengan cara melihat apa yang sedang dibutuhkan orang. Kemudian
berupaya menciptakan sesuatu untuk menyediakannya. Dia melihat bahwa masa depan
dunia berada pada teknologi baru. Karena itulah dia terus menciptakan
teknologi-teknologi baru pada jamannya dan berusaha memperbaiki pada setiap
penemuannya.
e. Kemampuan Persuasif
Salah satu karakter hebat dari Edison
adalah bahwa ia mampu mengatur dan meyakinkan orang lain bekerja untuknya. Dia
memiliki banyak orang-orang jenius dalam timnya yang benar-benar didedikasikan
untuk cita-citanya. Orang-orang dalam timnya selalu mendukung proyek-proyeknya.
Ini adalah strategi utamanya dalam mengembangkan ide. Menyewa insinyur dan
ilmuwan terbaik untuk dirangkul agar mau bekerja dengannya. Dia sangat
terorganisir dengan metode ini. Agar proyeknya terus berkembang, dia juga lihai
mencari publisitas. Hal ini bertujuan agar dalam setiap proyek-proyeknya tetap
mendapatkan dukungan finansial. Misalnya, ketika dia punya penemuan baru, ia
akan hadir ke tempat-tempat umum. Agar menarik perhatian dan mendapatkan
publisitas yang maksimal, Edison akan melakukan presentasi yang memukau dan
melakukan demo langsung untuk menampilkan penemuannya. Dengan begitu dia akan
masuk di halaman depan koran mengenai penemuannya
3.
Mengubah
Kebiasaan
Sedikit banyak kita telah mengingat
kembali contoh dari orang-orang hebat, kita juga sudah mengetahui sedikit
tentang alasan serta pandangan berfikir menuju hebat. Pertanyaan yang muncul
selanjutnya dan merupakan yang peling penting dari pembahasan ini adalah
bagaimana untuk menjadi hebat? apakah orang-orang yang sekian tahun hanya
menjadi orang-orang biasa seperti kita bisa menjadi hebat? ketika pikiran kita
sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka apakah Tuhan Yang Maha Kuasa
lagi Maha Adil hanya memberi kesempatan hebat pada orang-orang hebat itu saja?
Sekali lagi, Tuhan Maha Adil. Tuhan pasti memberikan peluang serta kesempatan
yang sama pada setiap umat manusia untuk menjadi hebat, tidak hanya kepada
Tomas Alpha Edisson, Bill Gates, Warren buffet atau orang-orang hebat lainnya.
Masalah ada orang-orang yang terpuruk dan gagal, itu tergantung pada usaha dan
doa mereka! Jadi jangan salahkan Tuhan karena Tuhan tidak mengubah keadaan
suatu makhluk jika makhluk tersebut tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri.
Berikut adalah langkah-langkah membentuk kebiasaan menuju hebat:
1. Hebat
itu berawal dari hal kecil
Seperti yang kita tahu, bahwa hebat itu
ada yang by design dan by incident. Hebat yang by incident sudah kita bahas sekilas misalnya melaui
masalah seperti pada cerita Quantum Leap
Bpk Ciputra, meskipun kesuksesan beliau tidak sepenuhnya by sincident.
Selanjutnya adalah hebat by design. Untuk kita yang saat ini
masih berada pada zona nyaman, seringkali kita terlena dengan zona tersebut.
kita jadi tidak antisipatif terhadap risiko, dan cenderung menggantungkan hidup
kita pada sesuatu yang membuat nyaman tersebut misalnya aliran uang saku dari
orang tua atau menggantungkan hidup kita pada kekayaan pasangan atau keluarga.
Maka untuk mendesain diri kita menjadi hebat, kita harus rela mebuat diri kita
tidak nyaman.
Kita bisa memulainya dari hal kecil
seperti berusaha untuk tidak menggunakan uang saku dari orang tua tersebut
untuk menopang kebutuhan kita selama kuliah atau sekolah. Sebagai gantinya,
kita mencari cara bagaimana untuk bisa mencukupi kebutuhan kuliah. Cara
tersebut bisa dengan bekerja atau berwirausaha.
Bekerja dapat membentuk kita menjadi
orang hebat, karena ketika menjadi bawahan, kita akan merasakan bagaiman
rasanya diperintah atasan, bagaiman bertahan dalam tekanan, bagaiman rasanya
dimaki dan dibentak, kita bisa lebih pandai memanajemen waktu, bahkan kita juga
merasakan bagaiman caranya mengejar target. Selanjutnya, apa yang kita dapatkan
selam kita bekerja, bisa kita gunakan untuk berjuang di kehidupan kita yang
sesungguhnya, ketika kita tidak lagi mendapatkan aliran dana dari orang
tua. Tidak hanya itu, pengalaman
tersebut bisa kita jadikan buku kehidupan ketika pada saatnya nanti kita
menjadi pengusahanya. Jika pada saat kita bekerja kita tidak suka dilakukan
secara semena-mena oleh atasan maka kita harus memperlakukan karyawan kita
dengan baik.
Berlatih menjadi wirausaha bisa tidak
harus dengan modal yang besar. Kita bisa melatih diri dengan menjual barang
dagangan yang ringan. Saat berjualan, kita sudah pasti harus berusaha
menawarkan produk kita pada konsumen, dengan demikian secara tidak langsung
kita telah mendorong diri kita untuk mengabaikan rasa gengsi dan malu, dua hal
yang harus kita buang jauh-jauh untuk menadi hebat. banyak cara untuk
berwirausaha, contoh tersebut hanya hal yang paling ringan yang bisa dilakukan
ketika kita masih menjadi seorang pelajar.
2. Melawan
Malas
Selain gengsi dan malu, ada hal lain
yang berbahaya dan harus dibuang, segera. Yaitu rasa malas. Ketiga hal tersebut
adalah hal paling berbahaya yang membuat kita jauh dari pintu garis hebat.
dengan malas kita tidak akan memeperoleh apa-apa kecuali penyesalan. Misalnya
seseorang menawari kita untuk bekerja sama dalam sebuah bisnis. Karena pada
saat itu kita sedang asik tiduran sambil nonton acara TV favorit, maka kita
menolak ajakan tersebut. ketika kita
mendengar kabar bahwa bisnis yang kita tolak tadi mencapai kegemilangan, apakah
kita tidak menyesal?
Maka dari itu, kita harus melawannya, atau
sesegera mungkin bisa membuang atau membunuh rasa malas. Cara yang paling
efektif adalah menjadikan rajin sebagai sebuah kebiasaan.
Kita mulai
dari hal paling awal yang kita lakukan setiap hari, yaitu bangun tidur. Jika
awalnya kita bagun pada jam 5, kita harus mengubah kebiasaan tersebut. mungkin
memang sulit untuk mengubahnya, sebab kita terbiasa melakukan hal tersebut
selama bertahun-tahun. kita bisa memasang alarm pada jam tiga dengan folume
yang bisa membuat kita segera bangun.
Kemudian,
setelah bangun pagi pada pukul 3, bisakan diri kita untuk melakukan kegiatan
prduktif mulai dari kita bangun. Misalnya, salat malam setelah mandi pagi untuk
yang muslim, kemudian membuat sarapan dan bersih-bersih. Setelah semuanya
beres, kita bisa membuat kegiatan produktif lain seperti membaca buku atau
menyimak berita sebelum berangkat kuliah. Pada siang harinya ketika tidak ada
kuliah, kita bisa mencari pekerjaan yang fleksibel.
Jika kita
melakukan hal-hal tersebut secara berlangsung dan istiqomah, maka otak kita
akan menerima hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan atau habit baru. Bukan tidak
mungkin kita akan menjalani hal tersebut sama ringannya dengan tiduran sambil
nonton TV.
Selain kedua hal tersebut, banyak hal
yang dilakukan orang-orang hebat. misalnya 5 Kunci Sukses Ala
Dr. Rhenald Kasali yang kami ambil dari sebuah blog, UCEO
(Universitas Ciputra Entrepreneurship Online), 2013:
1.
Kejar Reputasi dahulu.
Banyak orang yang
memilih menjadi wirausaha karena ia bermimpi menjadi orang kaya.
Sebesar-besarnya gaji yang Anda terima sebagai orang gajian, nasib mungkin saja
akan berubah kalau Anda menjadi bos bagi diri sendiri. Tetapi wirausaha
sesungguhnya tahu persis bahwa mimpi mereka harus realistis, tidak boleh berlebihan.
Mereka yang mengejar order sebesar-besarnya, sikut sana sikut sini, kalau
mengejar modal dari bank feasibility study dibuat semanis mungkin, bukan untuk
menunjukan prospek bisnisnya melainkan untuk meng-gol-kan modal tersebut. Kalau
modal didapat, mobil baru bertambah. Cara berpikir yang salah ini akan membuat
Anda serba salah. Kalau Anda mau menjadi wirausaha sejati ingatlah ini:
Mulailah dengan reputasi. Bagaimana memulainya? Begini, jangan kejar uangnya,
tetapi bangunlah nama baik, keahlian, kepercayaan, kualitas, jaringan dan harga
diri. Begitu Anda dikenal dalam bidang usaha Anda, uang akan datang mengejar
Anda.
2.
Tumbuh dari bawah.
Bisnis yang baik
tidak pernah tiba-tiba besar. Jika ini terjadi, biasanya fondasi bisnisnya
tidak kuat. Pemiliknya atau profesional manager tidak terbiasa mengatasi
persoalan yang muncul pada perjalanan bisnisnya. Jika dari bawah, masa sebelum
menjadi besar bisa dianggap sebagai masa belajar.
3.
Konsentrasi pada bisnis yang dikuasai.
Para Entrepreneur
tersebut memulai bisnisnya dari bidang yang dikuasainya betul. Bidang yang
dikuasai bisa saja berasal dari bangku sekolah, pengalaman kerja, atau cuma
berawal dari sekedar hobi. Saya belum pernah mendengar kisah sukses
entrepreneur yang berada dalam bidang yang tidak ia kuasai sama sekali. Bahkan
penguasaan produk menjadi syarat mutlak untuk maju.
4.
Anti Kerumunan.
Entrepreneur
Indonesia banyak yang latah. Bila melihat orang sukses bisnis kafe, lalu yang
lain ikut-ikutan berbisnis kafe juga. Demikian pula dengan bisnis peternakan
lele, pertanian cabe, foto kopi, biro iklan, media cetak bahkan politisi
membuat parpol tanpa basis massa. Bila dipastikan, hampir semua pengekor ini
tidak memiliki kesuksesan yang lama. Bahkan saat gagal menjadi gunjingan
tetangga dan masyarakat. Tidak jarang pula hutang mereka tidak dapat
dikembalikan. Bisnis yang diawali dengan mengkopi kesuksesan orang lain dan
masuk kekerumunan sangat berbahaya. Dalam kerumunan Anda akan sulit bernafas,
sulit keluar dan kemungkinan babak belur sangat besar. Karenanya, masuklah ke
bidang yang belum disentuh Entrepreneur dan diperhatikan banyak orang. Ketika
Radityawarman Coleman memulai bisnisnya belum banyak yang berpikir bahwa
menguras WC bisa menghasilkan uang yang banyak jika dikelola dengan baik.
Setelah 20 tahun menekuni bidang ini, mungkin ia adalah salah satu pemain
terbesar di bidang ini.
5.
Modal hanyalah pelengkap.
Dalam berbisnis,
modal uang jelas bukan segalanya. Keahlian Anda, jaringan, nama baik,
penguasaan teknologi, pengetahuan mengenai pasar, adalah modal yang sama
pentingnya dengan uang. Orang-orang sukses tidak melulu memulai usahanya dengan
modal bank. Ssaya hampir tak pernah mendengar satu pun bank yang punya policy
memberikan modal uang kepada pengusaha yang tak punya usaha yang jelas sama
sekali. Prinsip permodalan perbankan mengatakan, modal uang hanyalah pelengkap.
Bankir yang cerdik tentu bisa membedakan mana nasabah yang baik dan yang bukan.
Nasabah tidak akan membangun usahanya seratus persen dari modal bank.
D. Hebat Adalah Menjadi Wirausaha
Mengapa hebat harus menjadi wirausaha?
Bukan ilmuwan, professor atau presiden? Wirausaha memiliki kelebihan jika
dibanding dengan jenis profesi hebat lainnya. dengan menjadi wirausaha, berarti
kita tidak mengambil jatah lapangan pekerjaan untuk kita menjadi tenaga kerja,
kita justru memberikan jatah tersebut kepada orang lain, otomatis kita telah
menyelamatkan satu pengangguran. Selain itu wirausaha sukses tentu memilki
karyawan yang bekerja untuknya, dengan demikian kita tidak hanya menolong satu
pengangguran malaiankan beberapa tergantung berapa besar kapasitas perusahaan
kita.
Seorang penemu disebut hebat ketika apa
yang ditemukannya memberikan manfaat. Namun, mereka akan menjadi lebih hebat
jika mereka menjadi pengusaha karena penemuannya tersebut seperti yang
dilakukan Bill Gates. Seandainya dia hanya menemukan Microsoff tanpa menjadikan
penemuannya sebagai produk bisnisnya sendiri, mungkin dia tidak akan menjadi
sekeya sekarang ini. Sederhananya dia hanya akan menjadi seorang tenaga ahli
yang digaji orang lain. Dengan perusahaanya, sekarang dia mampu memperkerjakan
banyak orang, memberikan manfaat pada semua orang yang menggubakan produknya.
Bahakan dia menjadi motivasi sendiri bagi orang-orang yang mau belajar dari
pengalamannya hingga dia mencapai kesuksesan.
Selain itu menjadi wirausaha juga
membanggakan, tidak peduli sebagai pemilik franchise local atau perusahaan
besar mendunia. Dengan memiliki usaha sendiri, orang-orang terdekat akan bahgia
dan bangga. Pasangan akan nyaman karena tidak kawatir adanya PHK, kita bisa
melihat wajah berseri0seri karyawan kita ketika menerima gaji, orang tua kita
pun akan bangga karena anaknya mampu menolong orang lain. Selain itu, anak-anak
kita nanti juga bukan tidak meungkin akan mewarisi hobi berwirausaha kareana lingkungan
wirausaha yang dibentuk dari keluarga wirausaha.
Kepada Negara, selain menciptakan
lapangan pekerjaan, pengusaha juga menyumbang pajak yang tidak sedikit. Yang
natinya pajak tersebut digunakan untuk mebiayai penelitian pada ilmuwan,
menggaji professor, bahkan menggaji presiden. Selain itu, pengusaha hebat akan
menyumbangkan pengasilannya untuk membangun infrastruktur Negara, seperti
jalan, sarana pendidikan maupun sarana kesehatan dll.
SUMBER
Udhaidan al
Salwa, 2012, Jangan Menyerah, Republika,
Jakarta
Ciputra &
tanan, Antonius. 2011. Ciputra Quantum
Leap 2. Jakarta. PT Elek Media Komputindo
Mahendra, Zaini. Belajar
Dari Karakter Hebat Thomas Alva Edison.(online). (http://www.5fakta.com/headlines/963/karakter-hebat-thomas-alva-edison/), diakses 20 April 2014.
Entrepreneurship Education Without
Boundaries. 5 Kunci Sukses Ala Dr. Rhenald Kasali. (online), (http_), Diakses 20 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar