Minggu, 10 Februari 2013

untitled



 Is it my fault? Lol to err is relly HUMAN*eh
Lagi-lagi aku yang salah, lagi-lagi aku yang mengalah. atau memang akulah yang bersalah?
Semakin tua zaman semakin miskin akan manusia-manusia yang menyadari kesalahannya, Pengakuan kesalahan dan minta maaf menjadi barang  mahal. Bahkan kini berubah menjadi sumber daya ekonomi, mengapa? Seorang tersangka korupsi yang hendak diperiksa dengan terpaksa menutupi kesalahan rekan korupsinya, begitu dasyatnya kekuatan uang di zaman yang katanya modern ini sampai-sampai lembaran itu mampu membungkam saksi dan menyembunyikan kebenaran.
Eits.. stop dulu gosibnya, lagian hampir nggak ada gunannya bahas korupsi! “Semakin tua dunia semakin gila” yah tidak sepenuhnya pernyataan itu salah, buktinya semakin banyak jumlah kejahatan yang terungkap, dan  itu belum semua kejahatan lhoo, masih banyak yang tidak ataupun belum terungkap. Lebih parahnya lagi kasus kejahatan makin beragam bentuknya, layaknya model Hp kejahatanpun mengalami revolusi. Pikir sendiri deh revolusinya seperti apa (_!!) .
Eh! Dibilangin jangan bergosib! Tema awal kan aku mau curcol (-_-)’ anyways nggak apa-apakan kalau nanti sedikit nyerempet ke arah gosib hahaha(“_v). hari ini bener-bener mentok TOK marahnya ane pada dunia, rasanya dunia lagi ngerjain ane gitu wkw. Tapi nggak boleh kan ya kita mengutuk keadaan seperti ini hehe, harus bersabar dan menjalani itu semua sebagai ujian buat masuk syurga. Tau sendirilah jalan ke syurga penuh dengan jarum, beling, pisau, jurang yang terjal ahh amcem-macem lah, beda sama jalan ke neraka yang dipenuhi dengan kenikmatan. Tapi tetep, kenikmatan dijalan pasti jauh – juauh buanget malah – lebih singkat dari kenikmatan di tempat tujuan (akhirat) hehe sik asik aura lagi berwana putih ni :b. Ih! Kapan curhatnya?? Ngalor ngidul mulu pft. Ok deh ane mulai beneran nih, tapi janji kalian musti simak ya, lebih cakep lagi kalau bersedia ninggalin pesan haha.
Sore tadi aku mencoba berspekulasi dengan suara hati. Entah hasil spekulasiku itu telah terkontaminasi bisikan setan atau murni dari heartlineku sendiri, yang jelas aku benar-benar sakit hati banget sama kalimat yang temankku sore ini tusukkan (‘_v) kejam banget fitnah gue ini. Sampai aku berfikir, bahwa mungkin temanku htu tidak tulus jadi teman, entah karena dia butuh manusia sepertiku (narsis, tendang*) atau kepepet jadi temenku (dari pada nggak punya temen sama sekali).
 Bayangkan, kalau temenmu ngeluarin kalimat yang bikin ati nyesek senyesek-nyeseknya di saat kamu lagi fokus ngerjain tugas yang numpuk and  dikejar death line ( Maklumlah mahasiswa hehe ada tugas kuliah, tugas organisasi dan tugas pribadi tentunya). Alhasil aku ngalah, ngeloyor ke warnet buat download tugas yang sudah dipost sama temen satu kelompokku, cari bahan buat tugas yang lain sekaligus buat netesin air mata tanpa harus ada yang tau. Gengsi lah! Masa iya aku nangis (plak*). Sumpah demi Tuhan, nggak ada niat dari lubuk hati sampai ujung rambutku buat perang dingin sama teman tercintaku itu, nggak peduli dia nganggap aku teman atau apa yang jelas aku sayang sama dia. Cuma kali ini aku benar-benar bertahan buat nggak “minta baikan” lebih dulu. Yah semoga dia sadar amin.
Ini bukan kali pertamanya aku dibuat ingin nangis sama temanku yang satu itu, bahkan lebih sering dia yang bikin aku nangis ketimbang adegan kampungan di film-film romance.. Kejadiannya ketika kita masih semester dua, jadi kita bertiga (aku, dia dan temanku yang satunya lagi) jajan di mini market fakultas, dia lagi haid dan hendak beli pembalut, yah mungkin karena dia malu  harus ngantriin pembalutnya di kasir, jadi dia minta tolong aku buat beliin pembalut itu. Tapi, aku tolak gan, kenapa? Karena menurutku cewek beli pembalut adalah hal yang sangat-sangat wajar, tidak hanya itu aku juga ingin temanku itu mandiri, dan parahnya lagi setan ikut nimbrung kasih ide sesat padaku yang hasilnya aku jadi berfikir “dia nggak mau beli pembalut sendiri karena dia malu, oh berarti dia ingin aman dan memintaku menjadi umpan??” langsung deh, ane bilang ke dia kalau aku “nggak mau” sempat dia memohon tapi tetep aku bilang “nggak mau” tentu dengan bahasa yang aku filter biar nggak menyinggung dia. Tapi usahaku gagal, dia justru bilang “yasudah kalau gitu kita tidak usah temenan!”. Darr!!! Rasanya hatiku sedang dicambuk pake cambuk kuda berlapis api waktu itu, sakit banget. Bayangkan kalimat tajem itu keluar gara-gara pembalut ckckckc. Akhirnya aku nangis, sumpah nggak bisa nahan, nggak peduli siapa saja yang melirik yang penting aku mau keluar dari kantin itu dan nangis!
Itu sudah berlalu, tapi yang ini masih berlanjut, dan aku dicap sebagai antagonisnya huhu kasiani gue :’(. Jadi setelah jam ke-6 selasai, seperti biasa kita pulang. Nah pada saat itu sebenarnya ada rapat organisasi, aku pulang karena aku merasa ada yang bocor *plak (sorry frontal, habisnya nggak mau pusing-pusing buat nyari sinonim yang lebih tepat v__”) nah temanku itu dan yang lainnya ikut, padahal aku nggak ngajak mereka sih. Tapi yasudahlah, so sweet  juga kalau kemana-mana kita “berempat”. kalau aku pikir-pikir perselisishan kita ini berawal dari perutku yang minta segera diisi, karena paginya aku tidak sempat sarapan (maklum malam lembur, pagi muasin tidur *jangan ditiru!). Sejak aku selesai makan, temanku itu sudah mulai nyungut-nyungut minta kita segera balik ke kampus dan mengikuti rapat, karena saat itu aku diamanahi buat menjadi bendahara dan dia sekertarisnya, jadi proposal musti kita yang nangani.
“Cepetlah, kita udah telat rapat ni, proposal sudah ¾ jadi, tinggal anggaran dananya yang kurang dan ini tanggung jawab kamu” begitu sungutnya waktu itu.
“iya-iya sebentar lagi, tak nyuci piring dulu” jawabku polos.
“Yasudah kita berangkat duluan saja” itu miss hibring unyu-unyu yang angkat bicara, mencoba jadi penengah sekaligus freezer di antara kita.
“Nggak maulah, kurang apa lagi aku? Proposal udah jadi, tadi pagi aku bela-belain ke kosnya mbk X buat konsultasiin proposalnya, masak apa-apa musti aku yang ngerjain?” kurang lebih seperti itu jawabnya, nada bicaranya sudah mulai meninggi itu hehe. Adegan itu berbuntut dia nggak mau jawab pertanyaanku, dia nangis, masuk kamarnya dan darr!! Hallo stop blaming me L nyesek gan, tiap ada sengketa mesti ane yang dianggap sebagai peran antagonisnya L ya nasib,, mukaku emang rada-rada antagonis kali ya..
Setelah aku puter otakku ke masa 4 jam yang lalu, nah ni perang dingin awalnya disebabakan oleh teman kelompok “marketing”ku. Jadi kemarin aku bangun agak kesiangan (-.v), terpaksa nggak ngikuti matkul favorit juga terpaksa nggak ketemu dosen favorit (maksa wkwk). Nah ternyata temenku itu juga ada niatan bolos, jadi kita sepakat buat nitip tugas ke teman kita yang beinsial D hehehe.. kebetulan aku nggak punya flash jadi tugas kelompokku aku titipin ke flash temenku itu.. bla bla bla bla.... dan kau tau gan? D ngasih tu flash ke teman kelompokku, alhasil temanku itu nggak ngumpulin tugasnya. Nah tu mulai uring-uringan dia L trouble is really my friend. Samapai-sampai keluar kalimat “kenapa sih kamu nitip tugas di flashku segala?” tahan-tahan.. sumph kalau nggak gengsi, udah netes ni air di mata huhu. Yasudahlah sejak saat itu dia agak gimana gitu.. xixi, aku sih bersikap biasa, tapi ya namanya ujian nggak bisa aku tolak L. Ups kok aku jadi nyalahin teman kelompokku yah.. hihi bukan dialah yang salah, tapi ya miss troublest  ini :b
So ..................... ???
Yang namanya persahabatan musti dijaga, biarpun kita merasa dia yang salah, tetep kalau dia nggak segera sadar dan minta maaf, sedikit kita membuka hati untuk minta  maaf duluan, lupakan segala dendam, emosi dan presepsi buruk tentangnya. Waktu itu auraku lagi berwarna putih, jadi aku berusaha menepis pikiran-pikiran buruk dan segera menjabat tangannya. Aku berusaha menganggap semua itu sebagai ujian persahabatan, setiap ada persengketaan diantara kita, aku selalu berharap “semoga ini persengketaan kita yang terakhir diantara kita, amin”.
Seperti kita yang kadang nggak sadar bahwa kalimat kita ternyata menyakiti, merekapun menganggap apa yang mereka katakan adalah suatu yang wajar. Cara mereka bercanda tentu nggak 100%  sama dengan cara kita. Tingkat menerima dan emosi mereka juga nggak 100% sama dengan kita. Maybe it’s us who are the weird one and we just think we are always right. Freedom is not worth if it doesn’t include the freedom to make mistakes (Mahatma Gandhi). So guys, we should regret our mistakes and learn from them, but never carry them forward into the future with us. Isn’t it nice to think that tommorow is a new day with no mistakes? *Hoolly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar