Entahlah, aku tidak pandai menemukan alasan, bahkan aku
mulai tidak mempercayai pendapatku sendiri, kau mungkin bisa menemukan alasanya
lewat kertas ini, sebodoh apapun itu…
Kau tahu, ketika aku membuat keputusan keji dengan memberimu
sesuatu yang menjijikkan seperti yang dilakukan beberapa bandit di belahan
dunia lain yang sesak, di luar dugaan aku mendengar nyanyian burung pipit
membisik atap rumahku, Indah..
Sayang kau tak mendengarnya saat itu..
Yeah, kau benar. Itu mungkin bukan yang pertama. Tapi,
percayalah… itu pertama kalinya aku mendengar, atau memperhatikan? Seorang yang
kacau sepertiku memang sering terjebak dalam benang kusut pemilihan kata,
istilah. Apa kau peduli soal ini? aku ingin tahu jawaban orang cerdas
sepertimu..
Aku tidak lebih dari
preman bergender perempuan, senyumku bukan garis melengkung indah yang
terdamba, aku mengeluarkan gigi-gigi berantakanku seperti seekor simpanse,
seorang yang kasar bukan?
Aku masih sering berjingkrak ketika mendapat kabar gebira,
mengantuk di kelas dan pembenci cerita pengantar tidur kecuali itu Ibuku yang
membacanya, mantan pengunyah permen karet yang kehilangan geraham kesukaanya
sehari sebelum ujian kelulusan SMP,
Aku bukan sutra yang lembut, kulitku adalah teman sempurna
untuk kawanan ngengat, bukan lalat karena aku masih hidup dan belum mengalami
masa pembusukan!
Tentu saja ini hanya kiasan, tapi memang seperti itu, aku
pernah membunuh seekor ngengat yang mengganggu pembungkus lenganku (aku harap,
aku telah mengantar hewan mungil itu ke tempat yang nyaman), penikmat buku, bukan
penikmat buku-buku tentang wanita (buku Aisya, The Greatest Women hanya aku
baca 3 atu 2 lembar saja. Dan kesimpulan konyolku: beliau adalah wanita cerdas,
istri yang taat. Yah, menyimpulkan sesuatu sesuka hati memang sudah menjadi
kebiasaan bodohku)
Dan YAP!! Aku hanya bisa menikmati buku pelajaran tertentu.
Jenis apa wanita sepertiku ini?
Sebuah pengakuan tulus..
Aku adalah pengecut dibalik kepura-puraanku atau sikapku
yang menyebalkan, suka membuat guyonan..
Padamu, melaui tulisan dangkal kesan ini, aku menunjukkan
siapa diriku,
Ketahuilah, aku pengidap alergi keramaian yang berusaha
mengatasinya, seorang tertutup membosankan yang berusaha menjadi pendengar yang
baik “aku rasa aku hampir berhasil, dan telah berhasil dalam versiku
sendiri”,
Barangkali aku adalah seorang gadis yang bercermin pada
kulit kayu pinus, karena aku akan memberimu tahu bahwa aku sendiri sering
menyembunyikan sesuatu pada kata atau kalimat yang ku pilih, pada bahasa wajah
yang ku jadikan bungkus. Bagimana denganmu?
Maafkan aku, aku tidak menggunakan kata bersahaja seperti
anti, afwan, antum, dan lainnya…
(Priaku harus tahu
siapa aku)
Galuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar