Is it my fault?
Lol to err is relly HUMAN*eh
Lagi-lagi aku
yang salah, lagi-lagi aku yang mengalah. atau memang akulah yang bersalah?
Semakin tua
zaman semakin miskin akan manusia-manusia yang menyadari kesalahannya,
Pengakuan kesalahan dan minta maaf menjadi barang mahal. Bahkan kini
berubah menjadi sumber daya ekonomi, mengapa? Seorang tersangka korupsi yang
hendak diperiksa dengan terpaksa menutupi kesalahan rekan korupsinya, begitu
dasyatnya kekuatan uang di zaman yang katanya modern ini sampai-sampai lembaran
itu mampu membungkam saksi dan menyembunyikan kebenaran.
Eits.. stop
dulu gosibnya, lagian hampir nggak ada gunannya bahas korupsi! “Semakin tua
dunia semakin gila” yah tidak sepenuhnya pernyataan itu salah, buktinya semakin
banyak jumlah kejahatan yang terungkap, dan itu belum semua kejahatan
lhoo, masih banyak yang tidak ataupun belum terungkap. Lebih parahnya lagi
kasus kejahatan makin beragam bentuknya, layaknya model Hp kejahatanpun
mengalami revolusi. Pikir sendiri deh revolusinya seperti apa (_!!) .
Eh! Dibilangin
jangan bergosib! Tema awal kan aku mau curcol (-_-)’ anyways nggak apa-apakan
kalau nanti sedikit nyerempet ke arah gosib hahaha(“_v). hari ini bener-bener
mentok TOK marahnya ane pada dunia, rasanya dunia lagi ngerjain ane gitu wkw.
Tapi nggak boleh kan ya kita mengutuk keadaan seperti ini hehe, harus bersabar
dan menjalani itu semua sebagai ujian buat masuk syurga. Tau sendirilah jalan
ke syurga penuh dengan jarum, beling, pisau, jurang yang terjal ahh amcem-macem
lah, beda sama jalan ke neraka yang dipenuhi dengan kenikmatan. Tapi tetep,
kenikmatan dijalan pasti jauh – juauh buanget malah – lebih singkat dari
kenikmatan di tempat tujuan (akhirat) hehe sik asik aura lagi berwana putih ni
:b. Ih! Kapan curhatnya?? Ngalor ngidul mulu pft. Ok deh ane mulai beneran nih,
tapi janji kalian musti simak ya, lebih cakep lagi kalau bersedia ninggalin
pesan haha.
Sore tadi aku
mencoba berspekulasi dengan suara hati. Entah hasil spekulasiku itu telah
terkontaminasi bisikan setan atau murni dari heartlineku sendiri, yang
jelas aku benar-benar sakit hati banget sama kalimat yang temankku sore ini
tusukkan (‘_v) kejam banget fitnah gue ini. Sampai aku berfikir, bahwa mungkin
temanku htu tidak tulus jadi teman, entah karena dia butuh manusia sepertiku
(narsis, tendang*) atau kepepet jadi temenku (dari pada nggak punya temen sama
sekali).
Bayangkan,
kalau temenmu ngeluarin kalimat yang bikin ati nyesek senyesek-nyeseknya di
saat kamu lagi fokus ngerjain tugas yang numpuk and dikejar death
line ( Maklumlah mahasiswa hehe ada tugas kuliah, tugas organisasi dan
tugas pribadi tentunya). Alhasil aku ngalah, ngeloyor ke warnet buat download
tugas yang sudah dipost sama temen satu kelompokku, cari bahan buat tugas yang
lain sekaligus buat netesin air mata tanpa harus ada yang tau. Gengsi lah! Masa
iya aku nangis (plak*). Sumpah demi Tuhan, nggak ada niat dari lubuk hati
sampai ujung rambutku buat perang dingin sama teman tercintaku itu, nggak
peduli dia nganggap aku teman atau apa yang jelas aku sayang sama dia. Cuma
kali ini aku benar-benar bertahan buat nggak “minta baikan” lebih dulu. Yah
semoga dia sadar amin.
Ini bukan kali
pertamanya aku dibuat ingin nangis sama temanku yang satu itu, bahkan lebih
sering dia yang bikin aku nangis ketimbang adegan kampungan di film-film romance..
Kejadiannya ketika kita masih semester dua, jadi kita bertiga (aku, dia dan
temanku yang satunya lagi) jajan di mini market fakultas, dia lagi haid dan
hendak beli pembalut, yah mungkin karena dia malu harus ngantriin
pembalutnya di kasir, jadi dia minta tolong aku buat beliin pembalut itu. Tapi,
aku tolak gan, kenapa? Karena menurutku cewek beli pembalut adalah hal yang
sangat-sangat wajar, tidak hanya itu aku juga ingin temanku itu mandiri, dan
parahnya lagi setan ikut nimbrung kasih ide sesat padaku yang hasilnya aku jadi
berfikir “dia nggak mau beli pembalut sendiri karena dia malu, oh berarti dia
ingin aman dan memintaku menjadi umpan??” langsung deh, ane bilang ke dia kalau
aku “nggak mau” sempat dia memohon tapi tetep aku bilang “nggak mau” tentu
dengan bahasa yang aku filter biar nggak menyinggung dia. Tapi usahaku gagal,
dia justru bilang “yasudah kalau gitu kita tidak usah temenan!”. Darr!!!
Rasanya hatiku sedang dicambuk pake cambuk kuda berlapis api waktu itu, sakit
banget. Bayangkan kalimat tajem itu keluar gara-gara pembalut ckckckc. Akhirnya
aku nangis, sumpah nggak bisa nahan, nggak peduli siapa saja yang melirik yang
penting aku mau keluar dari kantin itu dan nangis!
Itu sudah
berlalu, tapi yang ini masih berlanjut, dan aku dicap sebagai antagonisnya huhu
kasiani gue :’(. Jadi setelah jam ke-6 selasai, seperti biasa kita pulang. Nah
pada saat itu sebenarnya ada rapat organisasi, aku pulang karena aku merasa ada
yang bocor *plak (sorry frontal, habisnya nggak mau pusing-pusing buat nyari
sinonim yang lebih tepat v__”) nah temanku itu dan yang lainnya ikut, padahal
aku nggak ngajak mereka sih. Tapi yasudahlah, so sweet juga kalau
kemana-mana kita “berempat”. kalau aku pikir-pikir perselisishan kita ini
berawal dari perutku yang minta segera diisi, karena paginya aku tidak sempat
sarapan (maklum malam lembur, pagi muasin tidur *jangan
ditiru!). Sejak aku selesai makan, temanku itu sudah mulai
nyungut-nyungut minta kita segera balik ke kampus dan mengikuti rapat, karena saat
itu aku diamanahi buat menjadi bendahara dan dia sekertarisnya, jadi proposal
musti kita yang nangani.
“Cepetlah, kita
udah telat rapat ni, proposal sudah ¾ jadi, tinggal anggaran dananya yang
kurang dan ini tanggung jawab kamu” begitu sungutnya waktu itu.
“iya-iya
sebentar lagi, tak nyuci piring dulu” jawabku polos.
“Yasudah kita
berangkat duluan saja” itu miss hibring unyu-unyu yang angkat bicara, mencoba
jadi penengah sekaligus freezer di antara kita.
“Nggak maulah,
kurang apa lagi aku? Proposal udah jadi, tadi pagi aku bela-belain ke kosnya
mbk X buat konsultasiin proposalnya, masak apa-apa musti aku yang ngerjain?”
kurang lebih seperti itu jawabnya, nada bicaranya sudah mulai meninggi itu
hehe. Adegan itu berbuntut dia nggak mau jawab pertanyaanku, dia nangis, masuk
kamarnya dan darr!! Hallo stop blaming me L nyesek gan, tiap ada sengketa mesti ane yang dianggap
sebagai peran antagonisnya L ya nasib,,
mukaku emang rada-rada antagonis kali ya..
Setelah aku puter otakku ke masa 4 jam
yang lalu, nah ni perang dingin awalnya disebabakan oleh teman kelompok “marketing”ku.
Jadi kemarin aku bangun agak kesiangan (-.v), terpaksa nggak ngikuti matkul
favorit juga terpaksa nggak ketemu dosen favorit (maksa wkwk). Nah ternyata
temenku itu juga ada niatan bolos, jadi kita sepakat buat nitip tugas ke teman
kita yang beinsial D hehehe.. kebetulan aku nggak punya flash jadi tugas
kelompokku aku titipin ke flash temenku itu.. bla bla bla bla.... dan kau tau
gan? D ngasih tu flash ke teman kelompokku, alhasil temanku itu nggak ngumpulin
tugasnya. Nah tu mulai uring-uringan dia L trouble is
really my friend. Samapai-sampai keluar kalimat “kenapa sih kamu nitip
tugas di flashku segala?” tahan-tahan.. sumph kalau nggak gengsi, udah netes ni
air di mata huhu. Yasudahlah sejak saat itu dia agak gimana gitu.. xixi, aku
sih bersikap biasa, tapi ya namanya ujian nggak bisa aku tolak L. Ups kok aku jadi nyalahin teman kelompokku yah.. hihi
bukan dialah yang salah, tapi ya miss troublest ini :b
So
..................... ???
Yang namanya
persahabatan musti dijaga, biarpun kita merasa dia yang salah, tetep kalau dia
nggak segera sadar dan minta maaf, sedikit kita membuka hati untuk minta
maaf duluan, lupakan segala dendam, emosi dan presepsi buruk tentangnya. Waktu
itu auraku lagi berwarna putih, jadi aku berusaha menepis pikiran-pikiran buruk
dan segera menjabat tangannya. Aku berusaha menganggap semua itu sebagai ujian
persahabatan, setiap ada persengketaan diantara kita, aku selalu berharap
“semoga ini persengketaan kita yang terakhir diantara kita, amin”.
Seperti kita
yang kadang nggak sadar bahwa kalimat kita ternyata menyakiti, merekapun
menganggap apa yang mereka katakan adalah suatu yang wajar. Cara mereka
bercanda tentu nggak 100% sama dengan cara kita. Tingkat menerima dan
emosi mereka juga nggak 100% sama dengan kita. Maybe it’s us who are the
weird one and we just think we are always right. Freedom is not worth if it
doesn’t include the freedom to make mistakes (Mahatma Gandhi). So guys,
we should regret our mistakes and learn from them, but never carry them forward
into the future with us. Isn’t it nice to think that tommorow is a new day with
no mistakes? *Hoolly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar